Hari minggu ini Mike mengajak kedua putranya untuk berlibur ke pantai. Sudah dua bulan telah berlalu, namun nyatanya Gian sama sekali tidak menunjukkan pembalasan dendamnya terhadap Mike, maupun kedua anaknya.
Namun walau begitu dia harus tetap waspada dengan selalu mengawasi kedua putranya dan menugaskan para pengawal untuk selalu sigap menjaga keduanya.
Sebagai informasi, Gamaliel sekarang sudah menjadi seorang mahasiswa, loh!
Dia kuliah di universitas yang sama dengan kakaknya, bahkan mereka juga mengambil jurusan yang sama.
Gamaliel benar-benar tidak bisa memikirkan dia harus ambil jurusan apa, jadi dia memilih untuk menuruti Daddynya saja dengan memgambil jurusan bisnis.
Lagipula, dia kan ada menjadi salah satu penerus sang daddy. Kan tidak lucu jika seorang pemimpin perusahaan tidak tau cara berbisnis.
Berbeda dengan kakaknya yang sudah diajarkan bisnis oleh sang daddy sejak kecil, jadi dia harus tekun dalam belajar biar bisa setara dengan sang kakak dan tidak mengecewakan daddynya.
"Dad, aku nggak mau yang ini!" Gamaliel menolak sebiji kelapa yang sudah dilubangi dan diberi sedotan kepadanya.
"Loh, tadi katanya mau kelapa muda," balas sang daddy sambil mengusap rambut hitam putranya.
"Iya tapi aku kan nggak bilang cuman mau minum airnya! Aku bilangnya mau kelapa muda. Artinya sama isinya sekalian dong!" Mike mengerti dengan ucapan putranya.
Dia memandang pelayan itu dan mengkode agar melaksanakan seperti apa yang diinginkan oleh putra bungsunya.
"Dad, kok suasana lagi sepi, ya? Kan ini hari minggu! Biasanya akan sangat banyak pengunjung pantai kalo hari minggu!" Bastian bertanya.
"Eh iya juga ya! Aku baru ngeh!" Timpal Gamaliel, jujur dia baru sadar bahwa di pantai ini hanya ada mereka dan juga para bawahan sang daddy. Lalu tidak ada orang lain lagi.
"Daddy juga nggak tau," jawab Mike yang tentu saja berbohong.
Dia sudah membooking pantai ini untuk menghabiskan waktu bersama kedua putranya tanpa ada orang asing yang bisa mengganggu.
Tadi saja Harvey ingin ikut namun dia tidak mengizinkan keponakannya itu untuk ikut karena dia tidak mau siapapun itu mengacaukan waktunya bersama kedua putranya.
Alya dan suaminya memang sudah kembali menetap di negara ini. Sebenarnya waktu itu Alya dan suaminya pergi ke luar negeri untuk mengurus bisnis mereka yang bermasalah di luar negeri, sekaligus menjenguk ketiga anak mereka. Setelah urusan mereka selesai, Alya meminta kepada mertuanya agar dia membawa kembali anak-anaknya.
Namun walau dia juga merasa kesepian tanpa anak-anaknya, pasti kedua mertuanya juga akan merasa kesepian tanpa cucu-cucunya. Jadilah dia hanya mengajak si kembar untuk berlibur selama beberapa hari, namun dia menahan Harvey, putra bungsunya agar tetap berada di sisinya.
Jujur, hidup tanpa anak di sisinya itu sangatlah terasa berat. Apalagi jika anaknya masih hidup namun tinggal jauh darinya.
"Silahkan dinikmati tuan muda!"
"Terimakasih!" Gamaliel tersenyum sambil menerima semangkuk es kelapa yang diberikan padanya itu.
🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾
"Hati-hati, bisa saja ada benda tajam!" Seru Mike dari pinggiran pantai.
Kedua putranya kini tengah berenang, dia hanya khawatir bisa saja di air ada benda tajam yang bisa menyakiti anaknya, kan?
KAMU SEDANG MEMBACA
Son Of A Murderer (End)
Fiksi RemajaCERITA INI HANYA TERDAPAT DALAM APLIKASI INI. JIKA ADA YANG MENEMUKAN CERITA YANG SERUPA DI APLIKASI LAIN, TOLONG LAPORKAN KEPADA SAYA. Peristiwa masa lalu yang tidak diketahui bagaimana kejelasannya, membuat Gamaliel hidup dengan title ' anak dari...
