#THE SIXTH SERIES BOOK 1
Kisah ini menceritakan tentang murid-murid genius yang memiliki privilege di sekolah :
1. Sadewa Bagaskara, peringkat pertama. Sang pemilik nilai sempurna. Dingin, tidak tersentuh, misterius dan jenius. Jangan meragukan IQ s...
RAMEINKOMEN KALIAN SEBANYAK-BANYAKNYA DI TIAP PARAGRAF🔥
JANGAN LUPA VOTE🔥
───
HAPPY READING
───
22.Fragmen yang Terlupakan
•••
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mata Rana tidak mampu berpaling dari bangunan megah itu. Rumah milik Raja dan Ratu itu melampaui imajinasinya, menyerupai istana dongeng dengan pilar-pilar tinggi yang kokoh. Jendela-jendela besar berornamen rumit dan taman kecil yang terhampar luas dengan air mancur di tengahnya. Dedaunan hijau berkilauan, memberikan kesan bahwa rumah ini bukan sekadar tempat tinggal, melainkan simbol kemewahan dan kekuasaan.
Ketika langkah pertamanya menapaki lantai marmer, Rana menahan napas. Udara di sekitar terasa di penuhi aura prestise yang tak kasat mata. Matanya di suguhi pemandangan interior yang membuat Rana tertegun. Langit-langit tinggi berhias lampu gantung kristal, dinding berlapis dengan pola elegan, dan barang-barang mahal yang tertata sempurna.
"Welcome to my house," ucap Ratu mengembangkan senyuman manis, seolah menyimpan sesuatu yang sulit di tebak.
Pada akhirnya tetap Rana menyetujui ajakan Ratu untuk meminjam buku milik Ratu yang dia butuhkan demi mengejar ketertinggalan pelajaran selama dia terbaring di rumah sakit. Rana tidak tahu, di balik senyumnya yang anggun itu, Ratu merasa seperti memenangkan sebuah permainan kecil.
Memangnya siapa lagi yang mau membantu Rana? Semua orang di kelas telah mengucilkan gadis itu. Tidak ada yang peduli jika Rana nantinya akan gagal karena nilainya yang tidak lengkap. Bagi mereka, kegagalan Rana adalah hiburan. Justru mereka senang jika ada satu murid tinggal kelas. Berarti beban persaingan mereka berkurang.
Ratu melirik Rana sekilas, "Bukunya ada di ruang belajar gue. Lo mau ikut gue atau tunggu di sini?" tanya Ratu tenang, namun penuh perhitungan di balik kalimatnya, seolah memutuskan sesuatu yang lebih besar dari sekadar memilih tempat menunggu.
Rana tenggelam dalam lamunan dan memeriksa furnitur mewah di ruang tamu itu, tersentak kaget mendengar suara Ratu. Sebuah getaran tidak nyaman muncul dalam dadanya, seolah ada yang menekan-nekan perasaan tidak terucapkan.
"Kayaknya gue tunggu di sini aja," jawab Rana dengan hatinya yang berdesir dengan kecemasan yang tidak terjelaskan.
Rumah ini begitu besar dan megah, terasa begitu asing bagi dirinya. Rasanya seperti berada di dunia yang berbeda, dunia yang tidak dia kenal.