EXTRA PART

10K 380 72
                                        

selamat membaca semua dan semoga suka❤️

FOLLOW DULU BOSSS!

RAMEIN KOMEN KALIAN SEBANYAK-BANYAKNYA DI TIAP PARAGRAF🔥

JANGAN LUPA VOTE🔥

───

HAPPY READING

───

47. EXTRA PART

•••

Rana menduduki bokongnya pada kursi tunggu, menggenggam ujung gaunnya hingga kusut, seperti mencari pegangan di tengah gelombang emosinya yang liar. Rasa gugup, takut, dan cemas bercampur jadi satu, membebani dadanya seperti batu besar. Pandangannya jatuh pada lantai dingin yang memantulkan cahaya redup, tetapi pikirannya melayang jauh ke masa lalu.

Tubuhnya gemetar halus, napasnya tersengal, seolah udara di pusat rehabilitasi ini menipis, meninggalkan hanya rasa sesak dan berat di dadanya. Rana tidak tahu apa yang menunggunya di balik pintu itu. Ketakutan dan harapan bertarung hebat dalam hatinya, menciptakan rasa cemas yang mencekik.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan, hingga akhirnya suara pintu yang terbuka pelan memecah suasana. Rana langsung mendongak. Dari balik pintu itu, muncul sosok Raja. Tubuh lelaki itu jauh lebih kurus di bandingkan terakhir kali ia melihatnya. Rambutnya berantakan, wajahnya tirus, dan kantong mata hitam menghiasi wajahnya seperti bekas pukulan waktu.

Namun, yang paling menyentuh hati Rana adalah tatapan Raja yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Tidak ada lagi kesombongan, tidak ada lagi sikap superior. Yang ada hanya rasa bersalah yang begitu dalam, begitu nyata. 

Laki-laki itu berhenti di ambang pintu, membeku. Matanya langsung bertemu dengan milik Rana, dan tubuhnya tampak kehilangan keseimbangan. Mulutnya bergerak seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak ada suara yang keluar. Ia tampak terkejut, seolah-olah melihat bayangan yang seharusnya tidak ada.

"Na… l-lo… ini beneran lo?" tanya Raja dengan suara yang gemetar. Raja melangkah maju, tetapi tiba-tiba menghentikan dirinya sendiri, menggelengkan kepala berulang kali. "Nggak mungkin. Lo… lo udah mati. Gue sendiri yang lihat… waktu itu lo…" 

Rana berdiri perlahan, menarik napas panjang untuk menguatkan dirinya. Kakinya sedikit gemetar, tetapi ia memaksakan langkah. Ketika akhirnya gadis itu sampai di hadapan Raja, ia melakukan sesuatu yang membuat lelaki itu tidak menyangka.

Rana memeluknya erat. 

Raja tertegun. Tubuhnya kaku seperti patung. Namun, setelah beberapa detik, laki-laki itu mulai membalas pelukan adiknya. Wajahnya yang kusut ia benamkan di bahu Rana, dan air mata yang selama ini ia tahan tumpah begitu saja. Ia menangis, isakannya menggema di lorong yang sepi itu. "Maaf, Na… maafin gue," katanya sambil terisak.

Rana mengusap punggungnya dengan lembut. "Nggak apa-apa," kata Rana pelan dengan tenang, tetapi ada nada lirih yang sulit disembunyikan. 

"Harusnya gue jadi kakak yang bisa nemenin lo saat lo susah, tapi gue malah nyakitin lo," Air mata Raja kian deras membasahi pundak Rana.

"Nggak apa-apa, Raja.."

Raja tiba-tiba melepaskan pelukan itu, menatap adiknya dengan mata basah. "Nggak, Na. Jangan maafin gue!" suaranya mulai meninggi, penuh emosi. "Gue nggak pantas dapat maaf lo.. Gue jahat sama lo, Na. Gue nggak punya muka lagi buat ketemu lo sekarang." 

THE SIXTH [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang