Bastian kembali memeluk sang Daddy untuk yang terakhir kali sebelum dia kembali ke mansion, dan sang Daddy kembali ke penjara.
"Ssttt sudah..." Mike mengusap punggung bergetar Bastian. Dia tau dan sangat mengerti sebesar apa luka anaknya ini. Bastian mengatakan padanya bahwa dia kesepian tanpa kehadiran mereka. Anak sulungnya ini selalu menangis karena merindukan masa-masa bahagia mereka dulu.
Apalagi dengan adiknya yang sampai saat ini belum juga diketahui dimana keberadaannya.
Overthinking itu selalu ada dalam hati Mike dan Bastian. Khawatir bahwa kesayangan mereka akan sakit atau terluka di luaran sana, walau kata Rivai anak itu lebih bahagia hidup tanpa mereka.
"Kapan-kapan kalo ada waktu kunjungi Daddy, ya?" Mike mengecup lama dahi putranya. Hal yang sudah sangat lama tidak dia lakukan.
Setiap kali Bastian datang ke penjara, mereka tidak punya banyak waktu untuk bersama karena biasanya Bastian datang pada saat jam makan siang dengan membawakannya makan siang untuk makan bersama. Atau saat sore hari, anaknya juga membawa makanan. Karena dia tau, bahwa makanan di penjara tidak seenak makanan di mansion.
"Daddy pamit, ya! Selamat melanjutkan karir putraku, maafkan daddy karena tidak bisa ada dan membantumu. Daddy malah membebanimu dengan semua pekerjaan ini sekaligus," ucap Mike.
"Maka dari itu Daddy harus cepat bebas!" Ujar Bastian.
"Masih ada sembilan tahun lagi, nak. Dan saat Daddy sudah bebas nanti, pastikan kalau Daddy sudah punya cucu!" Mike mengusap kepala putranya namun Bastian menggeleng pelan.
"Aku belum pernah berpikir sampai kesana, dad." Balas Bastian, bagaimana bisa berpikir sampai ke pacar? Sedangkan hidupnya yang hancur saja masih sementara dia tata, dan masih banyak yang berantakan.
"Nak, berbahagialah..."
🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾
Bastian pulang ke mansion. Dimana hanya dihuni olehnya sebagai pemilik kediaman, beserta ratusan bawahan.
Dia merasa beban di hatinya sedikit terangkat ketika sang Daddy datang ke wisudanya, ketika dia bisa mengabadikan moment lewat foto dengan sang Daddy.
'Andai kamu juga ada dalam frame ini, dek. Pasti akan lebih lengkap dan hangat.' batin Bastian.
'Dek, kamu dimana? Cepatlah pulang...'
Saat dia berjalan di dalam mansion, dia baru menyadari sesuatu yang aneh.
"Kenapa ada garis merah di lantai?" Gumamnya sambil bertanya.
"Pak, kenapa ada garis merah ini di lantai?" Tanya Bastian kepada salah satu pengawal yang ada di sana.
"Tadi beberapa orang yang mengaku sebagai orang-orang utusan tuan muda Gama datang, dan mengatakan bahwa mereka akan mengukur bagian tuan muda Gama di mansion ini!" Jawab pengawal itu.
Senyuman segera terbit di wajah Bastian. Sang adik menyuruh orang untuk mengukur bagiannya di mansion ini? Itu artinya sang adik akan segera pulang. Adiknya akan pulang dan tinggal di mansion ini!
"Seharusnya tidak usah membuat bagian, kita hidup seperti biasa saja. Mansion ini adalah milik kita bersama. Tapi tak apa, yang penting adikku pulang!" Ujar pemuda 22 tahun itu dengan bahagia.
Dia segera naik ke lift dengan perasaan bahagianya, meninggalkan beberapa pekerja di sana yang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Sudah lama mereka tidak melihat senyuman itu di wajah tuan muda mereka.
"Dek, cepatlah... Kakak sangat menantikan kepulanganmu!" Ujar Bastian sambil menatap foto sang adik yang terpajang indah di dinding kamarnya.
Selama satu tahun ini, Bastian selalu berusaha mencari adiknya. Dia sudah memerintahkan suruhannya namun nyatanya Gamaliel sangat pandai bersembunyi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Son Of A Murderer (End)
Teen FictionCERITA INI HANYA TERDAPAT DALAM APLIKASI INI. JIKA ADA YANG MENEMUKAN CERITA YANG SERUPA DI APLIKASI LAIN, TOLONG LAPORKAN KEPADA SAYA. Peristiwa masa lalu yang tidak diketahui bagaimana kejelasannya, membuat Gamaliel hidup dengan title ' anak dari...
