Dwiko melihat customer langganannya sibuk dengan anaknya masing-masing dikala ia baru saja menyelesaikan tatto di punggung salah satu wanita dari laki-laki yang kini sedang menimang dua anak spesial.
Lèk aku koyoke wes stroke, batin Dwiko.
"Apik gak seh ce?" tanya wanita yang baru saja di tatto di punggungnya.
"Nèk kata ku norak, apik an gambar malaikat koyok punyae Jevano daripada pohon Sakura gitu." jawab wanita cindo yang memakai crop tee sehingga tatto di area bawah perut kemarin terlihat.
"Mimom maw tatto ugha huwaaa," rengek anak kecil yang salah satu matanya bengkak bekas terjatuh.
"No way ra you're kids!" seru anak perempuan yang berada dipangkuan ayahnya-Refal.
"Kata Ayje nanti beli kerupuk yang berhadiah tatto." jawab sang ibu lalu menggendong putrinya yang mulai rewel mengantuk.
"Wih," Panca takjub melihat lima mobil wah di depan barber & tatto shop kakak keduanya. "Super star motong rambut ndekene."
"Ayo babe," kata lelaki berkacamata hitam tengah menggendong putra tidur baru saja masuk ke baber & tatto shop disertai putranya tidur dengan membawa kue.
"Kita duluan Ci, soalnya Rora lagi rewel. Nanti sore ketemuan di MN Paradise ya." ucap sang lelaki diikuti oleh wanita yang sibuk dengan anak perempuannya tengah tantrum.
"Iyo Je ati-ati." balas teman-temannya.
"Anake kembar telu?" tanya Dwiko melihat laki-laki yang baru saja keluar menuntun anak anak laki-laki dan menggendong anak laki-laki sedangkan sang perempuan menggendong anak perempuan.
"Iyo." jawab laki-laki yang memangku putrinya.
"Biyoh, akehe."
"Memang anak mu piro?"
"Sek Single," jawab Dwiko.
"Oalah, wes tuwir gak rabi tah?" tanya Jevano.
"He, koen loh yo duwe anak gak rabi." protes Leona pada Jevano hanya dibalasi cengiran oleh Jevano.
"Dorong onok jodohe." [Belum ada jodohnya] ucap Dwiko lalu menempelkan tatto anak-anak di kaki anak kembar Refal dan Leona, karena dua putra kembar itu ingin memiliki tatto seperti ayahnya.
"Sekalian potong rambut ti?" tanya Leona pada dua putranya itu.
"No." jawab keduanya secara bersamaan.
"Gue ae potong mullet iso po ra?" tawar Jevano.
"Iso lah, apa yang enggak iso buat Dwiko." sahut Panca.
"Sopo awakmu?"
"Panca adike mas Dwiko."
"Oh tak kiro Raffi," ucap Refal kaget dengan bocah remaja laki-laki baru saja datang.
"Lapo rene?" [Ngapain kesini?] tanya Dwiko pada Panca.
"Njalok duek dong." [Minta uang dong.]
Dwiko menunjuk laci didekat kaca potong rambut. "Ambilen nde laci kono," [Ambil aja di laci sana.]
"Muka-muka Raffi matre ancen, mesti sembarang-mbarang njaluk duit nang mase padahal wes dikasih duit sama emaknya kadang."
"Sorry bos guweh yateam piatu."
"Dark jokes anjay."
○●○
Salsabila berjalan kearah rumah sakit tempat putrinya dirawat. Ternyata putrinya muntah-muntah busa bukan karena black magic karena baru saja mabuk bersama Fitri dan Ajeng.
KAMU SEDANG MEMBACA
KAMPOENG KOERAWA
Fanfiction[END] Kampoeng Koerawa-salah satu kampung pemukiman padat dan rata-rata isinya kaum adam berada di dalah satu kota daerah Jawa Timur. Lalu ditengah-tengah kampoeng tersebut terdapat janda muda, cantik, memiliki satu anak, dan menjadi kembang kampoen...
