Chapter 38 - My whole world

13K 804 27
                                        

Welcome!

This story is made with love, so please respect it. Read, enjoy, and support!

Jangan lupa follow Instagram aku ya [@astihrbooks_]

ֶָ֢𐚁๋࣭⭑ֶָ

Ainsley baru benar-benar siuman dua hari setelah melahirkan. Malam itu, ia bersandar lemah di atas ranjang rumah sakit, punggungnya ditopang bantal tebal sementara tangan tuanya menyentuh lengan sang ayah mertua yang dengan sabar menyuapinya satu sendok demi satu sendok makanan hangat.

Hubungan Ainsley dengan August memang berbeda dari hubungan menantu dan mertua pada umumnya. Mereka sudah seperti ayah dan anak kandung.

Sejak Ainsley dan Galen mulai menjalin hubungan semasa kuliah, August langsung menyayangi gadis itu seperti darah dagingnya sendiri. Bahkan sering kali Ainsley lebih dulu mengadu pada August ketimbang pada orang tuanya sendiri.

Sesaat, tatapannya tak pernah lepas dari sosok suaminya yang terbaring di sofa panjang di sudut ruangan. Galen tampak begitu lelap, nyaris tak bergerak, seolah tubuhnya benar-benar kehabisan tenaga.

“Ayah,” gumam Ainsley pelan, suaranya masih serak namun mulai pulih. “Kenapa Galen belum juga bangun? Sejak pagi dia terus tidur.”

August terkekeh, lirih. Ia ikut memandang putranya yang wajahnya terlihat jauh lebih damai dari biasanya—tak ada jejak kelelahan emosional yang selama ini mengikutinya.

“Biarkan saja,” jawabnya lembut sambil menyuapkan satu sendok lagi ke mulut Ainsley. “Dia baru tidur setelah hampir tiga hari penuh berjaga, tak bergeming sedikit pun dari sisimu.”

Ainsley terdiam. Matanya menghangat mendengar itu. Ia tahu Galen selalu mencintainya, tapi mengetahui bahwa pria itu tidak sekalipun meninggalkannya, bahkan untuk sekadar tidur... membuat hatinya gemetar haru.

“Kalau begitu, kenapa tidak Ayah saja yang istirahat sekarang?” gumam Ainsley dengan suara lemah. “Ayah juga pasti lelah.”

August hanya tersenyum, mengelus kepala Ainsley penuh kasih sayang. “Ayah sudah cukup tidur tadi pagi. Sekarang giliranmu yang harus cepat pulih, Nak.”

Ainsley menghela napas panjang. Ia menatap langit-langit sebentar, lalu kembali menatap August dengan mata yang mulai berbinar.

“Aku ingin lihat putraku,” bisiknya pelan. “Aku ingin lihat seperti apa wajahnya.”

August menggenggam tangan menantunya, mengusapnya lembut.

“Nanti, ya. Setelah kondisimu benar-benar pulih. Dokter bilang kau butuh banyak istirahat.”

Ainsley mengerucutkan bibirnya, kecewa. “Apa dia benar-benar mirip Galen? Kenapa semua orang bilang begitu? Padahal aku yang hampir bertaruh nyawa untuk melahirkannya... tapi Galen yang kebagian semua genetiknya?”

August tertawa renyah, tawanya penuh cinta seorang kakek yang baru mendapatkan cucu pertamanya.

“Dia memang mirip ayahnya,” ucapnya, menatap Ainsley dengan tatapan penuh rasa bangga. “Tapi senyumnya... entah kenapa, senyumnya mengingatkanku padamu.”

Ainsley tersenyum, samar. Meski belum sempat melihat langsung wajah putranya, hatinya sudah dipenuhi oleh rasa cinta yang sulit dijelaskan. Perasaan rindu pada sosok mungil yang bahkan belum sempat ia peluk. Perasaan ingin memeluk dunia kecil yang ia ciptakan bersama Galen.

Malam itu, di balik redupnya cahaya kamar rawat, cinta dan harapan tumbuh diam-diam. Dalam diam Galen, dalam tatap lembut August, dan dalam getar haru Ainsley yang tengah memupuk rindu untuk pertemuan pertamanya dengan sang buah hati.

LOSE OR GET YOU Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang