Chapter 7 - The Same Feeling

24.6K 1.3K 23
                                        

Welcome!

This story is made with love, so please respect it. Read, enjoy, and support!

Jangan lupa follow Instagram aku ya [@astihrbooks_]

ֶָ֢𐚁๋࣭⭑ֶָ֢

Restoran bintang lima itu dipenuhi gemerlap cahaya temaram dan lantunan musik klasik yang mengalun lembut di latar. Aroma makanan mahal bercampur dengan wangi parfum para tamu yang berbaur dalam keanggunan malam.

Di salah satu sudut ruangan, Galen duduk bersama beberapa kliennya, membahas peluang bisnis dan berbagai keberhasilan. Percakapan mengalir lancar, gelas-gelas anggur beradu pelan, dan tawa terdengar sesekali.

Namun, jauh di lubuk hatinya, Galen bosan. Bukan karena ia membenci pekerjaannya—ia hanya lelah harus terus memasang senyum profesional dan memainkan peran yang sama malam demi malam.

Lalu, dalam sekejap, segalanya berubah.

Saat ia bersandar, matanya menangkap sosok yang sudah hampir dua minggu ini tak ia lihat.
Ainsley.

Wanita itu duduk tak jauh darinya, balutan gaunnya yang berwarna manis membingkai siluet tubuhnya dengan sempurna. Galen tahu ia tak sendirian, tapi hal itu tak penting. Toh, pada akhirnya, Ainsley akan kembali kepadanya.

Atau setidaknya, itulah yang ia yakini.

Matanya tak lepas dari Ainsley. Mengikuti setiap gerakan kecil yang mungkin tak disadari wanita itu sendiri. Cara bibirnya bergerak saat berbicara, kelopak matanya yang berkedip dengan ritme tertentu, hingga caranya memainkan ujung gelas anggurnya.

Every little thing Ainsley did, that was remembering why he fell in love with her.

Bola matanya terus bergerak, mengikuti setiap langkah Ainsley yang kini berdiri dari tempat duduknya. Wild, pria yang sedari tadi bersamanya, berjalan lebih dulu, sementara Ainsley mengekor di belakang.

Namun, ada sesuatu yang terasa janggal. Cara Ainsley melangkah, ekspresi wajahnya yang samar. Dilihat dari sudut mana pun, jelas ada sesuatu yang tengah terjadi.

Galen berdehem pelan, mengalihkan pandangannya pada dua kliennya sebelum memasang senyum profesional yang sudah menjadi kebiasaannya.

“Maaf jika ini terkesan kurang sopan,” ujar Galen dengan nada santun. “Tapi ada sesuatu yang harus segera aku urus. Aku harap kalian tidak keberatan jika aku pergi lebih dulu?”

Kedua orang itu saling berpandangan sebelum salah satunya mengangguk sambil tersenyum.

“Tentu saja, Mr. Barnaby. Kami tahu betapa sibuknya Anda. Bisa meluangkan waktu untuk makan malam saja sudah cukup berarti. Jika ada sesuatu, jangan ragu untuk menghubungi kami.”

Galen mengangguk, membalas dengan senyum tipis sebelum akhirnya berdiri.

Langkah panjangnya terasa berat namun pasti. Suara sepatunya berderap mantap di atas lantai restoran yang mewah, sementara pikirannya dipenuhi oleh satu sosok. Dari balik kaca besar yang membingkai halaman restoran, matanya menangkap Ainsley—berdiri sendirian dalam dinginnya malam.

Alisnya bertaut.

“Dia sendiri? Ke mana pria itu pergi?” batinnya.

Tanpa berpikir lebih lama, Galen mendorong pintu kaca, membiarkan udara malam yang dingin menerpa wajah dan menembus kemeja putihnya. Angin tipis menerbangkan beberapa helai rambut ikalnya, tapi ia tak peduli.

Langkahnya tegap, tanpa ragu, mendekati wanita itu. Dalam satu gerakan mulus, ia melepas jas biru tuanya dan tanpa basa-basi, menyelimuti tubuh mungil Ainsley dengan kain mahal itu.

LOSE OR GET YOU Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang