Di atas panggung, Dawai dan Karin benar-benar melenyapkan kegugupan mereka. Ini sudah adegan terakhir, itu berarti pentas teater mereka akan segera usai. Tanpa menoleh ke arah bangku penonton, Dawai menggenggam kedua tangan Karin, lantas mendaratkan kecupan, yang seakan abadi, yang seolah kekal, di sana. Dialog pamungkas yang sudah sama-sama menggantung di tenggorokan pun siap diluncurkan.
"Jangan pikirkan kata orang. Jangan terpengaruh ejekan orang. Jika takdir menjadikanmu pilihanku, maka aku bersedia memilihmu sampai selamanya."
Karin tersipu, begitu kalimat Dawai selesai, laki-laki itu pun mendekat padanya, lantas ganti mengecup keningnya.
Levra sempat memalingkan wajah, entah mengapa chemistry Dawai dan Karin agak mengganggunya. Ternyata, Zao juga demikian, bedanya dia tetap fokus pada ending yang disuguhkan Dawai dan Karin.
Kemudian, seisi studio terang benderang, lampu menyorot ke panggung bersamaan dengan Dawai dan Karin, juga jajaran pemeran lain yang sudah membungkukkan badan mereka. Sehingga penonton pun bertepuk tangan, bersorak sorai, dan beberapa juga terang-terangan memuji akting mereka semua, terakhir tirai tertutup dan telah menyembunyikan tim teater yang baru saja menyelesaikan kompetisi.
"Wow," Zao tak berhenti terpukau, ia menggeleng berkali-kali, "Keren banget ngga, sih, klub drama SMAN 88?"
Levra setuju dengan komentar Zao, jadi dia tak keberatan menyungging satu senyuman.
"Sumpah," Zao masih mengagumi tanpa basa-basi lagi, "Ken bener-bener berhasil nge-lead anggotanya sampe ada masterpiece gitu."
Levra pun akhirnya menimpali, "Akting nangis Dawai tadi berasa nyata, ya."
Ya, mana mungkin mereka melupakan adegan paling ikonik di sepanjang pertunjukan tadi—Dawai meluruhkan air matanya, tanpa kesulitan, dan sangat menghayati. Entah dia memikirkan apa sampai-sampai bisa semudah itu larut dalam emosi sekaligus terjun dalam karakter.
Penampilan dari perwakilan SMAN 88 pun resmi selesai, sehingga Levra dan Zao juga bersiap untuk pulang.
***
Beberapa hari ini, Dawai memang tidak mengabari apa-apa kepada ibunya. Ia sengaja menyibukkan diri dengan kompetisi teater dan setelah semua itu berakhir apalagi begitu timnya dinobatkan sebagai juara ke-dua, dia merasa perlu membagi momen menyenangkan ini dengan Nara.
"Halo, Ma? Mama di toko?"
Suara serak di seberang sana seketika berubah girang, ["Dawai? Ya ampun, Nak. Kamu ngga papa? Sibuk sekolah, kah? Kenapa baru ngabarin Mama?"]
"Sori, Ma. Aku emang sibuk latian lomba drama kemaren, terus abis gini juga nyiapin UTS," Dawai menjelaskan serupa alasan, "Mama belum jawab pertanyaanku. Mama di toko? Ngga sakit?"
Ada gumaman yang terdengar ragu, sehingga ada kesimpulan yang juga bisa sekalian ditarik, ["Uh, Mama lagi di luar. Mama sehat, kok. Kamu juga, kan? Kalo gitu, belajar yang bener, ya. Biar nilainya bagus. Mama ngga nuntut—"]
"—Ma, tadinya aku mau bilang kalo tim teater aku dapet juara dua, tapi Mama kayanya lagi sibuk ngelayanin pelanggan, ya?"
Dawai terang-terangan menembak tepat sasaran, Nara pasti tahu penekanan dalam kata 'pelanggan' yang dia maksud itu bukan pelanggan toko, melainkan pelanggan tak beradab. Ketika dia membaringkan diri di kasur, ternyata ada sebulir air mata yang tak bisa ditahan sudah jatuh ke bantal, padahal dia sudah menghabiskan stok air matanya untuk adegan menangis tadi.
["Wai—"]
"—ya udah, Ma. Aku lanjut belajar, deh. Lagian, seharian ini aku juga capek banget."
["Wai—"]
KAMU SEDANG MEMBACA
Aphelion [✓]
Novela JuvenilJika pengidap Pistanthrophobia harus dipertemukan dengan pengidap Psikosis, apakah keduanya bisa menyatu sedekat manusia dan kematian? Tentu tidak ada yang bisa menjamin selain Dawai dan Levra, sebab hanya mereka yang bisa memangkas bentang jarak it...
![Aphelion [✓]](https://img.wattpad.com/cover/319227151-64-k293435.jpg)