Welcome!
This story is made with love, so please respect it. Read, enjoy, and support!
Jangan lupa follow Instagram aku ya [@astihrbooks_]
ֶָ֢𐚁๋࣭⭑ֶָ֢
Beberapa hari telah berlalu sejak malam yang membekaskan luka itu. Seberapa besar pun seorang perempuan mencoba ikhlas, seberapa keras pun ia meyakinkan dirinya untuk kuat, tetap ada bagian dalam hatinya yang runtuh saat dihadapkan pada kenyataan tentang ketidakutuhan dirinya. Begitu pula Ainsley.
Ia berusaha, sungguh-sungguh berusaha berdamai dengan keadaan. Ia mencoba menepis semua ketakutan bodoh yang menggerogoti pikirannya. Namun tetap saja, setiap kali ia mendongak ke langit malam yang kosong, hatinya bertanya lirih kepada Tuhan—mengapa dari begitu banyak perempuan di dunia ini, harus dirinya yang menanggung rasa kehilangan itu?
Pintu balkon berderit halus saat angin malam menyelinap masuk.
"Kau belum tidur?"
Suara itu, dalam dan penuh kehangatan, membelah keheningan. Galen berdiri di ambang pintu, sosoknya diselimuti bayang cahaya bulan.
Ainsley, dalam piyama biru muda yang membungkus tubuh mungilnya, hanya melirik tanpa berkata. Tatapannya basah, dan Galen mengerti tanpa perlu dijelaskan. Dengan gerakan perlahan, ia membuka kedua lengannya, isyarat yang tak butuh kata-kata.
Tanpa suara, Ainsley melangkah lunglai ke arahnya, membiarkan dirinya tenggelam dalam dekapan Galen. Dada pria itu menjadi tempatnya berpulang—hangat, kuat, seolah seluruh dunia bisa ia lupakan di sana.
"Ada apa, hm?" gumam Galen lembut di telinganya, sambil mengusap punggungnya dengan gerakan menghibur. Ia membenamkan wajahnya dalam helai rambut Ainsley, membiarkan aroma manis samponya memenuhi inderanya.
Lama Ainsley terdiam, hanya membiarkan detak jantung Galen mengalun di telinganya. Sampai akhirnya, dengan suara nyaris sehalus bisikan, ia berkata, "Aku ingin punya anak..."
Galen terdiam.
"Aku ingin jadi ibu."
Ada jeda panjang setelah pengakuan itu. Malam membungkus mereka dalam keheningan yang berat namun penuh makna. Dan dalam diam, Galen mengecup puncak kepala istrinya, seolah berjanji—tanpa kata, tanpa syarat.
"Kau akan menjadi ibu, Ainsley."
Suara Galen merendah, serak oleh emosi. Ia merenggangkan pelukan hanya untuk bisa menatap kedua mata hijau itu—mata yang bagi Galen, selalu lebih indah daripada seluruh dunia.
"Tapi itu tidak mungkin..." bisik Ainsley, suara kecilnya nyaris menghilang.
Galen tersenyum, senyum yang hangat dan penuh keyakinan. "Tuhan itu baik. Percayalah padaku." Ia membelai pipi Ainsley dengan lembut.
"Kau ingat, bagaimana dulu kita? Betapa mustahilnya kita bisa bersama lagi? Namun nyatanya, di tengah segala ketidakmungkinan, Tuhan tetap mempertemukan kita. Itu buktinya. Jadi jangan menyerah, sayang."
Ainsley menunduk, dan di sela-sela helai rambut yang jatuh, terdengar suara hatinya yang penuh luka. "Kau tidak sedih? Tidak kecewa karena aku... tidak bisa memberimu penerus? Karena aku, tak ada darahmu yang bisa diwariskan."
KAMU SEDANG MEMBACA
LOSE OR GET YOU
Roman d'amour[SEQUEL FADED DESIRE] [BARNABY SERIES II] Tiga tahun lalu, Ainsley Lysander menandatangani surat perceraian dengan tangan gemetar dan hati yang hancur. Ia pergi tanpa menoleh, meninggalkan cinta yang menghanguskan sekaligus luka yang tak kunjung sem...
