Isakan yang begitu pilu memenuhi kamar bernuansa biru dan hijau tanpa pemilik itu. Di atas tempat tidur yang tak lagi hangat, Rian menangis setelah melihat foto yang dikirimkan oleh Yeongsu.
Sudah tiga bulan setelah kematian Arin, sudah tiga bulan pula Rian menyesali perbuatannya di masa lalu, dan sudah selama itu juga ia memutuskan komunikasi bersama Woojin.
Satu foto...
Dua foto...
Hingga lima foto yang dikirim membuat rasa bersalah menyelimuti hatinya.
Rian tidak tahu jika Arin akan sebahagia itu jika bersama Inhan. Rian tidak tahu jika Inhan setulus itu berteman dengan kakak kembarnya. Rian tidak pernah melihat binar mata secerah matahari di mata Arin saat bersamanya. Rian tak pernah merasakan dekapan hangat yang penuh kebahagiaan dari sosok yang selama ini ia kira tidak memedulikannya. Rian tak pernah mengerti sedalam apa perasaan yang Inhan berikan untuk Kim Arin.
Paman Yeongsu
|Kau mungkin jarang melihatnya tersenyum
|Kau mungkin tak pernah mendengar suara tawanya
|Kau mungkin tak melihat betapa hebatnya dia untuk bertahan
|Aku tau kau ada di sana, hanya diam memperhatikan Inhan yang selalu dirundung
|Atau mungkin kau juga tau siapa pelaku yang telah membunuh Inhan meskipun dia tak sengaja
|Seharusnya kau bersuara
|Seharusnya kau membuka mata
|Arin tau jika kau memiliki hubungan dengan penerus Jaeyul
|Kim Arin tau jika Inhan menaruh perasaan pada Jung Jae-i tetapi dia hanya diam
|Hiduplah dengan penuh rasa bersalah agar kau mengerti arti kehidupan yang sesungguhnya, Kim Rian
Niatnya aku mau bikin cerita kayak Squid Game gitu tapi pake cast anak-anak ZB1 sama Aespa sama OC. Siapa yang berminat? Cung!
KAMU SEDANG MEMBACA
Hierarchy
Fanfiction"Aku akan mengungkap semuanya, semua kebusukan yang ada di sini. Dan aku siap menanggung konsekuensinya, entah itu diasingkan atau kehilangan nyawa." Karya asli milik: Chu Hyemi
