"Semuanya akibat kelalaian saya. Sebelum menjadi pemimpin grup, saya adalah seorang ibu dan anak saya telah menimbulkan kontroversi sosial. Untuk itu, saya minta maaf. Meski begitu, rekaman ilegal yang beredar jelas merupakan pelanggaran hukum. Karena itu, kami akan mengambil langkah hukum."
Kasus mengenai kehamilan Jae-i yang disebabkan oleh Rian telah menyebar di media sosial. Bukan hanya itu saja, perundungan di SMA Jooshin, berita tentang kehamilan Arin dan juga gadis itu yang pernah melahirkan, serta kehadiran seseorang yang selama ini disembunyikan oleh Hyewon. Kepala wanita itu sudah penuh, entah bagaimana dia bisa menyelesaikannya satu persatu. Namun, yang jelas sekarang ia tidak mengetahui jika ada seseorang yang menghubunginya tanpa perantara asisten pribadinya.
Pun sama halnya dengan Rian, langkah pemuda itu terlihat mantap memasuki ruang dimana teman-temannya tengah disidang. Ponselnya ia atur ke dalam mode hening dan tak tahu jika Yeongsu mengirimnya belasan pesan spam.
Yeongsu mulai kehilangan harapan, kini dirinya dilanda kebingungan. Ia menunduk, menatap kedua tangannya yang penuh dengan darah Arin, begitu pun baju yang dikenakannya.
Dokter yang menangani Arin keluar dari ruangan, ada sebuah harapan yang terpancar di matanya. Yeongsu ingin mendengar kabar baik perihal kondisi keponakan tersayangnya, meski terdengar mustahil jika dokter mengatakan bahwa itu hanyalah cedera ringan. Namun, apa yang diharapkan Yeongsu justru sebaliknya, bukan hal baik yang terucap, melainkan suatu hal yang sebaliknya membuat kedua lututnya melemas.
"Samchon, jika seandainya aku pergi ke tempat yang jauh, apakah ada seseorang yang akan merindukan aku?"
"Beberapa kali aku bermimpi, ada anak kecil memanggilku dengan sebutan 'eomma' dan mengajakku bermain bersama."
Isakan terdengar pilu di telinga siapapun yang mendengarnya. Yeongsu menangis keras sambil mendekap tubuh yang ditutup dengan selimut putih dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tak ada yang bisa menghentikan tangisannya meski dadanya sudah terasa sangat sesak.
• • •
Hyewon baru saja tiba di rumahnya, ia langsung terkejut begitu salah satu pelayannya mengatakan jika suaminya datang satu jam yang lalu. Sepasang tungkainya melangkah menuju tempat dimana suaminya berada. Kenop pintu ia buka, tatapannya langsung jatuh pada Rian yang berdiri di depan lelaki dewasa yang sedang membuka sebuah album berwarna biru.
Mendengar suara langkah kaki mendekat, kepala Rian mendongak, ia menatap ibunya yang terlihat bingung dengan situasi yang sedang terjadi.
"Aku akan membawanya untuk ikut bersamaku." Rian mengalihkan pandangannya, kepalanya menggeleng kuat, tak setuju dengan keputusan ayahnya.
"Setelah selama ini kau mengabaikannya, tiba-tiba kau datang ingin merebutnya dariku?" Hening sesaat, Tuan Kim menyodorkan album di tangannya membuat kening Hyewon berkerut bingung.
"Sejauh mana kau mengenal Kim Arin dan Kim Rian?" tanya lelaki itu ketika Hyewon menatap foto seorang bayi perempuan tanpa berkedip.
Kedua tangan Tuan Kim dimasukkan ke dalam saku, ia berusaha untuk tetap tenang meski rasanya ingin sekali ia membalas atas apa yang telah Arin terima selama ini. "Anak itu adalah putri kecilnya. Aku adalah saksi betapa hebatnya dia menyimpan semuanya sendiri."
"Kang Inhan? Apakah dia?" tebak Hyewon dibalas senyum miring oleh lelaki di hadapannya.
"Kalian selalu merendahkannya hanya karena dia bukan berasal dari keluarga kaya."
Hening sesaat sebelum Tuan Kim menceritakan apa yang telah dijalani oleh Kim Arin selama ini.
"Sebelum kau membuangnya ke Kanada, dia telah diperkosa oleh laki-laki yang terobsesi padanya, laki-laki itu adalah teman Rian. Awalnya aku menyuruhnya untuk menggugurkan kandungannya, tetapi dia bilang kalau anak itu tidak bersalah dan dia tetap mempertahankannya. Di saat kau berusaha untuk terlihat baik dan melindungi Rian, kau lupa jika kau memiliki seorang putri yang jauh di negeri orang.
Yeongsu menemaninya, dia selalu menghibur dan menemani saat Arin merasa jenuh atau berada di titik terendahnya. Inhan menjadi alasannya untuk tetap berjuang meski ia tahu orang-orang mungkin akan mengucilkannya.
Anak itu terlahir sebelum waktunya, darah mengalir deras saat ia tahu Inhan meninggal. Saat itu, Yeongsu sudah kembali ke Korea, dia sendiri di sana melawan rasa sakit tanpa ada satupun orang yang mendengarnya."
Tuan Kim menjeda kalimatnya, ia mengambil napasnya panjang, sorot matanya lurus ke arah Hyewon yang berdiri di sebelah Rian. "Kalian yang membuatnya seperti ini. Kalian yang menyebabkan dia mengalami gangguan kecemasan dan halusinasi. Jika seandainya kalian tak hanya diam ketika Inhan dirundung, dia masih ada di sini bersamanya."
"Maksud Ayah?"
Tatapan Tuan Kim tertuju pada Rian yang bertanya. "Tidakkah kalian berpikir, mengapa aku berada di sini?" Rian terdiam, kepalanya kembali tertunduk.
"Kim Arin, dia memilih untuk tetap bersama Inhan dan putri kecilnya." Tuan Kim mengambil secara kasar album di tangan Hyewon, tungkainya melangkah pergi tanpa tahu ada selembar foto yang jatuh di sebelah Rian.
Berbeda dengan ibunya yang masih diam di tempatnya, Rian beranjak setelah menghubungi Woojin untuk bertemu dengannya malam ini.
• • •
Bugh!
"Sial!"
Bugh!
"Bukan seperti ini yang kumau, Berengsek!"
Bugh!
"Kim Rian!" Hera berseru memanggil namanya, ia menarik Rian menjauh dari tubuh Woojin yang sudah babak belur dibantu Jae-i yang datang bersamanya.
Air mata meluncur bebas tanpa diperintah. Rian tak kunjung melunakkan tatapannya meski pipinya sudah dibanjiri cairan bening dari pelupuk matanya. "Sial," umpatnya lagi kini disertai isakan membuat ketiga temannya itu bingung.
"Kau membunuhnya, Lee Woojin, kau pembunuh."
"Hei, Kim Rian. Apa maksudmu?" tanya Hera setelah mendengar tuduhan sang pemilik nama yang ia sebut.
Mengusap kasar pipinya yang basah, Rian pun berucap, "Apa yang kau lakukan pada Arin sebelum healing forest tahun lalu? Aku mengizinkanmu untuk dekat dengannya, bukan berarti aku membiarkanmu memperkosanya."
Tangan Rian terkepal kuat, ia tidak peduli dengan raut terkejut Jae-i, Hera, dan Woojin yang pada akhirnya ketahuan mengenai rahasia yang selama ini ia simpan sendiri. "Kau tahu? Dia dikirim ke Kanada bukan untuk pertukaran pelajar, tetapi dia dibuang karena dia hamil, aku bahkan tak mengetahuinya jika dia sedang mengandung."
"Anak itu sempat merasakan betapa memuakkannya dunia ini sebelum akhirnya meninggal. Kau tahu apa penyebabnya? Karena dia terlahir sebelum waktunya, karena Arin tahu berita kematian Kang Inhan."
Tamat
Iya, emang ngegantung hehe
Btw aku mau bikin cerita pake cast nya visualnya Kim Mooyul deh :(
KAMU SEDANG MEMBACA
Hierarchy
Fanfiction"Aku akan mengungkap semuanya, semua kebusukan yang ada di sini. Dan aku siap menanggung konsekuensinya, entah itu diasingkan atau kehilangan nyawa." Karya asli milik: Chu Hyemi
