18. "Dan kubisikan, Denayu..."

18.9K 1.5K 533
                                        


27 November 2024

Bisa meninggalkan jejak di part-part apabila ingin meninggalkan sebuah komentar ya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Bisa meninggalkan jejak di part-part apabila ingin meninggalkan sebuah komentar ya.

18; "Dan kubisikan, Denayu ..."
Jeng N.

Denayu Binar menangis. Tamparan ia dapatkan akibat menolak mempercepat pernikahan dengan Adyatama Sapta. Terduduk di lantai, Binar mengusap pipinya yang panas. Ini bukan pertama kali, namun sakitnya bak awal kali. Tak ada yang melindungi karena di rumah ini hanya ada Kemala dan Bibi beserta Oetomo dan amarahnya yang tak terbendung lagi.

"Anak tidak tau diri! Sudah berapa kali nama Romo hancur karena ulahmu?! Nama baik keluarga tercoreng karena tingkah murahanmu dengan Kamajaya. Adyatama mau menikahimu saja seharusnya kamu mencium kakinya, Binar!"

"Romo, sakit." Binar menangis lebih kencang. "Maaf Romo, maaf."

"Tuli! Bisu saja sekalian kamu seharusnya! Supaya Romo bisa lebih mudah membuangmu dulu! Anak tidak tau diuntung!" Teriakan Oetomo tepat di telinga Binar, membuat perempuan itu melempar alat bantu dengarnya yang berdengung kencang, membuat telinganya kesakitan.

"Ampun Romo."

Oetomo baru melepaskan sang putri ketika pintunya di ketuk dari luar. Kakinya melangkah cepat sebelum membuka pintu, dan sosok Prawira tengah menatap khawatir adiknya yang sudah berlutut di lantai sembari mencari alat bantu dengarnya yang terlempar jauh sekali.

"Romo apakan Binar?"

"Memberi dia pelajaran. Jangan ikut campur, Prawira. Dia masih berani mendekati Kamajaya disaat akan menikah. Romo tau dari Adyatama."

Prawira membelalakkan mata. Tak menyangka Adyatama sampai melapor seperti itu. "Mungkin Romo salah tangkap maksud Tama."

"Kamajaya babak belur. Siapa lagi pelakunya jika bukan Adyatama? Perempuan murahan itu sebaiknya lekas hamil setelah menikah. Akan Romo suruh Adyatama gagahi dia setiap malam. Setidaknya jika mereka memiliki anak, Kamajaya tak akan berani mendekat. Skandal akan lenyap."

Untungnya, Binar tak mendengar. Karena itu akan sangat menyakitkan. Prawira yang mendengar saja nafasnya tercekat, apalagi adiknya? Sungguh bejat otak Oetomo. Begitu gila sampai rasanya tak dapat ditolerir.

Prawira beralih menatap Binar yang perlahan memasang alat bantu dengar dengan tangan gemetar. Pria itu kembali menatap Oetomo dengan tatapan terluka. "Denayu anak Romo, kalau mungkin saja Romo lupa. Romo tidak ingin berkata yang baik-baik? Sebelum Denayu tidak bisa mendengar apa-apa lagi? Romo tidak melupakan bahwa pendengaran Denayu memburuk perlahan, bukan?"

Oetomo menoleh ke arah lain. "Bagus. Biar saja anak tuli itu tau diri."

"Romo... kami juga kerap kali membuat kesalahan. Tapi mengapa hanya Denayu yang dihukum begitu beratnya?"

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Nov 27, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

MARI BERCINTACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang