Welcome!
This story is made with love, so please respect it. Read, enjoy, and support!
Jangan lupa follow Instagram aku ya [@astihrbooks_]
ֶָ֢𐚁๋࣭⭑ֶָ֢
Tak ada satu pun manusia yang benar-benar mengerti bagaimana Tuhan mengatur takdir.
Terkadang, sesuatu yang terlihat seperti jalan terbaik justru berbalik menjadi sesuatu yang paling ingin dihindari.
Ainsley tidak tahu. Tidak paham.
Dulu, ia pikir menandatangani surat cerai tiga tahun lalu dan menghilang dari hidup Galen Barnaby adalah keputusan terbaik yang bisa ia ambil. Ia yakin, itulah cara paling tepat untuk akhirnya terbebas dari pria itu—untuk memulai hidup baru tanpa bayang-bayang masa lalu.
Namun sekarang… kenapa Tuhan justru mempertemukan mereka kembali?
Apa sebenarnya yang Tuhan inginkan dari mereka berdua?
Ainsley menghela napas panjang, membiarkan pikirannya mengembara dalam kebingungan. Ia duduk di sofa ruang tengah apartemennya, iPad tergenggam erat di tangannya.
Cahaya lampu kota Melbourne berpendar indah dari balik jendela besar di hadapannya, namun keindahan itu sama sekali tak mampu mengalihkan perhatiannya.
Bukan tanpa alasan.
Di layar iPad-nya, berbagai artikel bisnis bertebaran, tapi hanya satu berita yang sukses membuat pikirannya kacau.
‘Galen Barnaby Resmikan Perusahaan Baru di Melbourne – Dikabarkan Akan Tinggal di Kota Ini.’
Tangannya mengepal tanpa sadar.
“Dari sekian banyak kota di dunia…” gumamnya pelan, suaranya penuh frustrasi. “Kenapa harus Melbourne?”
Suara bel apartemen berbunyi nyaring, menggema di ruangan yang tadinya sunyi.
Ainsley, yang tengah tenggelam dalam pikirannya, sontak menoleh ke arah pintu. Dahinya berkerut.
Siapa yang datang malam-malam begini?
Sekilas, ia melirik jam di layar iPad—pukul 9 malam. Terlalu larut untuk tamu tak diundang.
Dengan sedikit ragu, ia bangkit dari sofa, meletakkan iPad begitu saja sebelum menyarungkan kakinya ke sandal rumah. Langkahnya pelan, hampir tanpa suara, saat ia mendekati pintu.
Sesampainya di depan, ia mengintip melalui lubang kecil di pintu.
Kosong.
Tak ada siapa pun di luar sana. Hanya lorong apartemen yang sepi dan lampu temaram yang menerangi jalan.
Jantungnya mulai berdetak lebih cepat. Keraguan merayapi benaknya. Tapi tetap saja, tangannya terangkat, jemarinya perlahan memutar kenop pintu, membukanya dengan hati-hati.
Begitu pintu terbuka, ia kembali menyapu pandang ke lorong. Tidak ada siapa pun.
Namun sesuatu di lantai menarik perhatiannya.
Sebuket bunga.
Ainsley menunduk, matanya membulat saat melihat jelas jenis bunga itu. Aster putih.
Jemarinya terulur, meraih buket cantik itu dengan perlahan. Aroma segarnya langsung menyapa hidungnya.
“Aster...?” bisiknya nyaris tak terdengar.
Matanya kembali menyapu lorong, berharap menemukan bayangan seseorang—siapa saja yang mungkin meninggalkan bunga ini. Namun sejauh mata memandang, yang ada hanya kesunyian.
Setelah beberapa detik berdiri dalam kebingungan, Ainsley akhirnya masuk kembali, menutup dan mengunci pintu di belakangnya. Dengan hati-hati, ia membawa buket itu ke ruang tengah, ujung bibirnya sedikit melengkung saat ia mencium aromanya lebih dalam.
Siapa pun pengirimnya, dia pasti tahu persis bunga favoritnya.
