KATH
Suara berderit membuatku terbangun.
Aku memeluk Liam dengan erat, syukurlah dia tidak bergerak.
Aku mengamati sekelilingku untuk mencari suara itu. Didalam ruangan ini hanya ada aku dan Liam, tetapi suara berderit itu terus berlanjut, kali ini lebih keras, semakin keras dan terdengar mengerikan sebelum terdengar alunan musik klasik dari luar.
Pandanganku beralih pada Liam yang masih tertidur lelap, tangannya yang mungil melingkari pinggangku. Dia tidak ingin melepaskanku, takut hantu itu akan membawaku pergi.
Tidak yakin apa maksudnya, tetapi anak-anak seusianya memiliki imajinasi yang liar, atau mereka bisa melihat sesuatu yang tidak dapat dilihat mata orang dewasa. Liam sangat cerdas dan cepat menangkap hal-hal lain. Setiap kali aku mengajarinya sesuatu, otaknya menyerapnya dengan cepat, tak lama kemudian, dia meniruku.
Rasa pusing yang luar biasa menguasai diriku setiap kali dia memanggilku Mommy. Aku jelas tidak pantas dipanggil seperti itu, tetapi itu adalah hal terbaik yang pernah terjadi padaku sejak aku menggantikan posisi Becky. Dengan keterikatan Liam padaku, aku bisa berpura-pura bahwa keberadaanku sebenarnya memiliki tujuan.
Musik klasik itu terdengar lebih keras, hampir seperti klimaks sebuah adegan. Siapa sebenarnya yang memutar musik sangat kencang di tengah malam saat anak sedang tidur?
Dengan perlahan aku menyingkirkan jari-jari Liam dari pinggangku. Aku menarik selimut untuk menutupi tubuh mungilnya, lalu perlahan-lahan aku menuruni tempat tidur. Berjalan berjingkat-jingkat untuk menghindari menginjak mainan yang berserakan di lantai.
Aku membuka pintu pelan-pelan, menutupnya kembali saat aku sudah di luar. Musiknya semakin memekakkan telinga, seperti aku sedang berada di gedung opera. Perasaan aneh mencengkeram tengkukku seperti tali boneka marionette saat aku menuruni tangga. Aku berpegangan pada besi tangga untuk menjaga keseimbangan, karena rasanya siapa pun yang memegang tali itu akan mendorongku hingga mati.
Musik itu berasal dari ruang tamu yang Ogla tujukan pagi tadi. Aku berhenti di depan pintu masuk saat mengetahui alasan di balik musik itu.
Seorang wanita.
Dia berdiri di tengah ruangan, mengenakan gaun pengantin yang panjangnya sampai di bawah lutut. Gaun itu sama persis dengan yang aku lihat di poster Giselle. Sepatu balet menutupi kakinya dengan pita-pita yang melilit betisnya.
Dia berdiri di atas pointe, punggungnya melengkung pada sudut yang indah. Sebuah cadar menutupi wajahnya, tapi aku tidak dapat melihatnya karena dia berpaling dariku.
Siapa dia? Dan kenapa dia menari di tengah ruang tamu Freen? Jangan bilang dia selingkuhannya atau semacamnya.
Dia berputar mengikuti alunan musik dengan satu kaki, kaki lainnya terangkat ke udara. Pasti sakit. Berdiri tegak selama itu sungguh menyiksa dan membuat otot menjadi tegang, itulah kenapa gerakan ini seharusnya dilakukan dalam interval pendek.
Aku mencoba mendekatinya agar aku bisa melihat wajahnya atau menghentikannya, tetapi dia melompat menjauh—melompat, berputar, dan melengkungkan punggungnya. Kemudian dia berlari dari satu sisi ruangan ke sisi lainnya, memegangi kepalanya.
Kakiku membeku di tempat saat aku menyaksikan kegilaannya terungkap dengan gerakan tariannya.
Itu Giselle.
Musiknya mencapai klimaks saat dia jatuh ke lantai sebelum melompat ke atas pointe lagi, bergoyang dari sisi ke sisi.
Bercak-bercak darah menetes di kakinya, membasahi sepatu balerina yang dia pakai.
