Akey membuka mata perlahan, dilihatnya ruangan yang dia tempati. Kamar besar dan luas dengan berbagai pernak-pernik dan aksesoris yang sangat berlebihan.
Ia turun dari kasur menuju balkon, begitu membuka tirai sinar matahari menyilaukannya. Sinar itu tak menghentikannya dia melihatnya di balik sinar itu ada hamparan taman bunga yang indah.
Ia ingat dengan jelas neneknya Hema sangat suka bunga. Mengingatkannya pada kenangan lama saat membantu neneknya menanam bunga.
Apakah pantas menerima semua kemewahan ini. Sedangkan dia berusa melupakan mereka. Saat dia merasa berhasil melupakan mereka semua ini terjadi.
Pelukan hangat yang sangat ingin di hapus, senyum tulus mereka, dan mata tegar mereka meskipun darah telus mengalir. Melindunginya dari luka dengan pelukan berdarah.
Semua pengorbanan itu berusaha ia lupakan dan balasannya adalah semua kemewahan ini.
Apakah pantas dia menerimanya? Apakah dia berhak?
" dih yang songong, orang putih kaya mah kagak ke pikiran item " Geyo tiba-tiba masuk dan menyindir Akey yang berjemur di balkon.
" dianya gak sadar, ganggu lu "
Geyo cengengesan masuk menghampiri Akey yang masih berdiri di tempatnya.
" gue gak akan biarin bunganya mati " Geyo melihat hamparan bunga indah itu dan melirik Akey.
" hapus pikiran bodohmu, mereka ada di sini mereka bersinar di angkasa, lembut seperti semilir angin, menghangatkan seperti matahari, mereka ada di antara kita, di samping kita, dan... " perkataannya terhenti, jari telunjuknya menunjuk ke dada sebelah kanan di mana tempat hati manusia berada.
" aku tahu " jawab Akey langsung memalingkan wajah membuat Geyo tertawa mengejek.
" oh iya makan yok kata bibi makanannya udah siap "
" duluan "
" bareng, gue mau gendong "
Akey melihat Geyo atas bawah jangan lupa wajah kesalnya.
" abang gendong ". Ucapnya manja.
Akey yang merasa jijik dengan cepat pergi meninggalkan Geyo.
Gleb...
Geyo meloncat dan bergelantungan di bahu Akey.
" turun berat " kesal Akey
" maju " Geyo tidak memedulikan malah semakin menguatkan genggamannya.
" berat "
" maju gooo "
" tolong gue ketempelan " Akey berteriak kesal tapi tidak mampu menurunkan makhluk astral itu.
Suara perdebatan mereka mengisi kesunyian mansion Sercer. Ada yang menggeleng heran, terharu, dan senang. Sekarang mansion terasa lebih hidup meskipun tuan dan nyonya yang sangat mereka sayangi dan hormati telah tiada.
Mereka dengan sepenuh hati akan menjaga dua titipannya Akey dan Geyo tanpa terkecuali. Ini adalah buah yang telah Magon dan Hema tanam. Kebaikan, keramahan, rendah hati, adil, dan kasih sayang, menumbuhkan buah yang di sebut kesetiaan.
Akey masih menggendong Geyo meslipun setengah hati, hitung-hitung balas budi. Geyo yang ada di bahu Akey menempelkan kepalanya lemah membuat Akey heran.
" kenapa lo "
" enggak " Geyo turun dari pundak Akey.
Berlari menuju lift, sesampainya di pintu ia melihat Akey yang masih jauh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Figuran Adu Domba
FantasyGeyo kallarang anak nakal penambah tensi darah yang mukanya kalem tapi kelakuan nauzubillah. Terpaksa menerima nasib sialnya saat menginap di rumah tua. Saat ia pergi ke toilet sendiri banyak hal aneh terjadi buku kusam yang sangat menarik perhatian...
