Gamaliel dan Rivai saat ini tengah makan bersama di kantin, karena sahabatnya itu masih dalam masa hukuman, maka Gamaliel lah yang mentraktir makan sahabatnya. Mengingat dulu saat dia susah Rivai selalu membantunya.
"Lagi makan apa, hm?"
Sontak kedua pemuda yang tengah fokus dengan makanan masing-masing itupun terkejut dengan kedatangan Bastian yang tiba-tiba.
"K-ak?" Bastian terkekeh melihat wajah kaget adiknya itu.
"Kakak kok bisa ada di sini?" Tanya Gamaliel, masih memasang wajah terkejutnya.
"Kenapa? Memangnya kakak tidak boleh kesini?" Tanya balik Bastian membuat Gamaliel gelagapan.
"B-bu-kan begitu kak..."
"Lanjutkan makannya," titah Bastian, kemudian Gamaliel melanjutkan acara makannya bersama Rivai.
Bastian memandang wajah sang adik yang makan dari samping, dia tersenyum kecil melihat itu.
Dia baru saja selesai dari kampusnya, karena mengingat akan bosan sendirian di mansion, jadilah dia menyusul sang adik di sekolah ini.
Tidak ada seorangpun yang akan melarangnya kemari, Daddy nya adalah donatur besar di sekolah ini, jadi mana berani para guru maupun kepala sekolah menyenggolnya.
"Kakak tidak ikut pesan makanan juga?" Tanya Rivai sambil melirik ke arah Bastian yang memandang Gamaliel makan.
"Tidak, aku sudah kenyang." Jawab Bastian, dan diangguki oleh Rivai.
🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾
Hari ini adalah weekend, padahal minggu lalu Daddy dan sang kakak sudah berjanji akan mengajaknya ke pulau lagi untuk berlibur akhir pekan.
Namun Gamaliel menolak, karena hari senin sudah mulai ujian akhir sekolah dan dia harus belajar. Dia tidak boleh lagi berleha-leha karena dia harus mendapatkan nilai kelulusan yang baik di ijazahnya.
Daddy dan kakaknya pun sama sekali tidak mengganggunya sama sekali karena dia yang meminta.
Gamaliel menundukkan kepalanya pada meja belajar saat merasakan sakit dikepalanya.
"Dek, kalau nggak bisa, jangan dipaksain otaknya..." Entah sejak kapan ada Bastian di sana, Gamaliel pun tidak tau.
"Istirahat bentar ya? Lanjut lagi nanti malem," bujuk Bastian. Dia sungguh tidak tega dengan adiknya ini.
"Tapi ujiannya udah besok, kak. Gimana kalo nanti aku nggak bisa isi soal-soalnya? Gimana kalau nanti aku nggak lulus karena nilai ku dibawah standar?"
"Ssttt... Berhenti overthinking, dek..." Bastian mengusap lembut kepala sang adik.
"Adek kakak kan hebat, pinter, rajin belajar, pasti bisa dapat nilai yang bagus kok!" Bastian memenangkan sang adik.
"Tapi aku pernah izin selama beberapa bulan, kak. Bagaimana jika hal itu memengaruhi nilai ku?"
"Itu tidak akan terjadi, kamu pasti akan lulus dengan nilai yang baik, dek!" Balas Bastian dengan nada menyemangati.
"Ayo dek!" Bastian menggandeng tangan sang adik keluar dari ruangan itu.
Bastian membawa sang adik ke taman, dimana sudah ada daddy mereka yang menunggu kehadiran anak-anaknya disana.
"Sini sama Daddy!" Mike memanggil kedua putranya agar duduk bersamanya di depan sebuah meja bundar.
"Jangan dipaksakan, Daddy tau kamu bisa!" Mike sangat tidak suka melihat raut tertekan di wajah putra bungsunya tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Son Of A Murderer (End)
Roman pour AdolescentsCERITA INI HANYA TERDAPAT DALAM APLIKASI INI. JIKA ADA YANG MENEMUKAN CERITA YANG SERUPA DI APLIKASI LAIN, TOLONG LAPORKAN KEPADA SAYA. Peristiwa masa lalu yang tidak diketahui bagaimana kejelasannya, membuat Gamaliel hidup dengan title ' anak dari...
