Chapter 21 - Grudge Till Death

17.2K 946 13
                                        

Welcome!

This story is made with love, so please respect it. Read, enjoy, and support!

Jangan lupa follow Instagram aku ya [@astihrbooks_]

ֶָ֢𐚁๋࣭⭑ֶָ֢

Mata Galen yang biasanya memancarkan kehangatan dan senyuman manis kini berubah menjadi kegelapan murni. Tak ada lagi keraguan, tak ada lagi belas kasih. Yang tersisa hanyalah bara api yang siap membakar habis siapa pun yang berani menyentuh miliknya.

Perlahan, ia membaringkan Ainsley di lantai dengan hati-hati, menyentuhnya seolah wanita itu adalah porselen rapuh yang hampir hancur. Namun saat ia berdiri kembali, tubuhnya menegang. Rahangnya mengeras. Setiap langkah yang ia ambil menuju pria itu bagaikan dentuman takdir yang tak bisa dihindari.

Sorot mata mereka bertemu—Galen dan Wild. Tapi hanya satu yang menunjukkan siapa pemburu dan siapa mangsa.

Tanpa aba-aba, tangan Galen melesat, menghantam keras rahang Wild hingga terdengar bunyi tulang beradu yang membuat siapa pun yang mendengarnya bergidik. Wild terhuyung, jatuh menghantam lantai dengan napas memburu.

Namun belum sempat ia menarik udara dengan utuh, kaki Galen sudah menghantam dadanya. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Hingga terdengar suara retakan dan batuk darah dari mulut Wild.

“Beraninya kau menyentuhnya,” suara Galen rendah, nyaris seperti desisan iblis yang murka.

Inilah Galen yang sebenarnya. Sosok yang selama ini tersembunyi di balik senyum menawan dan pesona memabukkan. Bukan pria lembut yang dikenal publik, tapi predator yang tumbuh besar dengan kekejaman dan darah di tangannya.

Untuk mencapai puncak, Galen sudah lama membuang nuraninya. Lawan bisnis, pesaing, pengkhianat—semua sudah pernah dia singkirkan. Tanpa ampun. Tanpa belas kasihan.

Dan sekarang, ada Wild. Brengsek bejat yang dengan lancang menyentuh wanitanya. Melukai Ainsley.

Bibir Galen melengkung, bukan senyum ramah, tapi seringai tajam penuh niat mematikan.

"Kau sudah lewat batas, bajingan. Malam ini..." Galen mendekat, menarik kerah Wild yang sudah setengah sekarat. "…Tuhan pun tak akan menyelamatkanmu dariku."

"Lalu bagaimana denganmu?" Wild tergelak lirih meski darah mengucur dari sudut bibirnya. Suaranya serak, tertahan oleh rasa sakit yang membakar tiap inci tubuhnya. "Bisakah kita bertemu... di neraka?"

Satu detik. Dua detik. Lalu—

BRAK!

Tinju Galen menghantam wajah Wild sekali lagi. Suara tulang bertemu tulang menggema di ruangan, begitu nyaring hingga terdengar seperti cambuk murka dari dewa perang.

"Setidaknya aku akan berada di tingkat neraka yang lebih tinggi dari tempatmu, bajingan!" suara Galen meraung, bukan hanya berisi amarah, tapi luka, pengkhianatan, dan perlindungan naluriah terhadap satu-satunya wanita yang tak ingin ia lihat terluka.

Pukulan demi pukulan kembali dilayangkan. Setiap hantaman seperti pelepasan dari neraka pribadi Galen sendiri—rasa bersalah karena tak datang lebih cepat, rasa takut karena hampir kehilangan, dan kebencian mendalam karena seseorang berani menyentuh miliknya tanpa izin.

LOSE OR GET YOU Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang