KATH
Aku tidak bisa melakukan ini lagi.
Aku tidak bisa.
Hari ini saja aku terbangun dengan keringat dan air mata yang masih mengalir. Seluruh tubuhku bergetar hebat hingga aku membuat Liam takut ketika dia masuk ke kamarku.
Kadang-kadang, aku memang tidak ingat mimpi burukku, tetapi aku ingat mimpi yang ini. Aku ingat bagaimana Freen meniduriku dengan lengan dan kakiku melingkarinya saat Becky menerobos masuk sambil membawa pisau. Namun kali ini tidak ada bayangan yang menyelamatkanku darinya saat dia menggorok leherku.
Freen tidak menatapku saat aku memegangi leherku yang berdarah, dia hanya menarik diri dariku lalu menghampirinya.
Dia memeluk Becky dan mencium pelipisnya.
"Aku merindukanmu, Lenochka," bisik Freen kepadanya sambil memegang pisau berlumuran darah bekas menggorok leherku.
"Akhirnya kau pulang," bisik Freen lagi di sela-sela kecupan pipi, bibir, dan lehernya. Mengabaikanku yang berbaring bersimbah darah, berdeguk, meronta, dan menangis.
Tolong! Aku berteriak dalam hati. Freen, tolong aku!
Dia tidak melakukannya.
Semua perhatiannya tertuju pada Becky, pada wajahnya, pipinya, lehernya, bibirnya. Namun, Becky menatapku. Matanya bertemu dengan mataku yang sama persis dengannya, dia menyeringai sambil memeluk Freen dan bergumam, "Milikku."
Saat itulah aku mati.
Namun kemudian aku terdorong ke dalam mimpi buruk lainnya, di mana seorang pria melingkarkan tangannya di tanganku dan memaksaku untuk menarik pelatuk. Darah membasahi kulitku saat aku menjerit sekeras-kerasnya.
Lalu, semuanya berakhir.
Liam-lah yang mencoba membangunkanku, dia berdiri di samping tempat tidurku sambil memegang salah satu mainan tentaranya. Dia tersentak mundur saat aku tersentak ke posisi duduk.
Dia sekarang berdiri di dekat lemari, wajahnya pucat dengan bibir yang gemetar. "Apakah Mommy hantu?"
Napasku langsung tenang, tapi kekhawatiran lain menguasaiku. Liam tampak takut padaku dan itu lebih menyakitkan daripada yang ingin kuakui.
Aku mengulurkan tangan ke arahnya. "Maafkan Mommy, Liam. Mommy baru saja mengalami mimpi buruk. Tapi itu sudah berakhir."
"Benarkah?" dia tampak tidak yakin, bahkan saat dia menatap uluran tanganku.
"Benar sayang."
"Mommy tidak akan menjadi hantu?"
"Tentu saja tidak, malaikatku"
Dengan hati-hati, Liam melangkah maju dan meletakkan tangan mungilnya di tanganku. Aku tersenyum, dia pun melakukan hal yang sama. "Mommy."
"Ya."
Dia naik ke atas tempat tidur dan melingkarkan lengan kecilnya di tubuhku. "Bisakah kau selalu menjadi Mommyku?"
Keputusasaan dan kejengkelan dari sebelumnya menyumbat tenggorokanku saat aku memikirkan apa yang harus kukatakan kepadanya.
Aku tidak akan tinggal di sini lagi.
Aku tidak peduli jika polisi mengurungku. Aku tidak bisa untuk tetap tinggal di rumah orang yang ingin menghapus keberadaanku.
Sudah seminggu sejak penyerangan itu. Tujuh hari sejak dia pertama kali meniduriku.
Dia melakukannya berulang-ulang sejak saat itu. Kadang dua kali sehari. Kadang sebagai bentuk hukuman. Dan tadi malam itu karena dia tahu bahwa aku menghabiskan sebagian besar hari untuk mengurus Yoshi—fakta yang tidak disukainya.
