KATH
Saat aku butuh lebih dari sedetik untuk naik ke meja, Freen melingkarkan tangannya di pinggangku, mengangkatku, lalu mendudukkanku di atasnya.
Sekarang aku berhadapan langsung dengan tatapannya yang tak kenal ampun. Aku ingin berteriak dan membentak, memukul dan mencakar. Aku bisa merasakan amarah yang berkumpul didadaku, tetapi aku menahannya sambil menatap dinding di belakangnya.
"Angkat kakimu dan buka," perintahnya.
Aku melakukan apa yang dia katakan, dengan tumitku yang menempel pada tepi meja. Aku menunggu mati rasa itu menguasaiku, karena hanya itulah yang kubutuhkan saat ini.
Jika aku mati rasa, aku tidak akan merasakan ujung tajam menusuk hatiku. Jika aku mati rasa, aku tidak akan membenci wanita yang sudah meninggal karena dia hidup dalam diriku. Karena dia masih hidup untuk Freen saat aku tidak ada.
"Lihat aku."
Tidak, tatapanku tetap terpaku pada dinding putih di belakangnya.
"Becky."
Aku bukan Becky. Dan berhenti memanggilku Becky. Tapi aku hanya bisa mengatakan itu didalam hati. Karena Freen tidak akan pernah mendengarkan permintaanku.
"Sembilan."
Aku tetap diam. Dia bisa melakukan apa pun yang dia mau dengan tubuhku. Dia sudah menganggap tubuhku milik Becky, bukan milikku.
"Sepuluh." Dia menatap jam tangannya sebentar, lalu berbicara lagi. "Hitungannya akan bertambah setiap detik jika kau tidak melihatku."
Pandanganku beralih padanya, aku harap tatapannya sama matinya dengan yang kurasakan. Aku harap dia melihat kekejaman atas apa yang dilakukannya padaku, atas cara dia menghapus identitasku. Namun, apakah dia akan peduli? Apakah dia akan meluangkan sedetik saja waktunya yang berharga untuk memikirkan apa yang dirasakan wanita yang dibawanya dari jalanan ini?
Tentu saja tidak.
Freen mendekatkan gelas berisi cognac ke bibirnya, seakan mengejekku karena aku tidak bisa meminumnya. Aku harus bisa merebut gelas itu dari tangannya, jika aku mabuk dia akan melihat wanita lain dalam diriku.
Seolah menyadari konsentrasiku pada minumannya, Freen berhenti sejenak sebelum berdiri. "Tetaplah di situ dan angkat gaunmu."
Aku melakukan apa yang dia katakan, sambil memperhatikannya menuju minibar, mengisi gelasnya dengan lebih banyak es dan alkohol.
Saat dia kembali, aku sedang memegang gaun itu di perutku, duduk di atas meja, setengah telanjang, namun celana dalam berenda masih menutupi vaginaku. Dia duduk kembali ke kursinya sambil menyesap cognac. Saat dia menjauhkan bibirnya dari gelas, dia membungkuk dan menempelkan bibirnya yang dingin ke paha bagian dalamku.
Aku terkesiap, menguatkan diri dengan satu tangan. Dia mencium pahaku, mengusapkan es dari mulutnya ke kulitku yang panas. Es mencair dalam hitungan detik, meninggalkan jejak dingin yang menusuk. Freen mengigit sepotong lagi, lalu membuat jejak baru, melanjutkan dari tempat yang pertama berhenti.
Aku sejenak kehilangan pandangan dari cognac itu, semua perhatianku terpusat pada tempat es yang menyentuh kulitku, pada bibirnya yang menyentuh pahaku, menciptakan gesekan yang tak tertahankan.
Kepalaku menengadah ke belakang, aku menggigit bibir bawahku sambil berusaha menutup kakiku.
"Biarkan tetap terbuka," perintahnya. "Berapa sekarang?"
"A-apa?"
"Kau lupa cara menghitung, Lenochka?"
Oh, jadi ini hukumannya yang gila hari ini? Aku lebih suka rasa sakit yang membakar, setidaknya aku bisa menganggapnya sebagai psikopat mesum yang seharusnya kubenci.
