selamat membaca semua dan semoga suka❤️
FOLLOW DULU BOSSS!
RAMEIN KOMEN KALIAN SEBANYAK-BANYAKNYA DI TIAP PARAGRAF🔥
JANGAN LUPA VOTE🔥
───
HAPPY READING
───
18. Batas Perlawanan
•••
Panggilan kepada El Jingga Battari kelas X MIPA A+, Victoria Freeza dan Florencia Kimberley kelas X MIPA A, dan Amora Salvadie kelas X MIPA B, diharapkan menuju Ruang BK sekarang.
Pengumuman itu menggema melalui seluruh penjuru SMA Garuda Bangsa, menciptakan keheningan di setiap sudut sekolah. Suara dari pengeras suara itu bagaikan gema takdir yang tidak terhindarkan, menggetarkan siapa pun yang mendengarnya.
Di setiap kelas, kepala-kepala siswa yang semula tertunduk di balik buku dan layar ponsel terangkat serentak. Suara itu merenggut perhatian paksa, membekukan segala aktivitas yang sedang berlangsung. Lorong-lorong yang sebelumnya di penuhi langkah yang tergesa-gesa kini berubah sunyi, hanya menyisakan desis pelan dari kipas angin yang berputar malas di langit-langit.
Victoria yang sedang mengoles kuteks di kuku panjangnya seketika terdiam. Ujung kuas itu melayang di udara, goyah di antara jemari rampingnya yang kini mengejang. Dalam sejenak Victoria tampak seperti patung marmer dengan tatapan kosong yang terpaku pada meja di depannya.
Mata-mata penuh rasa ingin tahu dan waspada segera tertuju padanya dan Florencia yang duduk di sebelahnya. Bisikan-bisikan tersebar cepat, seperti arus listrik yang tak terlihat, mengalir dari bangku ke bangku.
"Vic, kenapa bisa kita di panggil?" bisik Florencia samar namun sedikit tegang. Ia menegakkan punggungnya, merasakan atmosfer dingin yang menyusup ke tulang belakangnya.
"Gue nggak tau," Victoria menggeram pelan dengan rahangnya mengatup kuat menahan amarah yang mulai membara. Pikirannya melayang pada kejadian sebelumnya, perundungan terhadap Rana. Tidak mungkin ada yang berani melaporkan.
Siapa yang cukup bodoh menantang seorang Victoria Freeza?
Selama seminggu di SMA Garuda Bangsa, Victoria dan teman-temannya sudah cukup banyak menciptakan kekacauan yang tidak terbantahkan. Mereka menghancurkan siapa saja yang di anggap lemah. Ancaman dan kekuasaan menjadi tameng tidak tertembus, membuat siapa pun yang menjadi korban hanya bisa bungkam dalam ketakutan.
"Victoria, Florencia, silahkan kalian keluar dan selesaikan masalah yang sudah kalian perbuat!" Suara tegas guru memecah lamunan Victoria.
Dengan gerakan penuh sikap angkuh, Victoria berdiri dari kursi, membuat bangku itu berdecit tajam. Florencia segera mengekor di belakang dengan langkah berat. Ketika mereka baru saja keluar dari kelas, sebuah pintu di sebelah terbuka yang menampilkan wajah El Jingga dengan cemas. Gadis itu langsung menghampiri mereka.
"Vic, lo serius udah mastiin kalau CCTV aman 'kan?" desak El Jingga dengan sedikit menuntut.
"Seratus persen gue jamin semua CCTV mati total," jawab Victoria dingin, tanpa keraguan sedikit pun dalam suaranya.
"Terus kenapa nama kita di panggil?" El Jingga berdecak frustrasi, memijat pelipisnya khawatir. Bukan soal hukuman, tetapi soal poin prestasi yang menjadi nyawanya untuk tetap bertahan di kelas A+. Dia tidak bisa membiarkan kesalahan sekecil apa pun mencoreng reputasinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE SIXTH [END]
Teen Fiction#THE SIXTH SERIES BOOK 1 Kisah ini menceritakan tentang murid-murid genius yang memiliki privilege di sekolah : 1. Sadewa Bagaskara, peringkat pertama. Sang pemilik nilai sempurna. Dingin, tidak tersentuh, misterius dan jenius. Jangan meragukan IQ s...
![THE SIXTH [END]](https://img.wattpad.com/cover/344461477-64-k92143.jpg)