Bab Duapuluh Empat [END]

118 5 0
                                        

Selama menjalani pengobatan mental Dawai, perlahan Nara mulai terbiasa meninggalkan dunia kelamnya. Dia temani Dawai mengobrol sekarang. Dia memasakkan makanan-makanan kesukaan Dawai sekarang. Lagi pula, yang dia punya memang hanya Dawai.

"Mama mau jenguk Baran besok, Wai. Ikut?"

"Boleh. Tunggu aku pulang sekolah, ya, Ma," kata Dawai sebelum Nara turun dari motornya. "Mm, Ma. Kalau kita pindah rumah dan tinggal berdua, Ayah sendirian, ya?"

"Iya, setidaknya sampai Baran dibebasin. Memang kenapa, Wai?"

Dawai menggeleng. "Kasihan aja. Tapi, kita pergi kalau Mama udah mantep nggak kerja jadi PSK lagi, kan? Belum ada rencana dalam waktu dekat ini, ya? Soalnya, aku udah nemu rumah kavlingan gitu, lumayan murah cicilannya, dan deket sama rumah Ayah."

Cerocosan antusias Dawai barusan justru membuat Nara meneteskan sebulir air matanya—ternyata seingin ini Dawai hanya untuk hidup bersamanya.

"Ma? Loh, kok malah nangis?"

Nara makin terisak, sehingga Dawai putuskan untuk turun dari motor dan menyeka air mata ibunya. Wanita itu kemudian mencicit, "Maafin Mama, ya, Wai. Mama banyak salah sama kamu. Mama harusnya nggak menyengsarakan kamu kalau mau kamu hadir sebagai anak Mama. Mama udah jadi pelacur, nggak pernah merhatiin dan meduliin kamu. Mama bejat. Nggak papa kalau kamu nggak mau maafin Mama. Mama, Mama, Mama nyesel dan mau berhenti. Mama baru sadar setelah kamu menanggung beban seberat ini sendirian. Kamu pasti malu punya Mama seperti Mama. Sampai-sampai mental kamu jadi begini sekarang."

Dawai tidak membalas, tapi dia merengkuh badan langsing ibunya erat. Dia biarkan tangisan itu membasahi bajunya asal ada kelegaan di sana.

"Makasih Mama udah mau berhenti. Makasih Mama udah mau anggep aku sebagai anak Mama."

Kemudian, Dawai turut terhanyut. Dia malah menangis lebih keras dari Nara. Setidaknya, ini luapan bahagia karena Nara mau bebas dari dunia itu.

***

Sesuai janji mereka semalam, Nara dan Dawai sampai di lapas. Kini, sedang menunggu Baran untuk menemui mereka. Tak lama, Baran diantar seorang petugas. Pemuda sipit itu akhirnya duduk di hadapan Nara dan Dawai, lalu memperhatikan rantang tiga susun yang sudah diisi lauk-pauk di atas meja itu.

"Ayah nggak ikut?"

"Ayah masih kerja, Kak."

Baran mengangguk, tidak mencecar lebih lanjut.

"Bar. Ayo, dimakan dulu. Kamu pasti kangen masakan rumah. Di sini aman, kan? Kamu baik-baik aja, kan?"

Berundungan Nara itu sekali lagi hanya Baran balas dengan anggukan. Lantas, dia meraih sendok yang disodorkan padanya dan mulai mencicip satu demi satu makanan buatan Nara.

"Kak. Kakak nggak dijahatin sama tahanan lain, kan? Kakak harus jaga kesehatan, ya. Dibawa enjoy aja."

Kini, tatapan Baran mengarah pada Dawai. Dia amati wajah adik tak sedarahnya itu lamat-lamat. "Ken sama temen-temen gue yang lain kemarin lusa juga abis dari sini. Kata Ken, lo ada masalah mental. Gimana sekarang? Udah mendingan?"

Dawai tersenyum. Ternyata sebegini dipedulikan oleh orang yang disayang sangat berarti baginya. "Udah, Kak. Yah, lumayan. Aku udah bisa kontrol emosi dan nggak lagi ngerasa pusing berlebih. Aku mungkin juga udah nggak sehalu dulu."

Dalam sekejap, Baran berhenti mengunyah. Dia saksikan sosok Dawai yang jauh lebih ceria. "Kata Ken juga, lo ada rasa sama adeknya. Yang kapan hari ke rumah, kan? Cantik, tuh. Kenapa nggak lo pacarin aja?"

"Apaan, sih, Kak? Aku belum fokus ke sana."

Kemudian, obrolan mereka bergulir. Keakraban ketiganya mendadak tampak seperti keluarga utuh—yang lengkap dihuni ibu dan dua anaknya. Mereka seperti sedang bercengkrama hangat di meja makan, menunggu sang suami sekaligus sang ayah pulang ke rumah.

Aphelion [✓]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang