Bab 15

663 102 29
                                        

KATH

"Kau punya satu misi. Tarik pelatuknya."

"TIDAK."

"Mommy?"

Aku membuka mataku dengan jantung yang berdebar kencang. Liam bertengger di atasku, tangan kecilnya menarik gaun tidurku.

Tunggu. Baju tidur? Bukankah aku tertidur telanjang? Kapan aku berpakaian?

"Mommy?" panggil Liam lagi, dagunya yang mungil bergetar.

"Hai, sayang. Selamat pagi."

"Pagi," dia mendengus, menyeka matanya dengan punggung tangan.

Aku pun ikut mengusap air matanya dengan ibu jariku. "Kenapa kau menangis?"

"Karena Mommy tidak ada di sampingku saat aku bangun. Kupikir Mommy sudah pergi lagi."

"Sudah Mommy bilang, Mommy tidak akan pergi. Kau tidak percaya pada Mommy, ya?"

Matanya yang mirip dengan mata Freen tampak kabur karena air mata. "Tapi Mommy selalu menghilang."

Aku selalu menghilang? Maksudku Becky, selalu menghilang? Setelah berfikir dan aku sedikit mengenal sikap Freen, aku tahu alasannya. Freen bukan tipe orang yang mau tinggal bersama siapa pun dengan sukarela.

Dia adalah jelmaan iblis. Seorang bajingan yang siap menyapu bersih siapa pun yang menghalangi jalannya.

Namun, Liam adalah putranya. Becky seharusnya tidak meninggalkannya dengan orang seperti Freen. Tidak satu pun dari mereka berdua yang layak disebut orang tua Liam.

Aku melembutkan suaraku dan tersenyum padanya. "Mommy tidak akan melakukannya lagi malaikat kecilku."

"Benarkah?"

"Benar. Jadi, berhentilah menangis." Aku mengusap pipinya dengan ujung jariku.

"Mommy bilang Mommy akan tidur denganku."

"Daddymu punya rencana lain. Kau harus bicara padanya." Aku harus berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengatakan bahwa Daddymu itu menyebalkan.

Aku menggeliat hingga duduk membuat rasa sakit menjalar ke seluruh pantat dan paha bagian dalamku. Aku meringis, memegang tiang ranjang untuk menjaga keseimbangan.

Aku merasakan sakit yang belum pernah kurasakan sebelumnya, dia bahkan tidak meniduriku, bagaimana jika dia benar-benar meniduriku? Kurasa aku akan benar-benar mati.

Aku bergidik ngeri saat mengingat Freen yang tak kenal ampun merenggut kenikmatan bejat jarinya dari tubuhku.

Tidak peduli seberapa keras aku menolak, seberapa keras aku ingin membencinya. Dia menundukkanku sesuai keinginannya sampai aku benar-benar menginginkannya. Aku menginginkannya seperti aku tidak pernah menginginkan apa pun.

Namun kini aku berharap dapat membakar kenangan semalam dan segala hal yang menyertainya dari ingatanku.

"Apakah Mommy terluka?"

Aku tersenyum. "Sedikit."

"Aku akan mencium Mommy agar Mommy merasa lebih baik."

Aku tertawa, lalu menyodorkan pipiku padanya. "Silakan."

Dia menciumku, tangan mungilnya melingkari leherku. Aku tidak kuasa menahan keinginan untuk memeluknya, jadi aku mengangkatnya dan mendudukkannya di pangkuanku, mengabaikan rasa sakit yang menusuk di pantatku.

"Apakah kau suka berpelukan, Liam?"

"Apa berpelukan itu?"

Oh, bayi malang ini punya orangtua yang mengerikan. Aku menariknya ke bawah selimut dan memeluknya erat, membelai rambutnya agar tidak menutupi matanya. "Ini namanya berpelukan."

DoppelgängerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang