Chapter 25 - In the Sky With You

16.9K 995 83
                                        

Welcome!

This story is made with love, so please respect it. Read, enjoy, and support!

Jangan lupa follow Instagram aku ya [@astihrbooks_]

ֶָ֢𐚁๋࣭⭑ֶָ֢

Suara gemuruh yang khas menggema di atas helipad saat helikopter hitam legam itu perlahan mendarat, menggetarkan udara malam dengan baling-balingnya yang mengaduk angin. Pada ekor burung besi tersebut, terpatri tegas sebuah tulisan berwarna putih: BARNABY-tanda kepemilikan mutlak dari sang taipan, Galen Barnaby.

Ainsley refleks memejamkan mata sesaat, terkejut oleh hembusan angin kencang yang menerpa wajahnya dan membuat rambutnya berantakan. Ia segera merapatkan jaket milik Galen ke tubuhnya, membiarkan aroma pria itu menguar lembut di antara dingin malam dan hiruk mesin.

Sementara itu, Galen berdiri tenang di sisinya. Tak gentar, tak bergeming-seolah badai pun tak akan mampu menggoyahkan sosoknya. Dengan satu tangan ia menyentuh punggung Ainsley, memberi rasa aman yang tak terucap.

Seorang pria berpakaian jaket parasut hitam mendekat cepat, suaranya nyaris tertelan deru baling-baling.

"Sudah siap, Pak," lapornya ringkas saat berada di depan Galen.

Tanpa membuang waktu, Galen mengangguk singkat. Beberapa jam lalu, hanya dengan satu kalimat dari Ainsleyb"Aku mau naik helikopter" Galen telah menggerakkan seluruh sistemnya. Perizinan, teknisi, pilot, hingga kesiapan helikopter itu sendiri, semua ia kerahkan. Demi wanita itu. Demi satu keinginan sederhana yang baginya, sangat berarti.

Kini, helikopter gagah itu berdiri menunggu, seperti panggung yang siap mengantarkan mereka ke awan.

Dengan gerakan sigap namun lembut, Galen merengkuh pundak Ainsley, membimbingnya menapaki tangga kecil menuju kabin. Suara logam yang terinjak menyatu dengan detak jantung yang tiba-tiba berpacu cepat. Di dalam, interior kabin berbalut kulit hitam dan pencahayaan temaram menyambut mereka bak ruang eksklusif di langit.

Galen memastikan Ainsley duduk dengan nyaman sebelum mengenakan sendiri sabuk keselamatan untuknya, jarinya berhenti sejenak di bahu wanita itu. Matanya menatap dalam, penuh janji yang tak perlu diucapkan.

"Malam ini," bisiknya, "kau akan melihat dunia dari sudut paling indah."

Dari balik jendela helikopter, bentangan lampu-lampu kota mulai menyerupai gugusan bintang yang jatuh ke bumi—berkelap-kelip indah, seolah memberi salam kepada dua jiwa yang kini melayang di atasnya. Helikopter itu perlahan mengudara, membelah langit malam Melbourne dengan lembut, seperti mimpi yang diam-diam berubah nyata.

Ainsley menatap keluar, terpukau. Deru baling-baling terdengar sayup, tertelan dalam decak kagumnya. Cahaya-cahaya kota menyebar luas bak lautan permata, memantul pada kaca jendela dan menyulap matanya menjadi bias kebahagiaan.

“Luar biasa...” gumamnya, nyaris seperti napas yang tak sengaja meluncur dari bibirnya. Sederhana, namun penuh ketakjuban.

Ini adalah kali pertama Ainsley menyaksikan Melbourne dari sudut langit—sebuah perspektif yang bahkan tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Naik helikopter bukanlah sesuatu yang lazim dalam hidupnya. Momen ini, yang bisa saja terasa biasa bagi orang lain, justru menjadi potongan kecil keajaiban bagi Ainsley. Dan malam ini, semuanya terasa begitu sempurna.

Namun di sisi lain, bukan kota yang jadi pusat perhatian Galen.

Ia menoleh, memandangi wanita di sampingnya yang tengah memandangi dunia dengan binar kekanak-kanakan di matanya. Bukan lampu kota, bukan garis pantai, bukan gedung pencakar langit yang memukau Galen. Melainkan cara Ainsley tersenyum kecil, cara matanya membulat setiap kali helikopter berbelok, dan cara ia menyentuh kaca jendela seakan takut pemandangan itu menghilang terlalu cepat.

“Indah, ya?” gumam Galen, namun bukan pada kota—melainkan pada wanita yang tengah duduk di sampingnya.

Bagi Galen, Ainsley adalah pemandangan paling menakjubkan malam itu. Bahkan langit pun kalah bersinar.

“Pemandangannya?” tanya Ainsley sambil menoleh pelan, menatap Galen yang duduk di sisinya.

Galen terkekeh pelan. Suara tawanya ringan, dalam, dan nyaris menyatu dengan gemuruh lembut baling-baling di atas mereka. Dengan gerakan iseng, jemarinya terulur mencubit manja hidung mancung Ainsley, membuat wanita itu mengerjapkan mata cepat seperti anak kecil yang keheranan.

“Um,” gumamnya, seolah berpikir sejenak sebelum melanjutkan dengan nada setengah berbisik, “Pemandangan di hadapanku luar biasa. Saking indahnya, bahkan semesta pun mungkin mundur karena merasa kalah.”

Ainsley terdiam, dahi mungilnya berkerut samar, mencoba mencerna ucapan barusan. Tapi hanya butuh beberapa detik sebelum tawanya pecah begitu saja. Ringan, tulus, dan penuh kehangatan. Seolah hanya pria bernama Galen-lah yang bisa membuatnya tertawa seperti itu.

“Kau ini benar-benar…” gumam Ainsley sambil menggeleng pelan, menoleh kembali pada jendela, memandangi kerlip lampu kota yang terlihat seperti lukisan tak berbingkai.

“Terima kasih, Galen…” ucapnya lirih, nyaris seperti angin malam yang mengusap lembut dinding hati.

Galen tersenyum, senyum yang tulus dari pria yang dulu kehilangan arah namun kini menemukan rumah dalam sosok wanita di sisinya. Ia menyentuh pipi Ainsley dengan penuh kelembutan, membimbing wajah itu agar menatapnya.

“Apapun untukmu… cintaku.”

Dan malam itu, dengan langit luas sebagai atap dan kota Melbourne yang berkilau di bawah sana sebagai saksi bisu, Galen mencium Ainsley. Ciuman lembut yang lebih hangat dari selimut tebal, lebih kuat dari pelukan, dan lebih dalam dari kata-kata.

Itu bukan ciuman biasa—itu adalah ciuman pertemuan kembali, penyembuhan, dan janji tak terucap yang hanya bisa dimengerti oleh dua hati yang pernah patah namun memilih untuk kembali bertaut.

Mungkin, banyak yang akan bertanya—apa pantas mereka mendapat akhir bahagia? Apakah seseorang seperti Galen layak untuk dimaafkan? Apakah Ainsley terlalu cepat memaafkan?

Namun malam itu membuktikan satu hal: bukan tentang siapa yang pantas, tapi tentang siapa yang mau memperjuangkan. Karena cinta bukan tentang kesempurnaan, tapi tentang keberanian untuk tetap tinggal, meski telah hancur dan tersesat.

Dan Tuhan pun menjadi saksi, bahwa dua jiwa yang sempat terpisah kini memilih untuk saling mengobati. Bahwa semesta tak pernah benar-benar kejam, karena ia selalu menyediakan jalan pulang bagi hati yang rindu.

Ciuman mereka akhirnya terputus perlahan, namun sorot mata keduanya tetap saling terkunci—penuh nyala, penuh cinta yang membara tenang. Di bawah cahaya temaram, Ainsley berbisik…

“Aku mencintaimu.”

Dan sekali lagi, “Aku mencintaimu…”

Suara itu lembut, namun mampu meluluhkan semua dinding dalam diri Galen. Matanya berkaca, namun senyumnya mengembang lebar.

“Aku mencintaimu… lebih dari segala hal yang pantas dicintai di dunia ini. Bahkan, jika harus dibandingkan dengan alam semesta—cintaku padamu jauh lebih besar dari itu.”

Hening sejenak.

Dan kemudian—tawa.

Tawa mereka meledak bersamaan, lepas dan bebas, bahkan sang pilot yang tadinya berlagak tak mendengar pun ikut menahan geli.

Malam itu berakhir tanpa drama, tanpa air mata. Hanya ada dua hati yang akhirnya benar-benar pulang. Dengan cinta baru, awal baru, dan harapan yang tak lagi dibangun dari luka… tapi dari kepercayaan.

Dan di atas langit kota Melbourne, dua hati bersumpah diam-diam: bahwa mereka tak akan pernah melepaskan lagi.

ֶָ֢𐚁๋࣭⭑ֶָ֢

LOSE OR GET YOU
[18 April 2025]
-
-

LOSE OR GET YOU Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang