Hari-hari berat yang dilalui akhirnya berakhir.
"After undergoing quarantine for the past few days and in accordance with the results of the final examination that we have carried out on the patient, I hereby declare that your son is has recovered from the virus!"
("Setelah menjalani karantina selama beberapa hari terakhir dan sesuai dengan hasil pemeriksaan akhir yang telah kami lakukan terhadap pasien, dengan ini saya nyatakan bahwa putra Anda telah pulih dari virus tersebut!")
Mike tersenyum lebar kemudian berterimakasih kepada dokter karena sudah mengupayakan hingga putranya bisa dinyatakan sembuh.
"Thank you so much doctor, I really don't know how to thank you." (Terimakasih dokter, saya benar-benar tidak tahu bagaimana lagi harus berterimakasih.")
"This is my duty as a doctor, sir!"
("Ini sudah tugas saja sebagai dokter, tuan!") Balas dokter itu sambil tersenyum.
"Can I meet my son?"
("Apakah putra saya sudah bisa ditemui?")
"We will move the patient to a regular ward, then you can meet him!" (Kami akan memindahkan pasien ke ruang rawat biasa, kemudian anda bisa menemuinya!") jawab sang dokter.
🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾
"Daddy bagaimana kakak? Apa kata dokter?" Melihat sang daddy keluar dari ruangan dokter, Gamaliel langsung memberikan pertanyaan.
Mike tersenyum penuh arti, "kakakmu sudah sembuh sayang," jawabnya, membuat Gamaliel tersenyum hangat.
"Ya Tuhan terimakasih..." Ucap Gamaliel, kemudian dia memeluk Daddy nya.
"Apa kita sudah bisa bertemu kakak?" Tanya Gamaliel.
"Kata dokter, kakak akan dipindahkan ke ruang rawat biasa dulu, lalu kita bisa menemuinya," jawab sang daddy, membuat Gamaliel mengangguk mengerti.
"Aku nggak sabar pengen ketemu kakak!" Ujarnya antusias.
"Daddy juga, sayang!" Balas Mike.
Berhari-hari tidak bertemu dengan putra sulungnya membuatnya merindukan anak itu. Bastian seperti pergi ke suatu tempat dan baru kembali. Padahal anak itu jelas-jelas ada didekat mereka. Dia ada di depannya namun tidak bisa digapai karena terhalang pembatas yang memisahkan.
Setelah beberapa saat, seorang perawat menghampiri mereka dan mengatakan bahwa Bastian sudah dipindahkan keruang rawat biasa, membuat sepasang ayah dan anak itu segera menuju ke ruangan Bastian.
Ceklek.
Bastian yang tadinya terduduk di atas brankar dengan selang infus yang tertancap di punggung tangannya segera menoleh ke arah pintu yang terbuka.
"Kakak..." Gamaliel dengan mata berkaca-kaca segera memeluk sang kakak, dan dibalas hangat oleh sang empu.
"Eh, kok nangis?" Tanya Bastian dengan suara seraknya saat merasakan punggung adiknya yang bergetar.
"Kangen..." Lirih Gamaliel.
"Kakak juga kangen sama Liel," balas Bastian sambil mengurai pelukan mereka dan menghapus air mata itu dari pipi sang adik menggunakan tangannya.
"Sudah hm, kakak sudah sembuh. Kita bisa bersama sepanjang waktu!" Bastian memenangkan adiknya yang menatapnya dengan tatapan sendu. Mike datang mendekat, kemudian bergantian memeluk Bastian.
"Bagaimana perasaanmu sekarang, hm? Ada yang sakit?" Tanya Mike.
"Aku sudah baik-baik saja, dad!" Jawab Bastian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Son Of A Murderer (End)
Roman pour AdolescentsCERITA INI HANYA TERDAPAT DALAM APLIKASI INI. JIKA ADA YANG MENEMUKAN CERITA YANG SERUPA DI APLIKASI LAIN, TOLONG LAPORKAN KEPADA SAYA. Peristiwa masa lalu yang tidak diketahui bagaimana kejelasannya, membuat Gamaliel hidup dengan title ' anak dari...
