29. Di Ujung Kata

7.6K 353 22
                                        

selamat membaca semua dan semoga suka❤️

FOLLOW DULU BOSSS!

RAMEIN KOMEN KALIAN SEBANYAK-BANYAKNYA DI TIAP PARAGRAF🔥

JANGAN LUPA VOTE🔥

───

HAPPY READING

───

29. Di Ujung Kata

•••

Teriknya matahari sore itu menguasai arena pacuan kuda, meninggalkan bayang-bayang panjang di tanah yang berdebu. Arena tersebut biasanya di penuhi dengan tawa riuh penonton, namun kini tampak sepi dan hening. Seolah waktu berhenti hanya untuk enam manusia yang tampak terisolasi dengan dunia mereka sendiri. Empat kuda gagah berdiri diam di sisi arena. Tidak terikat, namun tetap patuh.

Di tribun kayu yang teduh, Ratu dan Permata duduk berdampingan. Dua gadis itu telah mengenakan pakaian berkuda lengkap, tapi mereka hanya duduk diam, membiarkan angin membelai wajah mereka. Sementara itu, keempat laki-laki lainnya tampak sibuk mempersiapkan diri di lintasan.

"Kalian nggak mau ikut juga?" Suara Pangeran melontar di tengah lintasan. Tatapannya menantang, seperti anak kecil yang sudah tidak sabar untuk memainkan mainan barunya.

Ratu mengulas senyuman penuh arti, "Kalian duluan aja. Gue mau ganti sepatu. Kayaknya agak nggak beres," alibinya mengamati sepatunya yang terlihat baik-baik saja.

Raja melangkah maju, mendekati adik kembarnya itu dengan perhatian. "Mau tukeran sepatu sama gue?" tawar Raja spontan, sebuah gestur kecil yang menunjukkan betapa ia selalu memperhatikan gadis itu.

Ratu hanya tertawa kecil, "Ukuran sepatu kita beda, Raja. Lo lupa kalau kaki lo itu kayak dua kali lipat lebih gede dari gue?" tanya Ratu bercanda. "Lagian, gue bawa sepatu cadangan."

"Mau gue ambilin?" tanya Raja sudah berancang-ancang hendak pergi.

Ratu mengangkat kepalanya perlahan. Mata mereka bertemu sesaat, tetapi gadis iru segera menggeleng. "Nggak perlu, Ja. I can take it myself," jawab Ratu dengan suara tenang.

Raja menghela napas singkat sebelum berbicara. "Oke," ujar Raja. "Kalau lo butuh sesuatu, tinggal bilang aja ke penjaga di sini. Biar lo nggak capek mondar-mandir," lanjut Raja dengan tatapan yang mengarah ke beberapa pria bertubuh kekar di pinggir arena, berdiri tegap seperti bayangan yang selalu siap menjalankan perintah.

Ratu hanya mengangguk kecil, senyumnya samar, namun tidak mengatakan apa-apa lagi.

"Oke, cukup basa-basinya. Gue udah nggak sabar, nih!" Tiba-tiba Pangeran memotong pembicaraan antara anak kembar itu. Wajah yang berseri-seri, penuh antusiasme. Dengan lompatan lincah, dia menghampiri kuda cokelat tua yang sudah siap.

Ketiga laki-laki lainnya kini bergerak serempak, masing-masing mendekati kuda pilihan mereka. Suara derap kaki kuda bercampur dengan debu yang mulai berterbangan di udara, menyatu dalam harmoni sore yang sunyi. Sementara itu, di tribun yang teduh, Ratu dan Permata tetap duduk diam. Mata mereka menatap ke arah lintasan di mana para laki-laki itu bersiap memacu kuda mereka.

THE SIXTH [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang