Chapter 33 - Always With You

12.5K 841 49
                                        

Welcome!

This story is made with love, so please respect it. Read, enjoy, and support!

Jangan lupa follow Instagram aku ya [@astihrbooks_]

ֶָ֢𐚁๋࣭⭑ֶָ֢

"Sudah aku bilang, aku tak mau ikut ke acara seperti ini!" raung Ainsley, suaranya pecah, penuh luka.

Di dalam Ferrari merah milik Galen, malam terasa begitu sempit. Mobil itu melaju membelah jalanan kota, tapi rasanya mereka justru terperangkap dalam badai emosional yang tak terlihat.

Sejak mereka meninggalkan pesta, Ainsley tak berhenti menangis. Bukan hanya sekadar air mata—ini raungan. Isak yang terhuyung, histeris, seolah seluruh benteng ketahanannya yang selama ini ia bangun, runtuh dalam sekejap.

Bagaimana tidak? Ia sudah berjuang keras berdamai dengan dirinya sendiri, berusaha kuat. Tapi dalam hitungan menit, semua itu dihancurkan dengan kata-kata bodoh dan kejam yang menusuk lebih dalam daripada belati.

"Dia benar, Galen... Seharusnya kau menikahi putrinya saja! Kau pantas mendapatkannya! Kau pantas punya pewaris, bukan perempuan sepertiku!" teriak Ainsley lagi, suaranya serak, putus asa.

Galen mendengar setiap kata itu seperti tamparan ke wajahnya sendiri.

Sakit.

Bukan karena marah pada Ainsley, tapi marah pada dirinya sendiri. Marah karena membiarkan wanita yang ia cintai dihancurkan di hadapannya.

Ia menggenggam erat kemudi, berusaha keras mengendalikan emosinya yang meledak-ledak.

Sialan. Harusnya ia melarang Ainsley ikut dari awal. Harusnya ia mendengarkan ketika Ainsley bilang ingin tinggal di rumah. Sekarang lihat, wanita itu hancur. Dan semua karena kebodohannya.

Sambil menghela napas berat, Galen melirik ke samping. Ainsley meringkuk di kursi penumpang, bahunya bergetar keras, isakannya memilukan. Air mata terus mengalir di pipinya, membuat hati Galen terasa seperti diremas tanpa ampun.

Tanpa berpikir panjang, ia melepaskan sebelah tangannya dari kemudi dan mengusap paha Ainsley dengan lembut, mencoba menyalurkan ketenangan lewat sentuhannya.

"Maafkan aku..." bisiknya, suaranya serak karena rasa bersalah yang menyesakkan dada.

Ainsley tak menjawab. Ia hanya terisak, menunduk, membiarkan rasa sakit itu membanjiri dirinya.

Galen mengeraskan rahangnya, mengutuk dirinya dalam hati. Tidak. Ini tak boleh berakhir seperti ini. Tidak akan ia biarkan wanita sekuat Ainsley dihancurkan oleh omongan manusia-manusia keji itu. Tidak di hadapannya.

Malam itu, dalam keheningan yang hanya diisi isakan, Galen bersumpah dalam hati: Ia akan melakukan apa pun untuk membuktikan bahwa Ainsley adalah satu-satunya yang ia inginkan. Dengan atau tanpa pewaris. Dengan atau tanpa pengakuan dunia. Karena bagi Galen Barnaby, Ainsley bukan sekadar istri.

Dia adalah segalanya.

ֶָ֢𐚁๋࣭⭑ֶָ֢

Malam itu, di jalanan kota Melbourne yang mulai lengang, Galen perlahan menepikan Ferrari merahnya di sisi jalan. Mesin mobil masih berdengung pelan, tapi dunia di sekitar mereka terasa sunyi, hanya ada mereka berdua, dalam dunia kecil yang penuh luka.

Tanpa berkata apa-apa, Galen melepaskan sabuk pengamannya. Ia bergerak mendekat, lalu dengan satu gerakan mantap, ia mengangkat tubuh kecil Ainsley dan mendudukannya di atas pangkuannya.

Ainsley merintih kecil, namun tidak menolak. Ia butuh ini—butuh dipeluk, dipastikan bahwa dirinya masih diinginkan.

"Jangan menangis lagi, sayang," bisik Galen, suaranya selembut belaian malam.

Dengan gerakan penuh kasih, Galen menyibakkan anak-anak rambut Ainsley yang berantakan di wajahnya, lalu mengusap lembut keringat di dahinya. Ibu jarinya menyapu jejak air mata satu per satu, seakan ingin menghapus segala sakit yang membekas di hati wanita itu.

Lalu, dengan penuh khidmat, ia mengecup dahi Ainsley. Lama. Hangat. Sebuah ciuman yang membawa janji diam-diam, bahwa ia akan selalu melindunginya.

"Sudah, ya... Maafkan aku," lirihnya, hampir seperti doa yang dipanjatkan di antara keheningan.

Ainsley masih menangis tersedu di dadanya. Nafasnya tersengal, seolah rasa sakit itu terlalu besar untuk ditahan sendiri. Ia menatap Galen dengan mata yang berair, penuh kepedihan.

"Kenapa... kenapa kau yang minta maaf?" raung Ainsley dengan suara pecah. "Dia yang kejam! Dia yang menyakitiku! Bukan kau..."

Tangisnya pecah lagi, lebih keras, seakan seluruh luka yang ia pendam berbulan-bulan ini akhirnya menemukan celah untuk keluar.

Galen mendekap Ainsley erat, seakan ingin menjadikan tubuhnya benteng yang melindungi wanita itu dari dunia yang kejam.

"Jangan dengarkan apa yang mereka katakan," bisik Galen, jemarinya terus mengusap punggung Ainsley menenangkan. "Dengar aku, Ainsley. Mau seperti apa pun dirimu, utuh ataupun tidak, sempurna ataupun tidak, aku tetap akan memilihmu. Aku mencintaimu... karena kau adalah kau. Karena kau adalah Ainsley."

Ia menarik sedikit wajah Ainsley, menatap langsung ke dalam matanya yang berlinang.

"Aku tetap akan mencintaimu, bahkan dengan semua ketidakutuhanmu, dengan semua hal yang mungkin orang lain anggap kurang. Untukku, kau sempurna. Untukku, kau sudah lebih dari cukup."

Galen mengecup ujung hidung Ainsley, lalu berbisik tepat di bibirnya, setengah bergetar karena emosi yang meluap-luap.

"Aku mencintaimu, Ainsley. Demi apapun di dunia ini... aku mencintaimu."

Galen memejamkan mata sejenak, menahan perih yang menusuk dada ketika ia merasakan tubuh kecil Ainsley yang terus berguncang dalam pelukannya.

Isakan wanita itu terdengar begitu memilukan, menyayat, seolah setiap tetes air mata yang membasahi kemeja putihnya adalah luka baru yang diukir di hatinya sendiri.

Tuhan..., batin Galen, memohon dalam diam.
Jika ini adalah hukuman untuk segala dosa dan kesalahannya di masa lalu, jangan—jangan Engkau limpahkan rasa sakit itu melalui Ainsley. Jangan biarkan wanita ini yang menanggungnya.

Karena, demi seluruh hidupnya, melihat Ainsley hancur seperti ini... jauh lebih menyakitkan daripada semua luka yang pernah ia rasakan sendiri.

Galen mengepalkan satu tangannya, memendam rasa bersalah yang menggerogoti setiap jengkal hatinya. Ia bisa merasakan kehancuran Ainsley bukan hanya dengan matanya, tapi dengan jiwanya sendiri.

Setiap isakan wanita itu adalah jeritan dalam dadanya. Setiap air mata yang jatuh, adalah cambukan untuk dirinya sendiri.

Rasanya, napas Galen pun ikut tersengal. Dada sesak, seakan dunia ini mengecil, menyesakkan, hingga yang tersisa hanya rasa bersalah, sakit, dan cinta yang tak terhingga.

Jika ini adalah balasan atas kesalahannya...
Maka Galen bersumpah, ia rela menanggung semuanya.

Asal jangan lagi melalui wanita ini. Asal jangan lagi melalui Ainsley—wanita yang seharusnya ia lindungi, bukan ia biarkan tersakiti.

Pria itu memeluk Ainsley lebih erat, seolah ingin menahan semua luka itu dalam pelukannya, agar tak lagi menyentuh wanita yang ia cintai dengan segenap jiwanya.

"Aku di sini," bisiknya serak, suaranya bergetar menahan segala kepedihan. "Aku bersamamu, Ainsley. Selalu."

Dan malam itu, di dalam mobil yang sunyi, hanya ada mereka berdua—dua hati yang hancur, saling mencari pegangan di tengah badai yang nyaris menenggelamkan.

ֶָ֢𐚁๋࣭⭑ֶָ֢

LOSE OR GET YOU
[28 April 2025]
-
-

LOSE OR GET YOU Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang