Bab 29

664 113 5
                                        

FREEN

Ketika aku melangkahkan kaki ke kamar tidur, hal pertama yang aku cium adalah…bunga mawar.

Ada beberapa lilin menyala di meja samping tempat tidur, cahayanya berkedip-kedip di ruangan yang gelap.

Aku berhenti sejenak di depan pintu masuk sambil melepas jasku. Hari ini sangat membosankan dan pertemuan dengan Jiyong hanya tentang saling melempar sindiran. Meskipun aku biasanya tidak peduli, ancaman nyata yang ditunjukkan Arthur dan Jiyong kepadaku membuatku waspada.

Untungnya, kamera di rumah Jiyong tidak menangkap apa pun tentang penculikan malam itu. Aku melihatnya sendiri, jika bagian itu benar-benar terputus dari rekaman. Hal terakhir yang ditunjukkan hanyalah Yoshi yang mengantar Becky ke dalam mobilku sebelum dia meraih bahunya dan menariknya masuk bersamanya.

Aku juga melihat rekaman dari kamera yang berlawanan, lalu berhenti dan memperbesar gambar untuk melihat wajah para penculik itu, tetapi mereka berdua mengenakan topeng. Si pengemudi menaikan tudung jaketnya, dia juga tidak pernah mengangkat kepalanya cukup tinggi agar aku bisa melihat wajahnya.

Yang satunya tidak begitu hati-hati, dan itu masuk akal jika dialah yang kami temukan di dasar tebing. Dia adalah seorang penembak yang berubah menjadi pembunuh. Seorang tentara bayaran sejati, tanpa aliansi yang sebenarnya, dan seperti kebanyakan penembak profesional lainnya, mustahil untuk melacak bagaimana dia bisa berhubungan dengan kliennya.

Tapi aku lebih tertarik pada bajingan yang menyembunyikan wajahnya sepanjang waktu, karena dia tampak seperti memegang kendali atas penculikan ini. Aku melihat semua rekaman dari tempat parkir hari itu, bahkan membawa rekaman selama seminggu terakhir. Dia tidak muncul di kamera. Sama sekali tidak. Yang berarti dia tahu semua tentang mereka dan memastikan untuk masuk ke titik lemah penjagaan.

Dia juga tahu cara menembak Yoshi dengan cara yang tidak akan tertangkap kamera, lalu menggunakan jalan yang tidak diawasi.

Ada bagian yang sama sekali tidak masuk akal. Kenapa dia melepaskan Becky? Jika dia bisa mengancamku lebih parah dengan taruhan nyawa Becky.

Kalau saja Yoshi bukan bagian dari ini, aku yakin sembilan puluh sembilan persen jika bajingan itu akan membunuh pengawalku.

Kenapa dia malah melepaskan mereka berdua?

Kecuali jika tujuannya bukanlah untuk menangkap keduanya.

Yoshi mengatakan bahwa dia tidak sadarkan diri selama perjalanan dan tidak dapat mengingat banyak hal. Dia berbohong. Aku dapat mengetahui kapan Yoshi berbohong. Namun aku masih tidak dapat memahami alasannya, jadi aku katakan kepadanya bahwa hidupnya bergantung pada apakah dia mengingat atau tidak apa yang terjadi didalam mobil sialan itu.

Berbeda dengan Nick yang selalu bersikap lemah lembut saat berhadapan dengan Yoshi, bahkan dia pun tertipu oleh penampilannya. Dia hanya melihat rasa sakitnya, tetapi aku bisa melihat lebih dari itu.

Aku dapat melihat ikatan yang terbentuk antara dia dan Becky hanya dengan memperhatikannya—meskipun aku membencinya. Aku juga bisa melihat bagaimana kesetiaannya kepadaku tidak lagi mutlak.

Aku menutup pintu di belakangku. Ketika Ogla dan Nick mengatakan bahwa Becky menentang perintahku untuk menjauh dari Yoshi, aku datang ke sini untuk menghukumnya, tetapi itu sebelum aku melihat pemandangan ini.

Becky duduk di depan meja riasnya, menyisir rambutnya dengan perlahan. Dia mengenakan gaun tidur yang sedikit transparan.

Tali gaunnya jatuh dari lekuk bahunya yang mulus tapi dia tidak mau repot-repot mengangkatnya. Perhatiannya tetap tertuju pada cermin saat dia perlahan menyisir helaian rambut hitamnya yang berkilau.

DoppelgängerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang