Welcome!
This story is made with love, so please respect it. Read, enjoy, and support!
Jangan lupa follow Instagram aku ya [@astihrbooks_]
ֶָ֢𐚁๋࣭⭑ֶָ֢
Enam bulan telah berlalu sejak hari di mana Ainsley dan Galen mengikat janji. Enam bulan penuh harap, penuh doa yang diam-diam mereka gumamkan setiap malam sebelum tidur.
Fajar baru saja menyapu langit dengan semburat keemasan ketika Ainsley berdiri mematung di depan cermin kamar mandi. Cahaya lembut pagi hari tak mampu menutupi betapa kosong dan sedihnya raut wajahnya. Tangannya bergetar, menggenggam erat benda kecil pipih yang kini terasa begitu berat—sebuah alat tes kehamilan dengan satu garis merah tegas di sana.
Satu garis. Lagi.
Ainsley menunduk, menahan napas yang terasa sesak di dadanya. Matanya memanas, kerongkongannya tercekat. Rasanya seperti berkali-kali dipatahkan, berkali-kali diingatkan bahwa tubuhnya belum juga mampu menghadirkan apa yang selama ini mereka impikan.
Sudah entah berapa kali ia mengalaminya. Setiap bulan, setiap telat datang bulan, ada harapan kecil yang tumbuh dalam diam—hanya untuk hancur lagi di pagi seperti ini.
Ketukan lembut di pintu membuyarkan lamunannya.
"Ainsley...?" suara Galen terdengar dari balik pintu, penuh perhatian dan kekhawatiran. Ia menunggu di luar, seperti pagi-pagi sebelumnya, siap menjadi sandaran istrinya.
Dengan napas berat, Ainsley akhirnya membuka pintu. Matanya langsung bertemu dengan tatapan suaminya—hangat, sabar, seolah Galen sudah tahu jawaban tanpa perlu bertanya.
Tanpa berkata apa-apa, Galen langsung menarik tubuh kecil Ainsley ke dalam pelukannya. Ia memeluknya erat, seolah ingin menahan seluruh kesedihan yang wanita itu rasakan.
Sambil mengusap lembut punggung Ainsley, Galen berbisik di telinganya, suaranya dalam dan menenangkan.
"Tidak apa-apa, sayang. Kita coba lagi... kapan pun kau siap."
Ainsley menggigit bibirnya, menahan air mata yang akhirnya jatuh di bahu pria itu. Pelukan Galen erat, stabil, dan benar-benar terasa seperti rumah—rumah yang tak akan pernah mencela, tak akan pernah menyerah.
Galen mencium pelipis istrinya, lama sekali, sebelum kemudian membisikkan sesuatu yang membuat dada Ainsley bergetar.
"Aku tidak menikahimu untuk menjadi ibu dari anakku, Ainsley. Aku menikahimu... karena aku ingin hidup bersamamu. Dengan atau tanpa mereka, kau tetap seluruh hidupku."
Di dalam pelukan hangat itu, untuk pertama kalinya pagi itu, Ainsley bisa menghela napas sedikit lebih lega. Mungkin memang tidak hari ini, tidak esok, atau mungkin... tidak sama sekali. Tapi satu yang pasti, ia tidak pernah sendiri.
"Maafkan aku," bisik Ainsley lirih, suaranya hampir tak terdengar, teredam dalam dada bidang Galen yang ia peluk seerat mungkin, seolah takut kehilangan.
Galen menghela napas panjang, penuh kesabaran dan kasih. Ia merunduk sedikit, mengecup puncak kepala istrinya dengan ciuman panjang dan penuh rasa. Sentuhan itu bukan sekadar pelukan atau kecupan biasa—itu adalah jaminan, janji tanpa syarat.
"Kau tak berbuat dosa, Ainsley," bisiknya, suaranya dalam, berat oleh ketulusan. Ia mengusap rambut Ainsley perlahan, menenangkan getar tubuh kecil itu. "Jangan pernah minta maaf. Kau... kau sudah lebih dari cukup. Lebih dari apapun yang pernah aku minta dari dunia ini."
KAMU SEDANG MEMBACA
LOSE OR GET YOU
Romance[SEQUEL FADED DESIRE] [BARNABY SERIES II] Tiga tahun lalu, Ainsley Lysander menandatangani surat perceraian dengan tangan gemetar dan hati yang hancur. Ia pergi tanpa menoleh, meninggalkan cinta yang menghanguskan sekaligus luka yang tak kunjung sem...