Namun senyumnya menghilang begitu dering ponselnya mendadak menggema di ruangan. Ainsley menoleh. Di atas meja, layar ponselnya menyala—nomor tidak dikenal.
Matanya menyipit. Panggilan pertama, ia abaikan.
Namun, ketika nomor yang sama kembali memanggil untuk kedua kalinya, entah kenapa, ia merasakan desakan untuk menjawabnya.
Perlahan, ia mengangkat telepon itu ke telinganya.
“Halo?”
Hening.
Tak ada jawaban untuk beberapa detik. Sampai akhirnya, suara dalam dan maskulin terdengar di seberang sana.
“Selamat malam, Nona.”
Suara ini.
Ainsley terdiam, jari-jarinya mencengkeram ponsel lebih erat.
Meski tiga tahun telah berlalu, meski ia telah berusaha menghapus segala jejak, tetap saja… ia mengenali suara ini.
Dalam hitungan detik, hatinya bergejolak. Namun, ia menelannya mentah-mentah, memilih untuk tetap terdengar datar. Tak boleh ada celah.
“Apa maumu?” tanyanya, suaranya dingin, penuh pertahanan.
Di seberang sana, terdengar tawa kecil—rendah, dalam, dan begitu akrab di telinganya.
“Jangan galak begitu,” jawab pria itu santai. “Aku tahu kau tersenyum saat mencium aster indah itu.”
Ainsley membeku.
Tatapannya langsung turun ke buket aster putih di tangannya.
Dari mana dia tahu?
Jantungnya berdegup lebih cepat. Secara refleks, ia melayangkan pandangan ke sekeliling apartemen, melangkah kesana-kemari. Rasa waswas menjalari tubuhnya. Apa Galen ada di dalam sini?
“Jangan sok tahu,” balasnya tajam, berusaha menyangkal.
Namun jawaban di seberang sana membuat langkahnya terhenti seketika.
“Jangan mencari begitu,” suara Galen terdengar tenang, nyaris seperti bisikan. “Aku tidak mungkin masuk ke dalam rumah orang tanpa izin, sayang.”
Seketika, udara di sekitarnya terasa lebih dingin.
“Orang gila!” sergah Ainsley.
Tangannya buru-buru bergerak, hendak mematikan panggilan. Namun sebelum ibu jarinya sempat menekan layar, suara pria itu kembali terdengar—dalam, tenang, dan berbahaya.
“Jangan ditutup dulu.”
Ainsley terdiam, rahangnya mengatup rapat.
“Hanya bisa melihatmu dari kejauhan itu menyiksa, kau tahu?”
Ia tak menjawab. Hanya memandang layar ponselnya yang masih menyala, menampilkan durasi panggilan yang sudah berlangsung beberapa menit.
Galen masih di sana. Masih bersamanya.
“Jadi mari kita bertemu lagi, Nona.”
“Aku tidak mau bertemu denganmu!” balas Ainsley tajam, suaranya penuh ketegasan.
Tapi Galen, seperti yang selalu ia lakukan hanya terkekeh ringan, seolah ucapan Ainsley tak lebih dari sekadar angin lalu.
“Tapi aku mau. Bagaimana dong?”
“Urus saja urusanmu sendiri, Galen—“
“Aku akan menemuimu.”
Suaranya tenang, namun sarat dengan kepastian yang mengunci napas Ainsley di tenggorokan.
“Tidak lama lagi. Tunggu ya.”
Sial!
Benar-benar pria gila!
ֶָ֢𐚁๋࣭⭑ֶָ֢
LOSE OR GET YOU
[14 Maret 2025]
-
-
KAMU SEDANG MEMBACA
LOSE OR GET YOU
Romance[SEQUEL FADED DESIRE] [BARNABY SERIES II] Tiga tahun lalu, Ainsley Lysander menandatangani surat perceraian dengan tangan gemetar dan hati yang hancur. Ia pergi tanpa menoleh, meninggalkan cinta yang menghanguskan sekaligus luka yang tak kunjung sem...
