Chapter 35 - For them.

13.4K 883 95
                                        

Welcome!

This story is made with love, so please respect it. Read, enjoy, and support!

Jangan lupa follow Instagram aku ya [@astihrbooks_]

ֶָ֢𐚁๋࣭⭑ֶָ֢

Pagi itu juga, tanpa menunggu waktu lebih lama, Galen dan Ainsley langsung meluncur menuju rumah sakit. Hati mereka penuh harap, namun juga dibayangi ketakutan. Selama hampir satu tahun, jawaban dari doa-doa mereka selalu ‘belum’. Tapi hari ini… harapan itu terasa begitu nyata.

Dan ketika dokter akhirnya menatap mereka dengan senyum tulus dan ucapan lembut, “Selamat, Ainsley… Anda hamil,” dunia seakan berhenti sejenak.

Ainsley menggenggam tangan Galen erat, air mata membasahi pipinya, tapi kali ini—bukan karena kesedihan. Untuk pertama kalinya, Tuhan berpihak pada mereka, pada cinta yang selama ini mereka jaga meski penuh luka dan keraguan.

Dalam perjalanan pulang melewati jalanan lengang kota Melbourne, Galen mengendarai Aston Martin-nya dengan kecepatan yang membuat siput tampak seperti pelari maraton.

Ainsley yang duduk di sebelahnya melirik dengan ekspresi geli. “Galen, ini jalan raya, bukan taman hiburan. Bisa kau pacu sedikit?”

Tanpa mengalihkan pandangan dari jalan, Galen menjawab tenang, “Tidak bisa. Dokter bilang kehamilanmu rentan, dan aku tidak akan ambil risiko. Bahkan polisi pun tak akan bisa menyuruhku melaju lebih cepat hari ini.”

Ainsley menghela napas, lalu terkekeh pelan. “Kau tahu, kalau kita disalip sepeda sekarang, aku tidak akan kaget.”

“Aku serius, sayang. Mobil ini sekarang bukan cuma membawa kita… tapi juga masa depan kecil kita.”

Ucapannya sederhana, tapi menohok tepat di jantung Ainsley. Ia melirik Galen, dan meski pria itu terlihat sangat serius menyetir, ada senyum kecil di ujung bibirnya—senyum seorang calon ayah yang belum sepenuhnya percaya kalau mimpinya baru saja menjadi nyata.

Ainsley bersandar pelan di kursi, memejamkan mata. Ia menggenggam perutnya, lalu tersenyum.

Terima kasih, Tuhan… untuk keajaiban ini.

Begitu sampai di rumah, Galen nyaris tak memberi waktu bagi mesinnya untuk benar-benar mati sebelum ia turun dan bergegas membuka pintu untuk Ainsley. Gerakannya cepat, namun masih menyisakan kelembutan khas seorang pria yang sedang jatuh cinta—kali ini bukan hanya pada istrinya, tapi juga pada kehidupan baru yang tengah mereka jaga.

Tangannya terulur, kokoh dan siap menjadi tumpuan. Ainsley menyambutnya dengan senyum geli, jemarinya menyatu dalam genggaman hangat Galen yang membuat jantungnya kembali berdebar seperti gadis belasan tahun.

“Kau ini berlebihan sekali,” ujarnya terkikik pelan.

“Apapun akan kulakukan... demi memastikan ratu dan calon putriku aman,” balas Galen dengan senyum sombong yang manis.

Ainsley mengangkat alis. “Putri, hm? Bagaimana jika dia seorang putra?”

Galen memiringkan kepala, pura-pura menghela napas berat. “Sedikit menyebalkan, karena artinya aku akan punya saingan.”

Gelak tawa mereka pun pecah, ringan dan riang, melayang bersama semilir angin pagi yang membelai dedaunan. Langit biru di atas mereka seakan ikut tersenyum—menyambut keajaiban kecil yang kini tumbuh di antara dua hati yang pernah hancur, namun memilih untuk memperbaiki, bukan meninggalkan.

Langkah demi langkah mereka ayunkan menuju rumah yang dulu terasa terlalu besar untuk hanya dihuni dua jiwa kesepian. Kini, rumah itu serasa bernyawa, penuh harap dan cinta yang nyaris sempurna.

Penantian mereka... yang telah terentang sejak hari-hari ketika keduanya masih remaja, terbayar lunas hari ini. Cinta yang pernah terputus dan berantakan, kini terajut utuh dengan simpul yang lebih kuat dari sebelumnya.

Dan sekali lagi—Tuhan, dengan segala kasih dan rahasia-Nya, memberkati mereka. Bukan hanya dengan keajaiban dalam bentuk garis samar pada sebuah alat kecil, tapi juga dengan harapan baru, cinta baru, dan keluarga kecil yang akan segera tumbuh di antara pelukan mereka.

ֶָ֢𐚁๋࣭⭑ֶָ֢

Awalnya Ainsley pikir, kehamilan kali ini akan lebih ringan. Ia membayangkan bisa berjalan santai di taman dengan tangan di perutnya yang membuncit, atau duduk sambil membaca buku ditemani secangkir cokelat hangat. Tapi kenyataan menamparnya tanpa belas kasih—sama seperti dulu, bahkan mungkin lebih berat.

Setiap pagi berubah menjadi ujian. Mual hebat, muntah yang tak kunjung reda, tubuh yang selalu letih, dan nafsu makan yang entah kemana menghilang.

Bahkan kini, ketika usia kehamilannya telah menginjak bulan ketujuh dan perutnya membulat indah, semua gejala itu belum juga pergi. Ainsley merasa tubuhnya memberontak, seolah tak siap, namun hatinya bersikeras melawan.

“Dokter bilang kehamilanmu rentan, Ainsley,” suara Galen terdengar lagi sore itu, lembut namun tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. “Apalagi kalau kau terus-terusan tidak makan. Aku takut terjadi apa-apa... pada kalian berdua.”

Ainsley hanya bisa menghela napas. Ia tahu. Ia paham. Tapi itu tak lantas membuat semuanya menjadi lebih mudah. Makanan yang biasanya ia sukai kini tampak menjijikkan. Setiap kali hendak menyuap, rasa mual sudah lebih dulu menumpuk di tenggorokan.

“Nanti saja,” gumamnya lirih, menunduk. Suaranya seperti bisikan yang nyaris patah.

Galen menatap istrinya lama, lalu menunduk, menyembunyikan kekecewaan dan cemasnya dalam diam. Selama berjam-jam ia mencoba, membujuk, memohon, bahkan memanjakan, hanya agar Ainsley mau makan barang beberapa suap. Tapi Ainsley tetap keras kepala—atau mungkin sudah terlalu lelah untuk berjuang lebih keras dari ini.

Ia memandangi wanita yang duduk di hadapannya. Dulu, Ainsley adalah sosok penuh cahaya dengan pipi yang bersemu merah dan mata berbinar cerah. Kini, tubuhnya yang dulu berisi tampak lebih ringkih, wajahnya lebih pucat, dan sorot matanya kadang tampak kosong.

Dan Galen tahu... seharusnya Ainsley memang tak pernah hamil. Tubuhnya terlalu rapuh untuk menopang kehidupan lain di dalam dirinya. Tapi perempuan itu keras kepala, bahkan terhadap takdir. Ia tetap memelihara harapan meski tubuhnya tak kuasa. Dan demi itu, Galen takkan pernah berhenti menjaganya.

Ia berlutut di depan Ainsley, meraih tangan mungil itu dan menciumnya pelan.

"Kalau tidak bisa makan banyak... satu suap saja, untukku," bisiknya. "Kau tak perlu kuat sendirian. Aku akan jadi kuat untuk kita berdua, untuk kalian berdua."

Dan kali ini, entah karena bisikan lembut itu atau karena kelembutan di mata Galen yang tak bisa diabaikan, Ainsley akhirnya mengangguk kecil.

Satu suap. Satu langkah kecil untuk tetap bertahan.

Untuk mereka.

ֶָ֢𐚁๋࣭⭑ֶָ֢

LOSE OR GET YOU
[2 Mei 2025]
-
-

LOSE OR GET YOU Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang