FREEN
Aku tidak bisa berhenti.
Aku bilang akan melakukannya sekali lagi sambil membaringkannya dalam posisi tengkurap, membuka lebar kedua kakinya dan menusukkannya dari belakang.
Aku bilang aku akan berhenti setelah aku membawanya sekali lagi ke tempat tidur tadi malam.
Aku bilang aku akan berhenti setelah aku membangunkannya, gigiku menggigit lehernya sedangkan jari-jariku menggoda klitorisnya.
Tapi aku adalah si pembohong.
Aku tidak punya keinginan atau rencana untuk berhenti. Semakin aku mencicipi dan menghirup aroma gairahnya yang nyata, semakin aku tergoda untuk melahapnya. Aku selalu menemukan cara untuk merebut satu demi satu orgasme darinya.
Biasanya, aku adalah tipe orang yang tahu kapan waktu yang tepat untuk berhenti. Kau tidak bisa melakukan sesuatu secara berlebihan. Menemukan keseimbangan itu mustahil bagi kebanyakan orang, tetapi tidak bagiku. Aku selalu unggul dalam hal itu.
Aku tidak pernah terlalu peduli, tidak pernah berlebihan, tidak pernah melampaui batas. Tidak pernah kecanduan atau memiliki hal-hal yang tidak dapat aku singkirkan dengan mudah.
Becky adalah pengecualian untuk semua itu.
Dia adalah candu yang tidak kuduga sebelumnya, dan ketika akhirnya aku menyadarinya, dia sudah mengalir dalam darahku.
Dialah yang seharusnya menjadi batas-batas yang tidak boleh dilanggar, tetapi akhirnya akulah yang terjerumus dalam masalah yang rumit itu.
Wanita ini memabukkan. Dia menyelinap di bawah kulitku dan menyuntikkan sihir hitamnya ke tulang-tulangku. Sekarang, dialah alasanku bernapas. Aku merasa seolah jika aku berhenti menyentuhnya, dia akan menghilang lagi.
Aku tidak akan pernah memilikinya lagi.
Doronganku menjadi dalam saat memikirkannya. Aku tidak pernah sekeras tadi malam dan pagi ini. Penisku selalu ingin memilikinya, dan mengajarinya bahwa dia tidak akan pernah pergi ke mana pun—dengan sukarela atau tidak.
Tubuh Becky tersentak, jari-jarinya mencengkeram ikat pinggang yang kuikatkan di pergelangan tangannya dan kukaitkan ke pengait di tiang ranjang. Dia tampak begitu cantik saat berjuang melawan kewarasannya.
Tubuhnya yang mungil terlihat sangat rapuh, hanya membayangkan apa yang terjadi tadi malam sudah terasa menyakitkan. Telapak kakinya terluka, ada pula memar yang terbentuk di bawah matanya. Saat aku menemukannya dalam keadaan menangis, aku bersumpah akan menemukan siapa pun yang menyentuhnya, lalu mematahkan lehernya dengan tanganku yang terkutuk.
Pada saat yang sama, ketika aku melihatnya berjuang untuk menegakkan tubuh Yoshi dan tahu bahwa dia mungkin telah menggendongnya dalam waktu yang lama, aku merasa sangat bangga. Meskipun Yoshi lah yang seharusnya melindunginya.
Wanita mungil yang menyebalkan ini menggendong pria besar di punggungnya seolah-olah hal itu adalah hal yang normal.
Pikiran-pikiran itu malah membuatku semakin berhasrat padanya, semakin ingin mengukir diriku di bawah kulit dan ke dalam darahnya.
Aku memasukkan jari-jariku ke pantatnya sementara tanganku yang lain sedikit mengangkat perutnya. Dengan salah satu lututku yang tertanam kuat di antara pahanya yang terbuka, posisi ini memberiku lebih banyak ruang untuk masuk ke dalam dirinya.
Becky menggigit bantal, meredam suaranya lagi. Dia sudah melakukan itu sejak aku menggendongnya keluar dari kamar mandi tadi malam. Aku melepaskan pantatnya dan membungkuk hingga dadaku menutupi punggungnya.
