EPILOGUE

2.7K 110 18
                                        

Seorang pemuda jangkung berkulit putih dengan kacamata hitamnya kini berdiri di depan sebuah makam dengan setangkai mawar putih di tangannya.

"Maaf aku baru datang setelah bertahun-tahun," dia berjongkok dan mengusap nisan yang tertulis nama seseorang yang sangat dia kasihi.

"Nyatanya, butuh waktu selama bertahun-tahun untuk menyembuhkan luka itu, mom. Bahkan rasa sakitnya masih terasa sampai sekarang."

Gamaliel Ayhner Demitrius.

Pemuda delapan belas tahun yang waktu itu pergi dari mansion dan menghilang tanpa jejak dari jangkauan kakaknya, kini kembali.

Dia masih Gamaliel yang sama.

Hanya saja penampilannya menjadi sedikit berbeda.

Umur Gamaliel sekarang bukan lagi delapan belas tahun, melainkan dua puluh dua tahun.

Ya!

Memakan waktu lebih dari empat tahun untuk Gamaliel hingga dia benar-benar bisa meyakinkan hatinya. Hingga pada akhirnya dia memilih untuk kembali lagi kesini, ke tempat di mana dia berasal.

Tempat yang menyimpan banyak kenangan baik dan buruknya.

"Gue cari-cari di bandara, ternyata di sini lu!"

Gamaliel memandang ke asal suara, dan tersenyum.

"Vai..."

Dia langsung berdiri dan memeluk sahabatnya itu sudah lebih dari empat tahun semenjak mereka bertemu secara langsung, lebih tepatnya saat Rivai mengantarnya ke Bandara untuk keberangkatannya hari itu.

Rivai memang tidak pernah datang mengunjunginya karena berjaga-jaga, siapa tau Bastian menyuruh orang untuk mengintainya, kan?

"Ayo pulang ke rumah gue! Lo pasti capek, kan?" Titah Rivai, namun Gamaliel tersenyum dan menggelengkan kepalanya.





🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾





"Permisi tuan, ada yang ingin bertemu dengan anda!" Ujar Gino, membuat Bastian langsung menatap kearahnya.

"Siapa?" Tanya Bastian.

"Katanya dia adalah orang utusan tuan muda Gama."

Degh.

Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat mendengar nama itu, bolehkah dia berharap bahwa kali ini adiknya akan kembali?

Tapi dia tidak mau sakit hati lagi saat harapannya ternyata tidak ada hasilnya. Semakin dia berharap, semakin mimpi-mimpi aneh datang padanya setiap malam.

"Suruh masuk!" Ujar Bastian.

"Baik, tuan!" Gino menunduk kemudian keluar dari sana.

Tak lama kemudian seorang pria paruh baya dengan rambut yang sudah agak memutih memasuki ruangan itu.

"Perkenalkan saya Satria Wijaksana. Saya adalah tangan kanan almarhum tuan Keano." Ujar orang itu memperkenalkan diri, Satria Wijaksana, ah... Bastian ingat sekarang.

"Kau adalah CEO dari anak perusahaan yang ada di Vietnam, kan?" Tanya Bastian.

"Iya, saya yang memimpin perusahaan di sana!" Jawab Satria, membuat Bastian mengangguk-anggukkan kepalanya, ternyata orang ini adalah tangan kanan dari kakeknya Gamaliel.

Satria masih berusia dua puluh empat tahun ketika dia bekerja dengan mendiang Keano, kakeknya Gamaliel. Dia awalnya hanya karyawan biasa saja hingga pada akhirnya dia diangkat menjadi sekretaris sekaligus orang kepercayaan Keano.

 Son Of A Murderer (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang