Welcome!
This story is made with love, so please respect it. Read, enjoy, and support!
Jangan lupa follow Instagram aku ya [@astihrbooks_]
ֶָ֢𐚁๋࣭⭑ֶָ֢
Manusia itu rumit—penuh misteri, penuh lapisan yang tak kasat mata. Tak satu pun benar-benar bisa ditebak. Mereka pandai menyembunyikan luka di balik senyum, menyimpan amarah dalam bisu, bahkan menyelipkan niat tersembunyi dalam gestur yang terlihat biasa saja.
Kebaikan bisa jadi hanya kamuflase, dan ketulusan… tak selalu murni.
Sama seperti ketenangan—ia bisa jadi pertanda bahaya yang sesungguhnya.
Dan itulah yang sedang terjadi pada Wild.
Pria itu tak menunjukkan amarah, tak mengangkat suaranya sedikit pun. Tatapannya datar, geraknya tenang, bibirnya sesekali melengkung kecil seolah ia masih pria yang sama—ramah, santai, menyenangkan. Tapi Ainsley tahu… itu hanya topeng. Topeng yang terlalu rapat hingga hampir meyakinkan, namun menyisakan getar halus di udara.
“Kau… kau ingin minum sesuatu?” tanyanya dengan suara sedikit bergetar. Ainsley tak terbiasa gugup, apalagi di hadapan Wild. Tapi entah kenapa, kali ini tubuhnya bereaksi sebaliknya. Seolah tubuhnya lebih peka dibanding pikirannya.
Wild tak langsung menjawab. Ia hanya diam, matanya mengelilingi isi apartemen seperti sedang membaca cerita dari benda-benda di sekelilingnya.
Dan akhirnya, matanya berhenti.
Pada meja makan. Dua piring kosong. Dua gelas. Sisa jejak sarapan yang terlalu rapi untuk jadi milik satu orang. Jejak yang mengkhianati keberadaan pria lain—pria yang ia tahu pasti adalah Galen.
Senyum tipis Wild akhirnya muncul. Tapi bukan senyum hangat seperti biasa. Ini dingin. Senyum yang menusuk—seperti bayangan pisau yang belum digunakan, tapi sudah terasa tajam.
“Jadi, kau tak sendiri tadi,” gumamnya pelan, nyaris seperti bisikan. “Kukira aku hanya menebak. Ternyata dugaanku selalu benar tentang pria itu.”
Ainsley menelan ludah, samar. Untuk pertama kalinya, udara di dalam apartemen yang hangat terasa mencekik. Wild mungkin tidak berteriak. Tapi badai yang dibawanya… terasa sudah berdiri di ambang.
“Kau bilang ingin bicara.” Suara Ainsley terdengar lebih tenang dari yang ia rasakan. Ia memaksakan diri untuk berdiri tegak, meski alarm di kepalanya berteriak nyaring. “Katakanlah.”
Wild menoleh perlahan. Gerakan kecil yang seharusnya biasa saja, tapi kini terasa mengancam. Mata birunya yang biasanya cerah dan hangat, kini berubah pekat, seperti langit sebelum badai.
Ainsley menelan ludah, menyadari sesuatu yang asing dan mengerikan dalam diri pria yang sudah dua tahun mengisi hidupnya itu. Ini bukan Wild yang ia kenal. Bukan pria yang biasa tertawa di pagi hari saat menyeruput kopi, atau yang selalu menjemputnya di malam hujan.
Wild melangkah. Satu, dua... pelan. Tapi setiap langkahnya mengiris udara di sekitarnya. Ainsley merasa napasnya sesak. Dingin menjalari punggungnya.
“Dua tahun,” gumam Wild, suaranya rendah dan menggema di ruangan kecil itu. “Dua tahun aku menunggu.”
Ainsley mundur selangkah, lalu lagi, hingga punggungnya membentur pintu lemari pendingin. Ia tak berkedip, tatapannya terkunci pada sorot mata Wild yang kini tak lagi bisa dibaca.
“Tahu kau,” lanjut Wild, “berapa banyak yang kutahan selama dua tahun itu? Betapa keras aku menahan diri hanya agar kau bisa melihatku. Menerimaku.”
KAMU SEDANG MEMBACA
LOSE OR GET YOU
Romance[SEQUEL FADED DESIRE] [BARNABY SERIES II] Tiga tahun lalu, Ainsley Lysander menandatangani surat perceraian dengan tangan gemetar dan hati yang hancur. Ia pergi tanpa menoleh, meninggalkan cinta yang menghanguskan sekaligus luka yang tak kunjung sem...
