Setelah malamnya menelpon Nathan, Diva tidak masuk kerja. Nathan merasa ada yang aneh. Karena hingga pagi ini Diva tidak ada kabar. Ia pun memutuskan untuk pergi melihat sendiri keadaan Diva.
Setelah berputar-putar cukup lama mencari alamat kost yang di pernah di ceritakan Diva. Dengan berbekal ingatan dan tanya kesana kemari, akhirnya sampailah Nathan di depan kost yang di tujunya.
Suara ketukan mengaggetkan Diva. Ia takut bila Shayne datang lagi. Ia lalu bergegas mengintip siapa yang datang.
"Nathaaannnn"
Ia sedikit terkejut mendapati Nathan ada disana. Diva ragu untuk membuka pintunya, ia tidak mungkin menemui Nathan dengan wajah penuh lebam."Div...... Diva"
Nathan memanggil.Hati Diva bergetar mendengar panggilan Nathan. Dalam hatinya ia ingin segera berlari dan menemuinya. Tapi tubuhnya begitu berat untuk di gerakan. Bila ia membuka pintu itu dan Nathan melihat kondisinya, apa yang akan di lakukan Nathan. Ini juga akan memperburuk resiko bila Shayne tau Nathan datang, ia akan semakin marah. Di tengah kebingungan, air mata Diva mengalir. Nafasnya tiba-tiba menjadi sesak.
Dan Nathan mendengarnya dari luar, isak tangis itu."Div, buka. Kamu kenapa? "
Nathan kini menggedor pintu dengan keras. Perasaannya makin tidak nyaman mendengar tangisan Diva di balik pintu.Sedikit pintu itu akhirnya terbuka, Diva menunduk diantara sela pintu yang ia buka menyempit itu.
"Aku ngga kenapa-kenapa, kamu pulang ya. Aku mau istirahat"
Ucap Diva lirih, dan berusaha menutupi wajahnya dengan sebagian rambut.Tangan Nathan lebih cepat, ia berusaha membuka pintu itu lebih lebar. Dan reflek menengok ke arah Nathan. Wajah Diva telihat jelas, matanya lebam membiru, hidungnya juga. Dan di sudut bibirnya terluka.
"Div"
Nathan segera meraih wajah Diva dengan kedua tangannya. Menyingkirkan rambut yang menutupi wajah gadis itu. Melihat dengan miris wajah yang biasanya ceria itu berubah menjadi penuh luka dan kesedihan. Mata Nathan berkaca-kaca membayangkan betapa perih sesuatu yang sedang menimpa Diva. Karena ia tahu seberapa banyak alasan Diva tentang luka itu. Kebenarannya adalah seseorang melakukan itu kepada Diva dengan sengaja."Siapa yang mukul kamu div? Bilang sama saya "
Diva hanya menggeleng, menahan tangis dan perih di sekujur tubuhnya. Nathan tentu bisa melihat keadaan kamar Diva yang berantakan, dengan ponsel Diva yang pecah tak beraturan.
Tanpa ada sepatah kata penjelasan, kini Nathan tau bahwa panggilan telepon dari Diva tadi malam mengartikan bahwa ia sedang meminta bantuan."Pergi dari sini, Nath. Aku ngga papa. Cepet "
Perintah Diva yang teringat Shayne bisa kapan saja datang."Ayo kita kerumah sakit"
Nathan mengabaikan ucapan Diva. Ia tentu tidak bisa begitu saja meninggalkan Diva dengan keadaan seperti ini."Nathaaaaannnnn! "
Diva kesal karena Nathan mengabaikan peringatannya. Ia begitu takut bila Nathan terluka karena Shayne. Baru saja ia meneriakan nama Nathan tiba-tiba pandangannya jadi gelap, tubuh Diva terhuyung dan jatuh pingsan.***
Dengan mata yang berat untuk di buka, Diva bisa melihat Nathan tertidur di samping ranjang. Ia bisa merasakan tangannya yang telah tertusuk jarum infus. Hari telah malam, ia bisa melihat gelapnya dari sela-sela jendela yang sebagian sudah di tutup tirai. Diva menghela nafas, rupanya sudah lama ia pingsan batinnya.
Layar ponsel Nathan menyala, sebuah notifikasi pesan tak sengaja di baca Diva."Maaf pak, saya tidak menemukan kalung yang pak Nathan maksud di area cafetaria"
Diva mulai berpikir, dan menemukan jawab atas kalung yang ia temukan di hari pertamanya masuk kantor. Kalung itu milik Nathan.

KAMU SEDANG MEMBACA
Minefiels
Fanfiction"Because I'm not dating my brother's friend" Ucap Diandra segera membuang pandangan untuk menghindari tenggelam dalam tatapan Nathan yang begitu dalam. Namun Nathan tak tinggal diam, ia meraih tangan Diandra untuk untuk tetap dalam kendalinya. Tubuh...