Menikahi seorang putri ningrat yang tuli demi kenaikan pangkat. Itulah yang Adyatama alami.
Terjebak dalam pernikahan tak berarti, status yang tiada arti karena sang suami maupun istri tak saling peduli. Yang terpenting, masing-masing tak saling mer...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
14; "Kamu beruntung mendapatkan Putri saya." Jeng. N
Adyatama duduk di teras kediaman Soedibja bersama dengan Romo Oetomo. Pria paruh baya itu nampak senang dengan kehadiran calon menantu laki-lakinya. Bahkan pria paruh baya itu terlihat bersemangat ketika berbincang dengan Adyatama, nampak semangat, bangga tak salah memilih calon menantu dan mengeluarkan uang hingga miliaran demi membayar kenaikan pangkat Adyatama sebagai balas jasa menikahi putri bungsunya.
"Adyatama, rupanya pilihan saya nggak salah. Kamu memang cocok untuk anak gadisku." Romo menjauhkan lintingan kretek dari bibirnya ketika mengucapkan hal itu, "Kamu bisa minta apapun ke saya, silahkan Tama, akan saya turuti," ujarnya diakhiri kekehan.
Adyatama hanya tersenyum santun.
"Gagah sekali, berbadan besar, tampan, dan pandai. Kamu benar-benar idaman. Bejo betul Binar mendapatkan kamu." Lagi-lagi Oetomo memuji calon menantunya. Tangan Oetomo menunjuk Adyatama dengan lintingan Kretek di sela jarinya. "Kamu juga beruntung mendapatkan Putri saya. Ya, dia memang tidak lihai memasak atau membersihkan rumah selayaknya ibu rumah tangga yang lain, tapi perihal kegadisannya, saya jamin terjaga. Kamu masih dapat yang suci."
Pemikiran orang tua yang membanggakan kegadisan anaknya ketika tiada hal lain yang mampu dibanggakan.
"Sebenarnya ada dua sinyo yang sempat melamar Denayu, tapi mereka semua teman Kamajaya. Jelas saya tolak, bisa saja itu akal-akalan bocah kurang ajar itu," lanjut Romo, tak menyadari sudah ada Binar yang berdiri di belakang mereka.
"Permisi, Romo." Binar menunduk santun kepada Romo dan juga tersenyum hangat pada Adyatama.
"Lah, ini Binar. Sudah, kalian berdua berbincang saja, Romo masuk ke dalam. Kalian berdua saling mengenal dulu sini." Romo menepuk pundak Adyatama. "Jaga anakku, ya."
Selepas kepergian Romo, Binar mendudukkan diri di kursi yang sebelumnya di duduki oleh Romo. Binar hari ini nampak manis dengan gaun hijau muda yang membalut tubuh perempuan itu. Rasanya setiap bertemu Binar, Adyatama selalu mendapati Binar dalam balutan gaun yang berwarna cerah. Pakaiannya selalu terkesan anggun, selalu tertutup dan sopan. Kadang pula ada hiasan topi bertengger di kepala, memberikan warna baru dalam penampilan perempuan yang itu-itu saja.
Sudah dibilang, Binar memanglah unik. Cara berpakaian, tutur katanya, sikapnya, berbeda selayaknya perempuan biasa.
"Mas Adyatama nggak pergi bekerja?"
"Saya ada jatah libur dua bulan setelah pelatihan militer terakhir. Katanya saya jarang ambil cuti, makanya jatah libur saya diperpanjang oleh komandan," jawab Adyatama.
Binar mengangguk paham rupanya bisa begitu, ya. "Oh iya, Mas Adyatama mau menunjukkan apa?"
Adyatama lantas mengeluarkan sesuatu dari saku celana kainnya. Sebuah gantungan kunci berbentuk kaki kucing yang berwarna putih digenggam pria itu.