Welcome!
This story is made with love, so please respect it. Read, enjoy, and support!
Jangan lupa follow Instagram aku ya [@astihrbooks_]
ֶָ֢𐚁๋࣭⭑ֶָ
"Selamat, bayi Anda laki-laki."
Suara sang dokter terdengar jelas, menggema di lorong sunyi itu seperti lonceng pagi yang memecah kabut tebal. Di belakang Galen, August memekik pelan, nyaris bersorak dengan sukacita yang tak mampu ditahan—tapi Galen tetap membisu. Matanya tak berkedip, pikirannya hanya terpaku pada satu hal yang sejak tadi menggerogoti jiwanya.
"Istriku…" suaranya serak, nyaris tak terdengar, "Bagaimana istriku?"
Itulah yang paling ia takutkan. Ia bisa kehilangan segalanya, tapi tidak Ainsley.
Dokter menatapnya, lalu tersenyum samar. "Keadaannya belum bisa dikatakan baik... tapi juga tidak buruk. Kami berhasil menstabilkannya. Untuk sekarang, dia selamat."
Lutut Galen nyaris goyah. Helaan napas panjang lolos dari bibirnya—napas yang seperti membawa seluruh rasa takut yang membatu di dadanya. Bahunya merosot sedikit, seolah beban seberat dunia akhirnya dilepaskan dari punggungnya.
"Namun, untuk sementara waktu Anda belum bisa menemuinya. Kami akan memindahkannya ke ruang inap, dan baru setelah itu Anda bisa bertemu. Harap bersabar dan mengerti."
"Terima kasih, Dokter. Kami mengerti," August menjawab dengan tegas, menepuk pelan punggung putranya. Ia tahu, Galen tak akan mampu berkata-kata lagi.
Galen berdiri terpaku. Dadanya masih naik turun, matanya berkaca-kaca, bukan karena lemah—melainkan karena kelegaan yang begitu dalam. Sekian lama ia menahan dunia di pundaknya, dan akhirnya, untuk kali ini, Tuhan tak mengambil apa pun darinya.
Istrinya selamat. Putranya menangis untuk pertama kalinya di dunia.
Dan bagi Galen, itu lebih dari cukup. Itu adalah mukjizat.
ֶָ֢𐚁๋࣭⭑ֶָ
Malam berlalu lambat, seperti enggan pergi. Sejak Ainsley dipindahkan ke ruang inap, Galen tak beranjak sedikit pun dari sisinya. Ia duduk di kursi kecil yang terasa terlalu sempit untuk tubuhnya yang lelah, tapi tak pernah cukup sempit untuk menahan ketulusan hatinya.
Tangannya tak lepas menggenggam tangan Ainsley, semalam suntuk, seolah dari sentuhan itu ia bisa mengalirkan kekuatan yang tak ia punya. Ia tidak tidur. Tidak sekalipun. Ia hanya menatap wajah pucat istrinya, menunggu kelopak mata itu bergerak, walau sedikit saja.
Saat matahari mulai naik, cahayanya menerobos melalui celah tirai putih, menimpa rambut kusut Galen yang entah sejak kapan kehilangan bentuk. Suara pintu yang berderit memecah keheningan. Derap langkah tegas terdengar di lantai steril rumah sakit, dan sesaat kemudian August Barnaby muncul di ambang pintu.
“Kau belum melihat putramu?” tanyanya sembari duduk di sofa yang berada tak jauh dari Galen.
Galen tak langsung menjawab. Ia hanya menghela napas panjang, menatap wajah Ainsley yang masih terlelap, seolah dalam tidurnya menyimpan jawaban.
KAMU SEDANG MEMBACA
LOSE OR GET YOU
Romance[SEQUEL FADED DESIRE] [BARNABY SERIES II] Tiga tahun lalu, Ainsley Lysander menandatangani surat perceraian dengan tangan gemetar dan hati yang hancur. Ia pergi tanpa menoleh, meninggalkan cinta yang menghanguskan sekaligus luka yang tak kunjung sem...
