Menikahi seorang putri ningrat yang tuli demi kenaikan pangkat. Itulah yang Adyatama alami.
Terjebak dalam pernikahan tak berarti, status yang tiada arti karena sang suami maupun istri tak saling peduli. Yang terpenting, masing-masing tak saling mer...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
heuu kenapa rame ya cerita ini? cerita aku ini dibuat karena ingin mengetahui pandangan kalian terhadap isu negeri yang kocar-kacir. dimulai dari nama empat anaknya semua unsur Jawa persis dengan realita (iykyk), marga keluarga di mana Soedibja tidak hanya merambah negeri politik tapi juga media itu riil adanya jika kalian mengikuti berita politik(iykyk). perjodohan yang diusung juga sebenarnya sama dengan yang aku temui, hanya saja di sini Binar tuli dan berusaha disingkirkan.
sebenarnya aku sudah riset kehidupan ibu-ibu persit, tetapi aku ndak menemukan spesifik begitu. jadi nanti apabila ada kesalahan-kesalahan bisa di koreksi ya.
kemarin aku sibuk mengulik aksi terorisme yang sudah tidak semarak dulu. aku jadi tertarik mengangkat isu tersebut. aksi terorisme, pengeboman menurutku asik untuk di bahas juga selain politik. berhubung Adyatama militer, menurutku bisa dihubungkan sedikit, sekalipun seharusnya itu tugas pasukan Gegana ya.
400 votes + 250 comments 🤎🫱🏻🫲🏽
***
15. Apa yang bisa dicintai dari diriku? Jeng. N
Manusia seharusnya tau kapan dia harus berhenti menjadi kejam. Entah berhenti untuk saling menjatuhkan, saling memanfaatkan atau mungkin saling menyakiti. Namun rupanya itu tak berlaku pada seorang Agung Sapta. Di tengah kusutnya otak Adyatama akibat kemampuan mendengar Binar yang kian menurun, Adyatama sudah di hadapkan dengan tuntutan Agung Sapta terhadap kekuasaan. "Ayah mau jabatan tinggi di Pidjar Bangsa. Entah bendahara atau sekretaris, Ayah hanya ingin jabatan tinggi."
"Pangkat Adyatama sudah naik, Ayah. Apalagi ini?"
"Ayah tidak peduli. Ayah harus dapat posisi di Partai Pidjar Bangsa," pintanya sekenanya.
Adyatama menggelengkan kepala, "Adyatama malu punya keluarga yang seperti ini."
"Itu wajar Adyatama, sudah seharusnya begitu. Kamu bisa merayu Binar untuk hal ini," Agung Sapta memberi masukan yang tidak berarti apa-apa. Binar tidak mendapatkan kekuasaan di Pidjar Bangsa. Perempuan itu benar-benar di lepas oleh Oetomo tanpa diberi bekal apapun terkait dunia politik yang penuh dengan intrik.
Adyatama bangkit dari duduknya. "Terserah Ayah. Adyatama tidak akan merayu Binar untuk hal ini. Ayah dekat dengan Romo, kalau Ayah tidak punya malu, bisa berbincang dengan Romo secara langsung."
Itu menjadi penutup percakapan antara ayah dan anak. Adyatama meninggalkan Agung sendirian bersama dengan kekesalan yang memuncak karena merasa sang putra tak sanggup berbuat apa-apa.
***
"Denayu sekarang sering tersenyum," Kemala berujar memuji, dilanjut terkekeh kecil sembari menyisir rambut lebat nan panjang Binar.