Bab 25

743 109 13
                                        

KATH

Aku menarik napas lega ketika dokter mengatakan Yoshi akan selamat. Dia kehilangan banyak darah dan masih tidak sadarkan diri. 

Kata-kata itu menusuk dadaku, dan merampas keseimbangan tubuhku. Aku meraih lengan Freen untuk menguatkan diriku saat kami berdiri di tengah kamar Yoshi yang terletak di wisma tamu, tempat yang tidak pernah diizinkan Freen untuk kumasuki sebelumnya.

Dia terlentang, dadanya diperban, tidak ada lagi darah yang keluar dari tubuhnya. Tapi wajahnya yang tampan kini terlihat pucat pasi, bibirnya pun sedikit membiru.

Nick berjongkok di samping tempat tidur untuk memeriksa suhu tubuh Yoshi seperti yang diarahkan dokter. Aku tidak akan heran jika orang-orang seperti mereka memiliki dokter pribadi, dan lebih memilih merawat pasien tertembak di rumah dari pada membawanya ke rumah sakit. 

Dokter itu kemudian pergi seolah-olah kejadian seperti ini sudah dilihatnya setiap hari.

Mungkin begitu.

"Berapa suhu tubuhnya?" tanyaku pada Nick sembari menatap alat pengukur suhu tubuh di tangannya.

Kamar Yoshi begitu sederhana, dengan tempat tidur di tengah dan lemari di sudut. Satu-satunya cahaya berasal dari lampu di meja nakas, yang menghasilkan bayangan gelap di wajah pucat Yoshi.

"Memang tinggi, tapi tidak mengkhawatirkan." Nick menegakkan tubuhnya, cemberut diwajahnya yang biasa terlihat jelas, kini ada sedikit kewaspadaan. "Aku akan mengawasinya untuk memastikan suhu tubuhnya turun."

Aku melangkah maju. "Aku akan ikut bersamamu."

"Tidak." Freen mencengkeram sikuku dan menarikku kembali. "Kau sudah melakukan bagianmu. Sekarang serahkan saja semuanya pada Nick."

"Apa yang dikatakan bos benar, Nyonya Sarocha. Terima kasih atas semua yang telah anda lakukan. Jika anda tidak menggendongnya atau mencoba menghentikan pendarahannya, dia tidak akan selamat." Nick tersenyum ramah padaku.

"Itu berlebihan Nick."

Tanpa menunggu jawaban apapun yang mungkin ingin Nick katakan, Freen menggendongku meninggalkan wisma tamu. Dia sudah melakukannya sejak tadi karena aku tidak memakai sepatu, dan aku bersyukur karena kakiku tidak bisa lagi menopangku dengan baik.

"Pegang aku, Becky." kata Freen dengan tegas.

"Dia berlumuran darah."

"Apakah aku terlihat peduli?"

Benar! Dia tidak peduli sama sekali. Namun bayangan mimpi buruk saat Freen tertembak menyerangku lagi saat aku melingkarkan tanganku yang berlumuran darah di lehernya.

Seharusnya tidak ada darah di dekatnya.

Begitu kami masuk ke dalam kamar, aku menggeliat agar dia melepaskanku. Di bawah cahaya lampu yang terang, aku bisa melihat dengan jelas warna merah di sarung tanganku, di seluruh mantelku, dan di gaunku.

Freen menurunkanku lalu segera menutup pintu. Ketika dia maju ke arahku, matanya menjadi lebih gelap. Kemeja putihnya ikut berlumuran darah. Ada juga di dahinya. Aku tidak suka melihatnya. Aku tidak ingin darah itu menempel padanya dan aku benci karena akulah penyebabnya.

Seharusnya tidak ada darah yang menempel di tubuhnya.

"Aku... aku mau mandi." Aku menyelinap melewatinya menuju pintu. "Aku akan mandi di kamar lainnya."

Tanganku berada di gagang pintu saat tubuhnya merapat ke tubuhku dari belakang, otot-ototnya yang kuat dan tubuhnya yang tinggi membuat tubuhku yang kecil terlihat lebih kecil. Telapak tangannya menutupi sarung tanganku yang berlumuran darah di atas gagang pintu saat dia berbisik di dekat telingaku, "Menurutmu ke mana kau akan pergi?"

DoppelgängerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang