Welcome!
This story is made with love, so please respect it. Read, enjoy, and support!
Jangan lupa follow Instagram aku ya [@astihrbooks_]
ֶָ֢𐚁๋࣭⭑ֶָ
Sejak dua garis merah itu muncul, hidup Galen pun ikut berubah. Bukan hanya Ainsley yang harus menyesuaikan diri dengan kehamilan, tapi Galen juga. Pria itu tak hanya menjadi suami, tapi juga perawat, penjaga malam, penyemangat, sekaligus perisai dari segala kekhawatiran yang mencoba menyusup ke dalam hati istrinya.
Kini, jam kerjanya berputar terbalik. Pagi hingga sore ia habiskan bukan di kantor atau ruang rapat, melainkan di sisi Ainsley. Ia akan duduk di tepi ranjang, membujuk Ainsley makan dengan segala cara, menyiapkan makanan yang mungkin bisa diterima tubuh sang istri, atau sekadar menggenggam tangan Ainsley saat wanita itu meringis karena mual.
Dan ketika malam menutup tirai hari, saat akhirnya Ainsley bisa terlelap dengan tenang, barulah Galen masuk ke ruang kerjanya. Di sanalah ia duduk sendirian di bawah cahaya lampu temaram, masih mengenakan kaus rumah dan celana longgar, menatap layar laptop sambil bersandar di kursi kulit yang mulai tak nyaman lagi diduduki berjam-jam.
Lingkar gelap mengendap di bawah matanya, kacamatanya sedikit turun dari batang hidung, dan pundaknya tampak berat menahan lelah yang tak berkesudahan. Tangannya terus mengetik, sesekali berhenti untuk memijit pelipis sendiri, tapi tak sekalipun keluhan keluar dari bibirnya.
Ia tahu, tubuhnya lelah. Tapi hatinya tetap penuh. Ia tahu pikirannya kacau, tapi ia juga tahu, setiap usaha kecilnya untuk Ainsley adalah wujud cinta yang nyata.
Ia akan terus melakukannya. Tanpa pamrih, tanpa ingin dipuji. Karena baginya, satu-satunya hal yang bisa ia berikan untuk wanita yang ia cintai sepenuh jiwa adalah keberadaannya—sepenuhnya.
Mendampingi Ainsley, menjaga semesta kecil yang sedang tumbuh di dalam rahimnya, adalah kebahagiaan sekaligus tanggung jawab paling sakral yang pernah ia terima. Dan untuk itu, Galen tak perlu tidur cukup atau hidup mudah. Yang ia butuhkan hanya satu: Ainsley baik-baik saja.
Dan setiap kali ia mendengar suara napas lembut istrinya dari arah kamar, Galen tahu—ia tak sedang kehilangan apa-apa. Ia justru sedang memperoleh segalanya.
“Galen... Galen...”
Suara itu lirih, nyaris seperti bisikan di antara gelap dan sunyinya malam. Namun bagi Galen, suara Ainsley adalah alarm paling keras yang bisa membangunkannya dari kantuk. Dalam sekejap, rasa lelah yang sempat menggumpal lenyap begitu saja. Ia berdiri, bahkan sebelum tubuhnya sempat sepenuhnya menyadari.
Langkahnya cepat dan lebar, menjejak lantai marmer dengan gema yang menggantung di lorong. Ia membuka pintu yang memisahkan ruang kerja dan kamar mereka, dan saat itulah jantungnya nyaris berhenti berdetak.
Ainsley. Terbaring dengan keringat dingin di kening, menggeliat lemah sambil memegangi perutnya yang membuncit. Wajahnya pucat, napasnya tersengal, dan dari bibirnya terus meluncur rintihan lirih yang membuat dada Galen mencengkung.
"Ada apa, sayang?" Galen langsung menghampiri, berjongkok di sisi ranjang. Tangannya menggenggam jemari Ainsley yang basah oleh keringat.
“Sakit... perutku sakit sekali...” suara Ainsley terputus-putus, penuh rasa panik dan nyeri yang tak tertahankan.
Galen buru-buru menyibak selimut, dan saat pandangannya tertumbuk pada sprai yang basah di bawah tubuh istrinya, napasnya tercekat.
KAMU SEDANG MEMBACA
LOSE OR GET YOU
Romance[SEQUEL FADED DESIRE] [BARNABY SERIES II] Tiga tahun lalu, Ainsley Lysander menandatangani surat perceraian dengan tangan gemetar dan hati yang hancur. Ia pergi tanpa menoleh, meninggalkan cinta yang menghanguskan sekaligus luka yang tak kunjung sem...
