Jendela kaca itu mulai berkabut. Udara dalam ruang tertutup itu pun makin dingin. Namun, Bible masih setia memandangi putra kecilnya yang terlelap. Alunan napas halus itu menenangkannya. Memberi isyarat bahwa pangeran kecilnya tidur dengan lelap.
Di kepalanya masih terekam jelas suara Job yang menjelaskan kecurigaannya tentang keterlibatan mantan istrinya dengan penyerangan yang dialami Build.
Sialnya, itu cukup masuk akal.
Bible ingin menolaknya. Menolak fakta bahwa ada kemungkinan itu terjadi. Namun, di sudut hatinya masih penuh tanya.
'Mengapa?'
'Apa yang mantan istrinya harapkan?'
Hubungan mereka kandas karena kesepakatan keduanya. Bahkan, hubungan itu tak pernah benar-benar ada. Hanya semu. Hanya kedok.
'Lalu, mengapa?'
Jika ini tentang anak mereka, itu tak seperti Bible pernah sedikit pun berusaha memisahkan putra mereka dengan ibunya.
'Lalu, ini tentang apa?'
Rasa ngilu tiba-tiba hadir di dadanya. Melesak begitu saja.
Andai mantan istrinya itu tau, Build bahkan menolak kehadirannya. Sama halnya seperti yang mantan istrinya pernah lakukan padanya dulu.
.
.
.
###
"Lalu, bagaimana? Apa rencanamu sekarang?" Apo menyesap es kopinya. Melirik Build sekilas, kemudian kembali fokus pada es kopinya.
"Entahlah. Apa bisa aku kembali hidup normal saja?" Build membuang napasnya keras. Sekeras hidup yang harus dia jalani.
"Hahaha, lucu," Apo tertawa kering. Menertawakan Build juga dirinya sendiri. "Apakah hidup kita benar-benar pernah normal?"
"Hah. Sial. Kau benar," Build mengusap wajahnya yang masih penuh luka itu dengan kasar.
"Kali ini aku mendukung bosmu. Setidaknya, hanya dia yang benar-benar bisa melindungimu dan nenek saat ini. Kita belum tau benar siapa di balik penyeranganmu. Tidak ada salahnya berlindung di bawah penjagaan bosmu. Kan?" Apo yang bicara panjang lebar, tapi dia juga yang ragu. Jauh di lubuk hatinya, dia tidak menyukai bos roommate-nya. Namun, Apo tak ada pilihan. Dia tau bahwa dia tidak bisa melindungi roommate-nya saat ini.
Duduk di seberangnya, Build sama saja. Ragu dalam pikirannya sendiri. Sempat terlintas di benaknya, 'Bagaimana jika penyerangan itu terjadi justru karna bosnya?'
Seingatnya, meski rentenir-rentenir itu begitu menakutkan, mereka tak pernah menyerang Build selama Build membayar cicilan utangnya tepat waktu. Kini, tiba-tiba orang-orang tak dikenal menyerangnya tanpa sebab. Uang gajinya utuh. Tak dicuri sepeser pun. Ponsel yang tadinya dia pikir hilang, rupanya dapat ditemukan di tempat kejadian. Artinya, mereka bukan perampok. Lagi pula, rampok mana yang mengendarai mobil mewah? Dan juga, tak ada rampok yang akan mengambil dari orang miskin sepertinya.
.
.
.
###
Bibir Build terasa ngilu saat mencoba mengunyah daging ikan yang sebenarnya sudah dimasak sampai lembut itu. Beberapa kali dia lebih memilih untuk menyesap air supnya. Padahal, perutnya terasa melilit. Kesulitan mengunyah, membuatnya tak selera makan. Alhasil, maag-nya kambuh.
"Mau dibuatkan bubur saja?" Bible bertanya lembut. Tak tega juga melihat Build kesulitan menelan makanannya.
Namun, Build menggeleng cepat. Selanjutnya, Build justru memaksa dirinya sendiri untuk menelan makanannya. Dia tak ingin terlihat rewel.

KAMU SEDANG MEMBACA
Is It Ok?
FanfictionTa dibantu oleh Bas telah membuat kesalahan besar yang menimbulkan kekacauan. Korbannya kali ini adalah Bible. Mereka mencuri data diri Bible untuk melakukan kencan satu malam dengan orang tak dikenal secara random. . . . Pertemuan yang terjadi mel...