FREEN
Suara gemericik bergema di udara, seolah-olah seseorang tersedak darahnya sendiri.
Atau muntah.
Mataku terbuka lebar. Aku langsung waspada, jantungku berdetak kencang saat pemandangan itu muncul di hadapanku.
Becky menggeliat dalam tidurnya, kakinya menendang-nendang di udara, tubuhnya berat bagaikan batu yang dilempar ke dasar lautan.
Kedua tangannya terkepal begitu erat hingga ada luka di telapak tangannya akibat kukunya, menimbulkan tetesan darah.
Namun, bukan itu yang membangunkanku. Melainkan suaranya.
Suara gemericik.
Dia tersedak air liurnya sendiri.
Dua garis air liur mengalir turun ke dagu dan lehernya, busa dengan cepat terbentuk di mulutnya.
"Becky!"
Dia tidak menunjukkan tanda-tanda mendengarku, hanya terus meronta-ronta, menggeliat. Berdeguk.
Aku memasukkan dua jari ke dalam mulutnya, membukanya lebar-lebar untuk mencoba membantunya bernapas.
Rasanya seperti dia sedang menyumbat trakeanya sendiri dengan alat penyumbat mulut khayalan.
"Becky! Bangun!" Aku meletakkan tanganku di bawah kepalanya, mengangkatnya dengan hati-hati. Dia menarik seprai dengan tangannya yang terkepal, tubuhnya masih kaku seperti papan.
Kepalanya bergerak ke samping, lalu berguling ke belakang, jika dia sendirian lehernya pasti akan patah. Aku menopang tengkuknya sambil terus memeriksa mulutnya dengan tanganku yang lain.
Bibirnya membiru dan wajahnya memerah. Dia tidak bernapas, sudah tidak bernapas setidaknya selama semenit.
"Becky!" Aku mengguncangnya, tapi itu tidak memberikan hasil apa pun.
Dia hilang ke tempat yang tidak bisa ku jangkau.
Tidak ada yang bisa membawanya keluar.
Kecuali…
"Kath," panggilku hati-hati, dan dia menarik napas dalam-dalam, terengah-engah lalu batuk saat udara masuk ke paru-parunya. Aku membuka mulutnya agar dia bisa bernapas dengan benar.
Saat aku melihatnya menghirup oksigen ke paru-parunya, membiarkan kehidupan kembali masuk, aku seharusnya merasa lega, tetapi aku justru merasakan seolah kawat berduri melilit dadaku, menusuk kulitku inci demi inci yang menyakitkan.
Matanya perlahan terbuka, tetapi pandangannya masih kosong, seolah dia tidak tahu siapa atau di mana dia berada.
Aku menahan napas saat detik demi detik berlalu dan dia tetap seperti itu, terperangkap dalam trans.
"Kath?"
Dia berkedip sekali, dua kali, sebelum tatapannya bertemu dengan tatapanku. Air mata dengan cepat terkumpul di matanya. Aku menyekanya dengan ibu jariku saat dia gemetar tak terkendali dalam pelukanku.
Seolah tersadar dari lamunan, dia berdiri tegak, berlutut di depanku diatas tempat tidur. Ekspresinya menjadi panik saat dia mencengkeram kemejaku, menggerakkan tangannya ke atas, lalu memeriksa sisi tubuhku, dadaku, bahkan punggungku.
Dia menyentuhku di mana-mana, merasakan, memeriksa, sama sekali tidak menyadari betapa kerasnya aku dalam rentang waktu singkat sentuhannya.
Aku sudah ngilu sejak dia pertama kali masuk ke kamar tidur ini, tapi aku belum bisa menidurinya. Tidak saat dia mengalami mimpi buruk dan membangun tembok pertahanannya.
"Kau tidak tertembak," bisiknya.
"Apakah aku terlihat seperti itu?" Aku berusaha menjaga suaraku tetap tenang, meskipun sesuatu bergemuruh didadaku saat dia terbangun karena aku memanggilnya Kath, bukan Becky.
"Tidak. Tapi rasanya begitu nyata…" Dia memegang pipiku kemudian membeku saat merasakan rahangku menegang di bawah cengkeramannya, lalu dengan cepat dia menurunkan tangannya ke samping.
"Mimpi buruk lagi?"
Dia mengangguk.
Ini bukan pertama kalinya aku harus membangunkannya karena mimpi buruk. Sudah terjadi dua kali dalam seminggu terakhir, tetapi dia tidak benar-benar membuka matanya ataupun berbicara. Dia hanya tertidur lagi, jadi aku ragu dia mengingatnya.
Suara berdeguk dan tersedak yang dibuatnya bagaikan neraka buatanku sendiri. Kadang-kadang, aku mendengarnya bahkan saat aku terjaga dan aku harus memeriksa kamera kalau-kalau itu benar-benar terjadi.
"Becky ada di sini," katanya pelan. "Dia ingin membunuhku tapi kemudian... kemudian..."
Aku menyentuh lengannya dengan lembut. "Kau tidak perlu menceritakannya."
Dia menatapku dengan mata yang tampak kosong, seolah-olah dia tidak tahu siapa yang sedang dia lihat dan entah bagaimana dia masih terperangkap dalam mimpi buruk itu.
"Kenapa kau membawaku ke sini, Freen?" bisiknya, suaranya terdengar sedih.
"Kau tahu alasannya."
"Karena aku mirip Becky?"
Aku mengangguk.
"Aku bukan dia. Semakin kau membandingkanku dengannya, semakin aku merasa diriku terhapus. Aku tidak ingin dilupakan."
Aku meraih lengannya dan mencoba membaringkannya lagi. "Sekarang tidurlah."
"Tidak." Dia melepaskan tangannya. "Aku tidak mau tidur."
"Lalu apa yang kau inginkan?"
"Kath. Sekali ini saja, panggil aku Kath. Kumohon."
"TIDAK."
"Tolong..." Air mata mengalir lagi di pipinya. "Tolong jangan hapus aku. Tolong, Freen."
"Jangan memohon padaku untuk melakukan hal seperti itu. Kau adalah Becky. Biasakanlah dirimu."
Isak tangis mulai terdengar, bibir bawahnya terluka karena terlalu keras dia menggigitnya.
Itu harus sembuh sebelum dia terlihat di depan umum. Dia harus keluar dari bayangan apapun yang dia pikirkan, meskipun aku tahu tidak akan mudah membuatnya patuh.
Kali ini, dia tidak menolak saat aku menidurkannya di balik selimut. Dia dengan senang hati menutup matanya dan berbisik, "Andai saja aku tidak pernah bertemu denganmu."
Bibirku menyentuh keningnya. "Aku akan menemuimu lagi dan lagi jika memang harus."
