Welcome!
This story is made with love, so please respect it. Read, enjoy, and support!
Jangan lupa follow Instagram aku ya [@astihrbooks_]
ֶָ֢𐚁๋࣭⭑ֶָ֢
Ferrari merah menyala itu berhenti mulus saat lampu lalu lintas berubah merah. Suaranya mendengung halus, kontras dengan tatapan penuh decak kagum dari pejalan kaki di sekitarnya.
Beberapa remaja mengarahkan kamera ponsel mereka, sibuk mengabadikan momen langka: mobil supercar yang mungkin hanya bisa mereka lihat di film atau media sosial.
Galen duduk santai di balik kemudi, jari-jarinya mengetuk ringan setir berlogo kuda jingkrak itu. Ia tahu ia menjadi pusat perhatian, dan bukannya terganggu—ia menikmatinya. Senyum tipis terbit di sudut bibirnya.
Namun senyumnya memudar perlahan saat ia mulai merogoh saku jasnya. Dahi Galen mengernyit. Saku kanan kosong. Saku kiri? Nihil. Ia menoleh ke kursi sebelah, ke konsol tengah—tak ada.
Sial.
Ponsel dan dompetnya... tertinggal di tas Ainsley.
Ingatan akan wajah ceria Ainsley saat mereka duduk di taman tadi pagi menyelusup cepat. Galen bahkan ingat jelas bagaimana ia menyerahkan dompet dan ponselnya, meminta wanita itu menyimpannya agar tak terganggu notifikasi saat mereka menikmati waktu bersama.
Dan sekarang? Mobil ini memang bisa melaju ratusan kilometer per jam, tapi tak akan ada gunanya jika ia tak bisa masuk kantor, tak bisa membayar parkir, bahkan tak bisa menunjukkan ID.
Tanpa pikir panjang, Galen membelokkan mobilnya. Bukan ke arah perusahaannya, melainkan kembali ke arah apartemen Ainsley.
Jaraknya cukup jauh, karena sebelumnya ia sudah hampir sampai di distrik bisnis. Tapi rasa frustrasi tercampur geli membuatnya tak terlalu keberatan. Mungkin... ini juga alasan kecil untuk melihat Ainsley sekali lagi hari ini.
Setelah akhirnya memarkir mobilnya di halaman gedung, ia melangkah masuk, melewati lobi marmer dan penjaga yang sudah hafal dengan wajahnya. Jari telunjuknya menekan tombol lift, lalu berdiri dengan satu tangan di saku, menunggu.
Beberapa detik kemudian, ia sudah berdiri di depan pintu apartemen wanita itu.
Dan entah kenapa... hatinya sedikit berdebar.
Galen menekan bel apartemen, sekali... dua kali... namun tak kunjung ada jawaban. Ia mendesah, alisnya berkerut. Tangannya kembali menekan bel, kali ini lebih lama, berharap suara dari dalam akan menyahut.
Namun sunyi. Terlalu sunyi.
Mungkin Ainsley sedang mandi? Atau mungkin keluar sebentar? Tapi... kenapa firasatnya terasa begitu tak enak?
Galen menghela napas resah, dadanya mulai terasa sesak oleh kegelisahan yang tak bisa ia jelaskan. Tangannya menggenggam gagang pintu yang terkunci, mengetuk pelan—lalu makin keras, makin mendesak.
"Ainsley?" panggilnya. Lalu lebih keras lagi, "AINSLEY, KAU DI DALAM?"
Tak ada balasan. Hanya kesunyian yang kian terasa mencekam.
Ketukan berubah jadi gebukan panik, nadanya tak lagi santai. Jantung Galen mulai berdentum cepat, instingnya menjerit. Sesuatu tidak beres.
"AINSLEY! JAWAB AKU!"
Sementara itu, di dalam apartemen, badai sudah meletus.
Ainsley tergeletak di sofa, tubuhnya gemetar, wajahnya basah oleh air mata. Wild berada di atasnya, memburu nafas, tangan-tangannya menjalar tanpa izin. Bibirnya mendarat di tempat yang tak seharusnya, sementara suara bel dari luar pintu membuat Ainsley ingin berteriak sekuat tenaga.
Namun tangannya ditahan. Mulutnya dibekap. Air matanya tumpah makin deras.
"Diam," bisik Wild di telinganya, serak dan menyeramkan. "Satu suara saja, aku pastikan dia tak akan pernah melihatmu lagi."
Ainsley menjerit—dalam hati. Tubuhnya menggigil. Ia menyebut nama Galen dalam gumaman lirih, memohon dalam hati agar pria itu tak menyerah, agar ia masuk dan menyelamatkannya.
Hingga kemudian, entah kekuatan dari mana datangnya, Ainsley menendang. Sekuat yang ia mampu. Tangannya mendorong, kakinya menendang liar, penuh panik dan keputusasaan.
Wild terlempar dari sofa, jatuh menghantam lantai dengan bunyi berdebam keras.
Ainsley bangkit secepat mungkin, namun tak sempat melangkah jauh. Wild menarik pergelangan kakinya, menarik paksa hingga tubuh Ainsley membentur keras ke lantai. Dahinya menghantam ujung rak rendah, meninggalkan luka lebam keunguan yang langsung membekas.
"Lepaskan aku!!" teriaknya, kini tak lagi peduli. Frustrasi. Ketakutan. Tersayat-sayat.
Suara teriakannya akhirnya menembus pintu—dan Galen mendengarnya.
Matanya membelalak. Tak butuh waktu lama bagi kepanikan itu menjelma jadi tindakan.
Dan ketika ia menghempaskan tubuhnya ke pintu dengan bahu terkunci—ia bersumpah, akan menghancurkan siapa pun yang menyentuh Ainsley seperti itu.
Ainsley terus meronta, sekuat tenaga, meski tubuhnya melemah. Kakinya menendang liar, tangannya mencakar, berusaha memukul, menyingkirkan apa pun yang menahannya.
“Tuhan, tolong aku… tolong aku…” batinnya menjerit putus asa.
Kepalanya berdenyut hebat. Rasa perih di dahinya makin menggila saat ia merasakan sesuatu yang hangat dan lengket mengalir turun dari pelipisnya—darah. Air matanya membanjir, bercampur dengan cairan merah itu, menodai pipinya yang pucat ketakutan.
Di luar sana, suara dentuman pintu yang terus didobrak terdengar nyaring di telinganya. Ainsley menangis lebih keras lagi, bukan karena putus asa, tapi karena harapan kecil itu masih menyala di ujung gelap hidupnya.
"Galen... tolong aku... jangan pergi..."
Dari dasar kehancuran itu, ia mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya. Tubuhnya terhuyung saat berhasil mendorong Wild sekali lagi—cukup untuk membuat pria itu terjatuh sesaat.
Dengan napas tak beraturan dan langkah yang terpincang, Ainsley menyeret dirinya menuju pintu. Jarak itu tak lebih dari beberapa meter, tapi rasanya seperti menempuh ribuan mil.
Tangannya gemetar saat meraih gagang pintu. Jari-jarinya yang kotor dan berdarah mencari kunci, menyelipkannya, memutarnya dengan tenaga terakhir yang ia punya.
Klik.
Pintu terbuka lebar, dan di hadapannya, seperti cahaya di ujung terowongan gelap, berdiri Galen.
Matanya membelalak saat melihat kondisi Ainsley. Napasnya tercekat. Wajah itu berlumuran darah dan air mata, tubuh itu gemetar hebat, pakaian yang berantakan dan sorot mata yang penuh trauma, semuanya membuat amarah di dalam dirinya meledak.
Namun sebelum Galen sempat melangkah masuk, Ainsley lebih dulu terjatuh ke arahnya, tubuhnya ambruk dalam pelukannya.
"He... he touched me," bisiknya lirih, hampir tak terdengar, sebelum akhirnya kesadarannya perlahan meredup.
Galen berdiri di ambang pintu itu, dengan Ainsley di pelukannya dan amarah membakar matanya. Sorot matanya lalu menajam pada satu sosok di dalam apartemen.
Wild yang kini berdiri, napasnya kasar, menatap balik dengan pandangan yang tak kalah gila.
"Kau mati hari ini." suara Galen nyaris seperti geraman hewan buas.
ֶָ֢𐚁๋࣭⭑ֶָ֢
LOSE OR GET YOU
[6 April 2025]
-
-
KAMU SEDANG MEMBACA
LOSE OR GET YOU
Romance[SEQUEL FADED DESIRE] [BARNABY SERIES II] Tiga tahun lalu, Ainsley Lysander menandatangani surat perceraian dengan tangan gemetar dan hati yang hancur. Ia pergi tanpa menoleh, meninggalkan cinta yang menghanguskan sekaligus luka yang tak kunjung sem...
