selamat membaca semua dan semoga suka❤️
FOLLOW DULU BOSSS!
RAMEIN KOMEN KALIAN SEBANYAK-BANYAKNYA DI TIAP PARAGRAF🔥
JANGAN LUPA VOTE🔥
───
HAPPY READING
───
37. Intrik Malam Hari
•••
Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat, membiarkan semburat jingga menghiasi langit yang berubah kelam. Udara sore mulai merayap, membawa aroma khas dedaunan yang lembap setelah panasnya siang hari. Di lobi rumah sakit yang lengang, tiga lelaki itu melangkah perlahan, langkah kaki mereka bergema di sepanjang lorong. Suasana terasa sunyi, hanya di iringi bunyi mesin monitor di kamar-kamar pasien yang kadang terdengar samar.
Sepertinya tempat berkumpul SIXTH bukan lagi di apartemen Sadewa yang selalu riuh oleh tawa canda mereka. Kini mereka berpindah ke kamar inap Raja yang menjadi titik temu mereka. Ruang VVIP itu memberi keleluasaan bagi mereka untuk tetap berkumpul tanpa batasan waktu kunjungan.
"Ratu kemana, Sa? Kok dari tadi gue nggak ngeliat dia?" tanya Pangeran menautkan alisnya khawatir. Meski dia tahu Ratu kerap kali pergi tanpa kabar, tetap saja ada rasa tanggung jawab untuk memastikan gadis itu baik-baik saja. Terlebih lagi, saat ini Raja belum bisa beraktivitas seperti biasanya.
Sadewa mengangkat bahu, "Dia izin pulang duluan abis di panggil sama kesiswaan. Tapi, gue nggak tahu dia pulang ke rumah atau ke sini," jawab Sadewa membaca pesan singkat dari Ratu yang hanya berupa informasi seadanya tidak memberikan petunjuk lebih lanjut.
Pangeran dengan raut wajah penuh tanda tanya, menolehkan kepala ke arah Pandawa dengan matanya yang memicing. "Emangnya dia di panggil sama kesiswaan karena masalah apa? Masalah dia di tampar sama Rana?" Nada suara Pangeran menyiratkan rasa penasaran yang mencuat.
Pandawa mengalihkan pandangannya ke lantai, "Bukan," jawabnya begitu pelan, sembari mendongak. Wajahnya datar, namun ada sesuatu di matanya yang membuat atmosfer tegang. "Ratu
di tuduh jadi pelaku pembunuhan ke Rana. Katanya dia yang udah dorong Rana ke kolam sampai sekarat," ucap Pandawa terdengar lebih serius, tapi dengan nada rendah yang terkontrol.
Mata Pangeran seketika membulat lebar dengan ekspresi terkejut yang sulit di kontrol. Tubuhnya membeku, sementara pikirannya berputar liar, mencoba mencerna informasi yang tidak terduga. "Serius? Di tuduh sama siapa?" tanya Pangeran dengan suara yang bergetar, seolah membutuhkan kepastian untuk mempercayainya.
Pandawa menghela napas panjang, "El Jingga," jawabnya singkat namun tegas. Nama itu cukup untuk memicu berbagai macam spekulasi di kepala mereka. "Katanya, mereka semua ada bareng sama Ratu pas dia ngedorong Rana. Tapi, pas CCTV di cek, cuma ada mereka yang disorot CCTV dan nggak ada Ratu di sana."
Lorong yang mereka lewati terasa semakin sunyi. Seakan dunia sekitar berhenti sejenak, membiarkan hanya percakapan mereka yang menggema. Pangeran terdiam sejenak, keningnya berkerut dalam kebingungan. Ratu yang ia kenal dengan segala kelicikan dan juga manipulasi. Rasanya terlalu mudah untuk menuduhnya bersalah.
"Itu serius bukan Ratu yang ngelakuin 'kan?" tanya Pangeran dengan ragu yang mulai menyelimuti kalimatnya. Sejenak, Pangeran merasakan konflik batin yang begitu besar. Di satu sisi, ia tahu Ratu pandai menyembunyikan niat di balik senyumnya. Tapi, di sisi lain, tuduhan seperti ini terasa terlalu kejam untuk di biarkan begitu saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE SIXTH [END]
Novela Juvenil#THE SIXTH SERIES BOOK 1 Kisah ini menceritakan tentang murid-murid genius yang memiliki privilege di sekolah : 1. Sadewa Bagaskara, peringkat pertama. Sang pemilik nilai sempurna. Dingin, tidak tersentuh, misterius dan jenius. Jangan meragukan IQ s...
![THE SIXTH [END]](https://img.wattpad.com/cover/344461477-64-k92143.jpg)