Chapter 39 - Between Giggles and Embraces

13.7K 826 24
                                        

Welcome!

This story is made with love, so please respect it. Read, enjoy, and support!

Jangan lupa follow Instagram aku ya [@astihrbooks_]

ֶָ֢𐚁๋࣭⭑ֶָ

Enam bulan telah berlalu sejak hari paling mendebarkan dalam hidup mereka. Kini, bayi tampan bernama Rizkiel tumbuh sehat dan menggemaskan—senyum lebarnya, pipi bulatnya, dan suara cekikikan kecilnya bisa meruntuhkan amarah siapa pun. Kulitnya putih bersih seperti Ainsley, matanya tajam menyerupai Galen, namun ada satu hal yang selalu menjadi bahan perdebatan kecil di rumah itu.

“Lihat ini, Ainsley. Lihat baik-baik,” ucap Galen sambil mengangkat Rizkiel ke arah cahaya matahari yang masuk dari jendela dapur. “Mata hijau! Sama persis denganmu!”

Ainsley, yang sedang memanggang kue bersama salah satu pelayan rumah, hanya melirik singkat sambil tetap mengaduk adonan. Sudah berkali-kali dibahas, dan setiap kali, hasilnya sama: Galen masih sulit menerima bahwa kini orang-orang mulai bilang Rizkiel lebih mirip sang ibu.

“Matanya benar-benar hijau kalau kena cahaya,” tambah Galen, tak menyerah. “Tapi kalau malam, kayak ada semburat abu-abu. Aneh ya? Tapi tetap… hijau. Seperti matamu, Ainsley.”

Ainsley menghela napas panjang, lalu berdiri dengan tangan bertolak pinggang, memandang suaminya dengan ekspresi sebal yang nyaris lucu.

“Dan kalaupun iya, kenapa sih kau ribut sekali soal itu? Dia anakku juga, Galen. Bukan cuma kau yang menyumbang gen!”

Galen meringis, tapi masih saja ngotot. “Waktu baru lahir, dia jelas banget mirip aku. Sekarang semua orang bilang dia mirip dirimu. Bahkan bibi Rhea bilang dia bisa jadi kembaranmu kalau kau lahir lagi jadi bayi!”

“Oh Tuhan…” Ainsley menutup wajah dengan tangan. “Kau cemburu dengan bayi kita sendiri?”

“Bukan cemburu! Aku hanya… aku hanya ingin dia tetap mirip denganku,” bela Galen dramatis, lalu mencium pipi Rizkiel yang menguap manis di pelukannya. “Lihat, dia bahkan merespons kalau aku bicara. Dia mengerti perasaanku.”

Ainsley mendekat, menatap putranya di dalam gendongan Galen dengan senyum geli. “Maaf ya, Nak. Ayahmu sepertinya krisis identitas.”

Galen berdecak pelan. “Kau jahat.”

“Tapi tetap mencintaiku,” goda Ainsley, mencium pipi gembul putranya sekilas sebelum kembali pada kuenya.

Dan Galen? Ia hanya bisa menghela napas, menatap dua cinta sejatinya—wanita yang membuatnya menjadi manusia utuh dan anak kecil yang kini mengisi ulang seluruh jiwanya.

ֶָ֢𐚁๋࣭⭑ֶָ

Malam itu, kamar mereka dipenuhi suara tawa kecil yang renyah. Di atas ranjang besar, Galen tampak asyik berguling bersama Rizkiel—membuat wajah-wajah lucu, pura-pura jadi monster, bahkan menyanyikan lagu anak-anak dengan nada yang entah darimana ia pelajari. Si kecil terkikik-kikik sambil memegangi baju ayahnya, seolah dunia tak ada yang lebih menyenangkan selain bermain bersama Galen Barnaby.

Siapa yang menyangka? Pria dengan reputasi dingin dan serius itu kini rela bertingkah bodoh hanya untuk membuat putra kecilnya tertawa.

Dari meja rias, Ainsley memperhatikan mereka melalui cermin sambil menyisir rambutnya pelan. Senyum geli sempat terbit di wajahnya, sampai…

“Sayang,” panggil Galen tiba-tiba. “Menurutmu, aku harus ganti popok Rizkiel sekarang?”

Ainsley berhenti menyisir. “Aku baru saja menggantinya lima menit lalu,” jawabnya tenang.

LOSE OR GET YOU Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang