"Gugurkan anak itu!" Helina memandang tidak percaya pada laki-laki yang berstatus sebagai suaminya itu.
"Tidak, aku tidak akan melakukannya!" Balas Helina.
"Aku tidak ingin memiliki anak darimu!" Ujar Mike, membuat Helina mengigit bibir bawahnya.
"Tidak apa-apa jika kau tidak menginginkan anak ini, tapi ini adalah anakku, dan aku menginginkan anak ini hadir di dalam hidupku!" Helina tidak ingin membunuh anaknya yang tidak tau apa-apa ini.
"Baiklah jika kau tidak ingin menggugurkannya, tapi jangan harap aku akan mengakuinya sebagai anakku!" Balas Mike.
"Tapi ini anakmu, Mike..." Lirih Helina.
"Sudah ku bilang tadi, jika aku tidak menginginkan anak darimu, kan? Kau hanya punya dua pilihan. Gugurkan anak ini, atau dia akan hidup tanpa diakui oleh ayahnya!" Mike memberikan dua pilihan itu.
"Baiklah kalau begitu, aku tidak butuh pengakuan darimu. Lagipula kau juga tidak mengakui ku sebagai istri, bukan? Kalau begitu tidak apa-apa jika kau tidak mengakuinya sebagai anakmu!" Balas Helina.
"Baiklah kalau begitu!" Ujar Mike kemudian berbalik hendak pergi dari sana, namun...
"Tapi kau jangan lupa dengan perjanjian awal sebelum kita menikah. Anak yang ada di kandunganku ini memiliki hak penuh atas semua harta milikku yang saat ini sudah dikelola olehmu! Diakui ataupun tidak, dia tetaplah akan menjadi pewaris tunggal!" Ujar Helina sebelum Mike yang tidak peduli itu pergi dari sana.
🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾
Jam tujuh malam akhirnya Gamaliel membuka matanya, hal yang pertama dia rasakan adalah rasa pusing di kepalanya.
Matanya mengerjap beberapa kali, menyesuaikan dengan cahaya yang masuk ke retina matanya. Setelah beberapa menit dan rasa pusingnya perlahan-lahan hilang, tiba-tiba saja dahinya berkerut.
Bukan merasakan sakit, namun rasa janggal.
"Siapa yang nyalain lampunya?" Gumamnya, walaupun tadi dengan keadaan setengah sadar, dia sangat ingat saat memasuki kamarnya, kamar itu dalam keadaan gelap gulita.
"Laper..." Menepiskan pemikirannya yang tadi, dia sekarang sudah merasa lapar, perutnya keroncongan.
Gamaliel menghembuskan nafasnya dengan kasar sambil mencari di mana letak handphonenya yang sudah lebih dari satu minggu ini tidak dia pegang, dan memandang jam yang saat ini ternyata sudah menunjukkan pukul tujuh malam.
"Pasti bibi-bibi lagi makan malam," gumamnya. Dia masih sangat ingat jika dirinya sudah tidak lagi diperbolehkan untuk makan bersama Daddy dan kakaknya di meja makan, dan pastinya para pelayan sekarang tengah makan bersama para bodyguard, sedangkan sudah tidak ada makanan lainnya, selain makanan ringan di kulkas.
"Apa aku masak aja, ya?" Gamaliel menghembuskan nafasnya kasar, tubuhnya masih merasa lemas. Tapi jika tidak memasak sendiri, maka dia tidak bisa makan.
Di saat-saat yang seperti ini dia jadi berpikir, bahwa lebih enak hidup di rumah sakit. Walaupun makanan-makanan di sana rasanya hambar, tapi dia selalu diberikan makanan walau tanpa melakukan apapun, membuat setiap makanan yang dia makan di rumah sakit terasa enak karena gratis.
Gamaliel terduduk, setelah beberapa saat dia bangun dari tempat tidur dan keluar dengan langkah pelan dari dalam kamarnya.
Dia berjalan menuju ke arah dapur, karena kamarnya berada di belakang, dia tidak perlu lagi repot-repot melewati ruang makan yang di mana di sana ada Daddy dan kakaknya tengah makan malam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Son Of A Murderer (End)
Teen FictionCERITA INI HANYA TERDAPAT DALAM APLIKASI INI. JIKA ADA YANG MENEMUKAN CERITA YANG SERUPA DI APLIKASI LAIN, TOLONG LAPORKAN KEPADA SAYA. Peristiwa masa lalu yang tidak diketahui bagaimana kejelasannya, membuat Gamaliel hidup dengan title ' anak dari...
