KATH
Tatapan mataku yang liar beralih dari matanya yang kosong ke ikat pinggang yang melingkari tangannya.
Dia pasti bercanda, tapi mana mungkin?
Freen bilang dia bukan tipe orang yang suka bercanda, dan aku percaya padanya.
Aku menggeliat seharian karena merasakan bekas telapak tangannya di pantatku, jadi aku yakin dia akan mencambukku dengan ikat pinggangnya sekarang juga.
"Tolong, jangan…" Aku tidak ingin memohon, tapi begitu aku mengucapkan kata-kata itu, aku tahu itu hanya membuang-buang energiku. Aku tahu bahwa seseorang seperti dia tidak akan gentar oleh permohonan atau air mata. Kalau pun ada, dia akan senang karenanya. Sama seperti dia senang menghukumku.
Jadi ketika dia mengucapkan kata-kata berikutnya, aku tersentak kaget. "Apa yang akan kau lakukan sebagai gantinya?"
"Apa saja," jawabku singkat.
"Aku akan menidurimu."
"Baiklah…" Aku ragu sejenak saat mengingat ukurannya, aku tahu itu akan sangat menyakitkan.
Namun, menyetujuinya adalah pilihan yang lebih baik. Bercinta atau dicambuk. Ya, tidak perlu seorang jenius untuk memutuskan.
"Dan kau tidak akan menggigit bibirmu. Kau tidak akan menahan eranganmu saat vaginamu mencekik penisku."
"Tidak," bentakku.
Dia memiringkan kepalanya ke samping seolah-olah aku adalah semacam masalah dan dia sedang mempertimbangkan apakah dia ingin menyelesaikannya atau memberantasnya untuk selamanya. "Tidak?"
"Kau hanya boleh meniduriku tanpa syarat apapun." Keheninganku adalah satu-satunya pertahananku terhadapnya, perisai terakhirku, jika aku membiarkannya mengambil itu juga, maka aku benar-benar akan hancur. Identitasku akan terhapus dan aku hanya akan menjadi versi istrinya yang sudah pudar.
"Kalau begitu, aku menolaknya."
"A-apa?"
"Kau akan menerima hukumanmu."
Aku melotot padanya, tanganku terasa sakit karena terlalu erat menggenggamnya. Kuku-kukuku menancap begitu kuat di telapak tangan, tetapi aku heran kenapa aku tidak berdarah?
Sambil menghirup napas dalam-dalam, aku menundukkan tubuhku hingga menyentuh lutut.
Ketika aku melakukannya, aku melihat kekecewaan melintas di wajahnya.
Persetan dengan dia.
Namaku Katherine Raywatt. Aku bukan Becky Sarocha dan aku bukan istri orang gila ini.
Aku melantunkan mantra itu dalam benakku sebagai persiapan untuk apa yang akan terjadi. Mengatakan aku tidak takut adalah sebuah kebohongan, tetapi harga diriku membuatku tetap tegak.
"Sangat disayangkan kau memilih jalan ini." Nada suaranya yang lembut membuatku merinding.
"Kau punya syaratmu dan aku punya syaratku."
"Berpegang pada syarat-syaratmu hanya akan menambah penderitaanmu. Pahamilah ini, Becky. Aku tidak suka diganggu atau ditentang. Semakin keras kau mendesakku, semakin kejam aku jadinya. Semakin kau menantangku, semakin keras reaksiku. Kau tidak ingin aku bereaksi, dan kau tentu tidak ingin melihat sisi tidak manusiawiku. Aku telah menunjukkan belas kasihan kepadamu, jadi bersyukurlah atas hal itu."
"Kasihan?" Aku bermaksud mengejek, tetapi bibirku bergetar karena serbuan kata-katanya. "Di dunia mana tindakanmu merupakan bentuk belas kasihan?"
"Percayalah, aku memang begitu."
