18 November 2024
Jeng
sekian lama tidak update karena galau terkait dengan nama. sudah mencoba nama nama lain dan tetap tidak mendapatkan feel di cerita ini. pada akhirnya akan tetap menggunakan nama yang sama, namun aku berharap sekali ke depannya tidak ada yang mempermasalahkan ya atau membawa cerita-cerita lain ke dalam karya yang saya buat ini.
masih ada yang menunggu?
400 votes dan 200 comments apakah masih bisa?
**
Adyatama menunggu di ujung ruangan, sementara Binar beserta Kamajaya sibuk berdua, membicarakan terkait rasa dan juga after taste selepas mencicipi masing-masing sampanye.
"Gelas pertama ini lebih kuat rasanya, membekas di lidah, hanya saja sedikit hambar," keluh Binar sembari mengangkat tangkai gelas untuk ia putar-putar. "Aku merasa tidak begitu cocok dengan yang ini."
"Yang kedua dan ketiga punya rasa serupa namun berbeda. Padahal produknya berbeda, tidak sama. Tapi punya rasa yang sama. Kita bisa simpan dua sampanye ini di akhir. Sementara yang keempat dan kelima tidak jauh berbeda dengan yang pertama tadi. Lalu yang keenam, dia punya kadar alkohol yang lebih tinggi." Binar mulai menerangkan.
Langkah kaki Binar berhenti pada gelas ketujuh. "Sampanye yang ini punya sensasi lembut di mulut, gelembung asamnya meledak sempurna di lidah aku, Mas. Manisnya tidak dominan, dan asamnya bisa menggoda lidah. Merek ini belum beredar di pasaran, dan ini cukup bagus untuk kita."
Adyatama masih seksama mengamati, bagaimana wajah Binar yang perlahan memerah akibat efek samping dari sampanye yang perempuan itu konsumsi. Mereka nyaris empat jam berada di ruangan besar dengan suhu yang cukup dingin. Matanya menyorot tajam memperingati Kamajaya yang kerap kali menyentuhkan jari-jarinya di pinggang Binar. Beberapa kali helaan nafas keluar. Bukan apa, hanya saja apa kata orang nanti? Apabila melihat perilaku Kamajaya terhadap Binar?
Adyatama tak tahan melihat Kamajaya terus menempel, sementara Binar seolah tak menolak kehadiran Kamajaya. Yang artinya dia harus segera memisahkan. Tak boleh ada yang memergoki kedekatan keduanya disela persiapan pernikahan mereka. Adyatama tak ingin membuat Romo murka, bisa kacau segala rencananya.
"Sudah?" Adyatama menarik tangkai gelas yang tengah disentuh Binar, menaruhnya ke atas meja.
Denayu Binar mengangguk. "Sudah."
"Masih ada lagi, Denayu." Kamajaya mencegah perempuan itu pergi, "seperti biasa, kita berdua di menikmati sisa-sisa sampanye ini."
Rupanya Adyatama begitu jengah dengan Kamajaya, hingga dengan sengaja ia menyentak lengan pria itu, agar cekalannya tak lagi mencengkram lengan Binar. "Saya dan Binar harus pulang."
"Dia masih adik saya, Adyatama," Kamajaya tengah mempertahankan posisi diri.
"Dia calon istri saya," sementara itu Adyatama tak ingin kalah.
"Sudah-sudah." Binar menengahi akhirnya. "Mas Adyatama," tubuhnya menatap Adyatama sepenuhnya. "Aku minta waktu untuk berdua dengan Mas Kamajaya sebentar, ya."
Gurat mata tak terbaca terlukis di wajahnya, menelisik Kamajaya yang sudah tersenyum penuh kemenangan, Adyatama sedikit kesal. Tengil sekali laki-laki satu itu. Tingkahnya belagu, menyebalkan. Tapi apa daya, Binar yang meminta, tak dapat berkutik akhirnya Adyatama mempersilakan. "Satu jam saja, ya?"
Binar mengangguk. "Satu jam."
"Di ruangan ini saja, ya?" pinta Adyatama lagi, diangguki Binar. "Saya percaya kamu," itu merujuk pada banyak arti yang semoga saja Binar mengerti.
KAMU SEDANG MEMBACA
MARI BERCINTA
RomanceMenikahi seorang putri ningrat yang tuli demi kenaikan pangkat. Itulah yang Adyatama alami. Terjebak dalam pernikahan tak berarti, status yang tiada arti karena sang suami maupun istri tak saling peduli. Yang terpenting, masing-masing tak saling mer...
