Tangan Nathan begitu berat bahkan untuk menyuap sepotong daging. Ia sebenarnya sudah merasa kenyang hanya karena menelan rasa cemburu.
Begitu juga Diandra yang terlihat tidak nyaman dengan duduknya karena harus berhadapan dengan Nathan. Di dalam ingatannya tentu terpampang jelas bagaimana ia mempermainkan Nathan begitu kejam. Ia belum siap bila harus bertemu lagi. Apalagi bila keadaannya seperti ini.
"Sayang, kamu kenal Nathan kan? "
Tanya Thom santai saat membuka obrolan dalam meja bundar itu yang berisi banyak makanan."Iya, kemarin kan dia sempat nginep dirumah. Iya kan Nath? "
Diandra mencoba interaksi dengan Nathan namun berakhir canggung."Iya, pas nunggu apartemen nya selesai renov"
Ucap Nathan mencuri pandang pada Diandra."Kalo gitu bisa dong holiday farewell buat Lino kita ajak Nathan juga"
Ajak Thom antusias.Mereka memang sedang merencanakan liburan untuk Lino yang berencana melanjutkan studinya di Belanda. Dan sebuah ide tiba-tiba muncul dari Thom yang ingin mengajak Nathan. Tentu saja ucapan Thom itu membuat Nathan dan Diandra menjadi semakin canggung.
"Emang saya boleh ikut? "
Hunter eyes Nathan sengaja mengarah ke Diandra seolah pertanyaan itu di tujukan untuknya. Dan dengan senyum simpulnya Nathan berusaha menantang keberanian Diandra untuk berani menghadapinya. Karena dalam benaknya Nathan masih percaya wanita itu bisa untuk ia miliki."Boleh, kenapa engga"
Enteng Diandra berucap seolah menjawab tantangan Nathan yang memandangnya tajam seolah-olah akan menerkamnya."Okay, kita berangkat lusa yaa. Sebentar ada telpon client"
Ucap Thom yang beranjak dari tempatnya untuk mengangkat telepon.Sekarang disana hanya menyisakan Diandra dan Nathan yang saling pandang. Mereka tentu canggung hanya untuk bertegur sapa. Hingga Diandra memberanikan diri untuk berbicara terlebih dahulu.
"Kita mulai semuanya dari awal yaa"
Ucap Diandra mencoba tenang padahal hatinya berdetak tak karuan. Ia takut reaksi Nathan tidak seperti yang ia harapkannya."Dari awal gimana? Dari awal kita udah tidur bareng"
Nathan mencoba mengingatkan Diandra pada saat merawatnya ketika demam. Namun kalimat Nathan benar-benar ambigu karena memang tujuannya untuk menggoda Diandra."Nathaaaaannnn!! "
Ucap Diandra kesal, tentu saja karena kalimat itu sangat berbahaya bila Thom mendengarnya."Yaaa Di"
"Kak..... Panggil saya kak"
Diandra sedikit membentak."Sayang"
Nathan benar-benar menguji kesabaran Diandra saat itu.
Diandra tau melawan hanya akan membuat Nathan makin tertantang. Maka ia memutuskan untuk berdiri dari tempat duduknya dan berniat ke toilet.Namun tangan Nathan dengan cepat meraih tangan Diandra. Menggenggam meresakan kehangatan itu lagi seperti sudah lama sekali. Diandra hanya diam. Ia tidak berusaha untuk menarik tangannya dari genggaman Nathan. Tapi satu kalimat darinya benar-benar membuat Nathan melepaskan sendiri genggamannya.
"I know maybe you miss me, but Thom is very important to me"
***
Siang itu di cafetaria, The Squad berkumpul di satu meja untuk makan siang bersama-sama. Termasuk Nathan yang duduk di hadapan Lino. Baru saja tadi malam berhadapan dengan kakaknya siang ini harus makan bersama dan berhadapan pula dengan adiknya. Batin Nathan saat itu.
Tentunya itu akan menyenangkan bila saat ini Diandra adalah pacarnya, karena ia akan senang hati menerima Lino sebagai adik ipar.

KAMU SEDANG MEMBACA
Minefiels
Fanfiction"Because I'm not dating my brother's friend" Ucap Diandra segera membuang pandangan untuk menghindari tenggelam dalam tatapan Nathan yang begitu dalam. Namun Nathan tak tinggal diam, ia meraih tangan Diandra untuk untuk tetap dalam kendalinya. Tubuh...