Chapter 8 - A Warm Kiss on a Cold Night

28.9K 1.2K 16
                                        

Welcome!

This story is made with love, so please respect it. Read, enjoy, and support!

Jangan lupa follow Instagram aku ya [@astihrbooks_]

ֶָ֢𐚁๋࣭⭑ֶָ֢

Ferrari merah itu berhenti tepat di depan gedung apartemen Ainsley. Malam masih pekat, udara dingin mulai menusuk, tapi di dalam mobil, ketegangan terasa lebih nyata daripada suhu di luar.

Setelah percakapan panjang yang tak sepenuhnya menyelesaikan apa pun, Galen bersikeras mengantarkan Ainsley pulang.

Dan di sinilah mereka, duduk dalam keheningan yang begitu menyesakkan.

“Terima kasih,” ujar Ainsley akhirnya. Ia meraih pegangan pintu, bersiap untuk keluar, namun detik berikutnya terdengar bunyi klik halus.

Pintu terkunci.

Mata Ainsley berkilat tajam saat ia menoleh, menatap Galen dengan ekspresi tak percaya. “Galen, seriously?”

Pria itu hanya menatapnya tenang, jari-jarinya masih berada di tombol pengunci. “Aku ingin menanyakan sesuatu padamu.”

Ainsley mendesah panjang, sebelum akhirnya kembali menyandarkan tubuhnya pada kursi, menatap lurus ke depan.

“Apa?”

Galen menoleh, matanya menatap Ainsley dengan sorot yang sulit diartikan. “Selama tiga tahun ini... pernahkah sekali saja kau melupakanku?”

Ainsley mengerjap, mendadak terpaku.

“Sumpah demi Tuhan,” lanjut Galen, suaranya terdengar lebih dalam, lebih berat. “Selama tiga tahun terakhir, tak ada satu hari pun aku tidak memikirkanmu. Bahkan saat aku tidur, aku tetap mengingatmu.”

Jantung Ainsley berdegup keras. Ia ingin tertawa, ingin mengejek, ingin mengatakan bahwa semua itu omong kosong. Tapi kenyataannya?

Ia pun sama seperti Galen.

“Ainsley...”

“Sudahlah, lupakan.” Suara Ainsley terdengar datar, tapi ada getaran halus yang tak bisa ia sembunyikan. “Itu hanya masa lalu. Abaikan saja.”

Galen mendengus pelan, ekspresinya berubah tajam. “Bagaimana bisa?” suaranya sedikit menyentak. “Bagaimana bisa aku mengabaikannya, Ainsley? Itu semua di luar kendaliku. Itu semua... bukan aku yang menginginkannya.”

Ainsley mengalihkan pandangan, menolak terperangkap lebih jauh dalam percakapan yang semakin berbahaya ini.

“Buka pintunya.”

“Ainsley—”

“Buka pintunya, Galen!”

Hening.

Galen menghela napas panjang, frustrasi yang ia pendam sejak tadi kini terasa semakin menyesakkan dadanya. Jarinya sudah berada di atas tombol pengunci, siap membebaskan Ainsley kapan saja.

Namun, entah setan apa yang merasuki pikirannya.

Dalam satu gerakan cepat, ia menarik Ainsley, mendekap tubuh wanita itu dan dalam sekejap mendudukkannya di atas pangkuannya.

“Galen!” pekik Ainsley, matanya membelalak karena terkejut.

Namun, pria itu tetap diam.

Kini, mereka kembali berhadapan—begitu dekat hingga Ainsley bisa merasakan hembusan napas Galen menyapu kulitnya.

LOSE OR GET YOU Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang