18

693 51 17
                                        

Saat mereka pulang dari rumah sakit, sudah hampir pukul 10 malam. Setelah memanfaatkan waktu luang di antara setiap pemeriksaan untuk makan malam, mereka tidak merasa lapar.

Force: "Tidurlah, kita akan mengambil foto promosi besok dan syuting akan dimulai lusa."

Namun Book belum siap beristirahat malam itu. Dengan hati-hati, ia memasukkan jari-jarinya di antara celah pintu dan mengingatkan Force, "Dokter Off menyebutkan manfaat bermain game untuk merangsang pemulihan."

"Itu tidak akan terjadi," Force menolak.

Meskipun dia berencana untuk mendekati Book kembali, bukan berarti dia harus menyetujui apapun yang dia minta. Tiga tahun lalu, mereka menghabiskan sebagian besar waktu bersama untuk bermain game. Karena Book tidak bisa tidur setelah bermain, bisa dipastikan dia sangat tegang selama interaksi mereka. Kalau begitu, bagaimana mereka bisa yakin kalau Book tidak bisa tidur karena game, bukan karena dirinya? Yang lebih penting, bagaimana Book bisa merasa aman di dekatnya dengan asumsi yang salah dalam pikirannya? Tidak heran Book masih waspada terhadapnya bahkan setelah kehilangan ingatan. Force bertekad untuk tidak melakukan kesalahan yang sama lagi.

"Aku bisa mematikan efek suara!"

Force: "Tidak."

Penolakan ganda secara efektif mengakhiri pembicaraan mereka. Book menyeret kakinya kembali ke kamar dengan sedih.
"Tidak seru bermain game sendirian. Mengapa dia terus menolak ajakanku? Aku tidak akan meremehkannya bahkan jika dia adalah seorang pemula".

...

Keesokan harinya, Jan secara pribadi datang ke rumah untuk menjemput kedua pemuda itu untuk pemotretan mereka.
"Haruskah kita mengambil asisten untuk khun Kasibook?"

Force sedang menuangkan beberapa teh kurma merah dan goji berry ke dalam termos. Tanpa melihat Jan, dia menjawab dengan nada santai, "Aku saja sudah cukup"

Jan: "..." Kamu menunjuk tiga asisten untuk menjagamu sementara kamu melayani istrimu?! Cara yang luar biasa untuk menghemat uang untuk studio.

Force membuka pintu mobil ke kursi belakang dan menunggu Book naik sebelum menyusul. Seperti orang tua yang mengirim anaknya ke taman kanak-kanak untuk pertama kalinya, dia menerapkan protokol keselamatan, "kita akan pergi ke suatu tempat yang tidak kamu kenal. Cobalah untuk tetap dekat denganku dan jangan berlarian sendirian. Jika ada apa-apa, telepon saja aku lewat ponselku. Jika aku tidak bisa datang, kamu bisa mencari Jan atau asisten yang mana pun. Ponsel mereka menyala 24 jam."

Book: "Baiklah."

Puas, Force membuka jadwal syuting hari itu dan menghafal sepuluh baris dialog sekaligus. Tidak ada yang rumit dalam proses perekaman filmnya. Usai pemotretan, mereka dijadwalkan merekam lagu tema acara bertajuk 《Prelude of Marriage》.

Bernyanyi adalah salah satu yang Book kuasai, Namun, hal yang sama tidak berlaku bagi Force. Banyak aktor di industri ini yang memilih bernyanyi sebagai cara untuk mendiversifikasi karier mereka, tetapi dia bukan salah satunya. Bahkan, sepanjang hidupnya, bisa dihitung jari kapan Force bernyanyi. Meskipun demikian, sebagai investor utama acara tersebut, ia mampu membuka pintu belakang untuk dirinya sendiri. Yang harus ia lakukan hanyalah menjawab Book setiap kali liriknya menyebutkan 'Hubby'.

Force menutup buku jadwal dan menoleh ke Book. "Ayo berlatih."

Book: "Latihan?"

Force menjawab tanpa malu-malu, "Mari kita dengarkan caramu memanggilku suami."

Book: "..."

Force: "Kaulah yang menyarankan kepribadian istri yang pemalu. Dari perilakumu baru-baru ini, sepertinya kamu kurang dalam hal itu. Cobalah memerankan peran itu sekarang, aku akan memberi beberapa saran."

✅[BL] HUBBY after AMNESIA (ForceBook)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang