Welcome!
This story is made with love, so please respect it. Read, enjoy, and support!
Jangan lupa follow Instagram aku ya [@astihrbooks_]
ֶָ֢𐚁๋࣭⭑ֶָ֢
Galen tetaplah Galen—keras kepala, sulit diatur, dan selalu melakukan apa pun yang ia mau. Mana bisa ia begitu saja menerima perintah Ainsley? Terlebih, bagaimana mungkin ia pergi begitu saja setelah semalam wanita itu menyerahkan dirinya sepenuh hati dalam pelukannya?
Alih-alih beranjak, pria itu justru duduk di atas kasur, punggungnya tegap, dada bidangnya terekspos tanpa sehelai benang pun. Hanya selimut yang melingkar di pinggangnya, menutupi bagian bawah tubuhnya. Matanya tajam menatap Ainsley, penuh keheranan sekaligus tantangan.
“Kau mengusirku setelah semalam kau memohon agar aku tak melepaskanmu?” tanyanya, satu alisnya terangkat.
Ainsley terdiam, matanya terpejam sejenak, mencoba mengatur napas yang terasa begitu berat. Saat ia membuka mata lagi, sorotnya telah berubah.
“Jika ini terus berlanjut... kita akan melangkah terlalu jauh.”
“Itu memang tujuanku,” potong Galen cepat. Suaranya dalam, tegas, dan tak terbantahkan. “Aku ingin melangkah sejauh mungkin. Aku ingin membawamu kembali padaku, Ainsley. Memilikimu lagi, sepenuhnya.”
Ainsley menggeleng, suaranya bergetar ketika ia berkata, “Berhentilah dan pergi.”
“Tidak mau.”
“Galen!”
“Apa?!” suara pria itu meninggi, tak kalah tegas. Mata mereka bertemu dalam tatapan sengit, seakan berusaha saling menjatuhkan.
“Aku akan pergi meninggalkanmu saat aku mati nanti,” lanjut Galen, rahangnya mengeras. “Jangan repot-repot mengusir.”
Ainsley tercekat. Napasnya tersangkut di tenggorokan. Ia masih terbaring di atas kasur, menatap pria yang keras kepala itu dengan mata yang mulai berair.
Bagaimana bisa ia menghadapi seseorang seperti Galen—seseorang yang bahkan setelah tiga tahun berlalu, masih memiliki kendali penuh atas hatinya?
Dan di situlah masalahnya. Karena Ainsley tahu, jika ia tidak cukup kuat kali ini, maka ia akan jatuh lagi. Ke dalam genggaman Galen. Ke dalam rasa yang dulu hampir menghancurkannya.
Kasur di antara mereka sedikit bergoyang saat Galen bergerak, perlahan namun pasti. Pria itu membaringkan tubuhnya, berhadapan langsung dengan Ainsley sebelum menariknya ke dalam dekapannya.
Hangat. Begitu dalam, begitu mendebarkan.
Dada bidangnya terasa kokoh di depan Ainsley, nafasnya berhembus pelan di atas rambut wanita itu, dan tangan besarnya yang hangat bergerak lembut, mengelus kepala Ainsley seakan ia adalah sesuatu yang paling berharga di dunia ini.
“Silakan berusaha sebisamu untuk mengusirku dari hidupmu,” ucapnya rendah, suaranya begitu stabil namun penuh keyakinan.
Ainsley diam, tidak bergerak, hanya mendengarkan.
“Tapi, Ainsley...” Galen menarik napas dalam sebelum melanjutkan. “Tidak akan pernah aku biarkan diriku kehilanganmu lagi. Sampai aku mati. Bahkan jika kau lari ke ujung dunia sekalipun. Bahkan jika aku harus mengorbankan seluruh kekayaanku dan berhutang seumur hidupku, aku akan tetap mengejarmu. Aku akan tetap memiliki dan membawamu kembali ke dalam hidupku.”
Suaranya begitu yakin, seolah tak ada yang bisa menggoyahkan tekadnya.
Hening menggantung di antara mereka, hanya suara napas yang terdengar di dalam kamar yang temaram. Ainsley tidak tahu harus merespons seperti apa. Hatinya bergejolak, antara ingin melawan dan ingin menyerah dalam dekapan ini.
Lalu, suara Galen terdengar lagi, lebih dalam, lebih mengakar ke dalam jiwanya.
“Ini bukan sekadar janji, Ainsley.”
Pria itu menatapnya, tepat ke dalam mata hijau yang kini berkabut emosi.
“Ini sumpahku padamu.”
𐚁๋࣭⭑ֶָ֢
Ketika dua manusia memilih untuk berpisah, namun semesta menolak perpisahan itu, akan ada seribu satu cara yang membuat mereka kembali bertemu.
Namun, jika semesta benar-benar merestui perpisahan mereka, maka tidak ada kebetulan yang cukup kuat untuk mempertemukan mereka lagi.
Lalu, bagaimana dengan Ainsley dan Galen?
Apa sebenarnya yang diinginkan semesta untuk mereka?
Tiga tahun berlalu tanpa pertemuan, tanpa jejak, tanpa isyarat. Bukankah itu cara semesta mengisyaratkan bahwa kisah mereka memang sudah selesai? Bahwa takdir mereka memang bukan untuk bersama?
Tapi jika benar begitu, mengapa hari ini mereka terbangun di ranjang yang sama? Mengapa tubuh mereka masih saling mencari dalam gelap, seakan tak pernah benar-benar bisa melepaskan?
Apakah semesta ragu dengan keputusannya? Atau mungkin... ini adalah kesempatan terakhir?
Sebuah peluang kecil yang diberikan semesta—bukan sekadar pertemuan biasa, tetapi sebuah pilihan. Kesempatan bagi mereka untuk kembali memiliki... atau benar-benar kehilangan.
Galen menghela napas, menatap punggung Ainsley yang masih merengut di sofa. Dari tadi, sikap wanita itu tak berubah—judes, galak, penuh sindiran. Tapi ketika ia mengatakan ingin pulang, ekspresinya justru terlihat lebih kesal.
Dasar wanita.
“Aku pulang, ya?” tanyanya, suaranya hangat, selembut tatapannya saat menatap Ainsley.
Alih-alih menjawab dengan baik, Ainsley malah melipat tangan di dada dan menatap lurus ke depan.
“Sana, pulang saja! Tidak usah datang lagi!” sergahnya ketus.
Galen terkekeh pelan, meskipun kepalanya sudah mulai berasap karena bingung. Kalau memang tidak ingin dia pergi, kenapa tidak bilang saja? Kenapa wanita selalu memilih jalan yang sulit?
Tanpa ragu, Galen mendekat, berdiri di belakangnya. Tangannya perlahan bergerak, melingkar di pinggang Ainsley, menariknya dalam dekapan hangat. Ia merunduk, mencium pucuk kepala wanita itu dengan lembut.
“Kau ingin aku tetap tinggal?” tanyanya pelan, suaranya sarat akan godaan.
Ainsley berdecih, tapi bahunya menegang.
“Siapa yang mau? Sana pergi. Huss... huss...” katanya, seakan sedang mengusir kucing liar.
Galen terkekeh lagi, kali ini lebih keras. Sementara hatinya berteriak frustasi.
Ya Tuhan, kenapa memahami wanita masih tetap menjadi misteri terbesar di hidupnya?
“Mau jalan-jalan, hm?” tanya Galen, mencoba mengalihkan perhatian Ainsley yang masih merengut.
Dan... berhasil.
Perlahan, wanita itu menoleh, mata hijaunya berkilat penuh harapan—seperti anak anjing yang baru saja mendengar kata “cemilan.”
“Aku ingin ke taman. Minggu ini ada festival di sana,” jawab Ainsley dengan nada yang jauh lebih lembut.
Galen tersenyum tipis. “Kenapa tak bilang dari tadi, sayang?” batinnya geli.
“Oke, ayo.”
Ainsley langsung berseri-seri, senyum lebar merekah di wajahnya. Astaga, kenapa pria ini baru peka sekarang? Dengan langkah ringan dan penuh semangat, ia segera melangkah menuju kamar, bersiap-siap mengganti pakaian dan merias sedikit wajahnya.
Galen menggeleng pelan, menatap punggung wanita itu dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
Ternyata, Ainsley-nya masih sama.
Ia sempat berpikir bahwa wanita itu sudah berubah, bahwa gadis yang dulu ia kenal telah menghilang seiring waktu. Tapi nyatanya, Ainsley yang manis dan menggemaskan itu masih ada—masih tersimpan di sana, di balik setiap sindiran dan sikap keras kepalanya.
Dan entah kenapa, itu membuat Galen semakin yakin.
ֶָ֢𐚁๋࣭⭑ֶָ֢
LOSE OR GET YOU
[2 April 2025]
-
-
Cerita ini akan aku update pelan-pelan saja ya.
KAMU SEDANG MEMBACA
LOSE OR GET YOU
Romance[SEQUEL FADED DESIRE] [BARNABY SERIES II] Tiga tahun lalu, Ainsley Lysander menandatangani surat perceraian dengan tangan gemetar dan hati yang hancur. Ia pergi tanpa menoleh, meninggalkan cinta yang menghanguskan sekaligus luka yang tak kunjung sem...
